Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi hukuman mati (unsplash.com/Shang Zhou)
ilustrasi hukuman mati (unsplash.com/Shang Zhou)

Intinya sih...

  • Keluarga Ming pimpin sindikat penipuan online di Myanmar

  • 11 anggota keluarga Ming langsung dijatuhi hukuman mati

  • Beijing perketat penindakan terhadap penipuan online di Asia Tenggara

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah China mengeksekusi 11 anggota kelompok kriminal keluarga Ming, sebuah sindikat penipuan online yang beroperasi secara mafia di wilayah utara Myanmar. Eksekusi tersebut diumumkan media pemerintah China pada Kamis (29/1/2026).

Keluarga Ming dikenal sebagai salah satu dari empat keluarga kejahatan paling berpengaruh di Myanmar utara. Mereka menjalankan ratusan kompleks penipuan daring, prostitusi, dan produksi narkoba.

Kelompok ini juga dikenal kejam, termasuk membunuh pekerja yang mencoba melarikan diri dari pusat penipuan.

Menurut kantor berita Xinhua, ke-11 orang tersebut dijatuhi hukuman mati pada September lalu setelah terbukti bersalah atas sejumlah kejahatan berat, termasuk pembunuhan, penahanan ilegal, dan penipuan.

Kasus ini kembali menyoroti kerasnya praktik kejahatan lintas negara di Asia Tenggara, serta upaya Beijing untuk memberantas industri penipuan daring yang telah merugikan miliaran dolar dan menelan banyak korban jiwa.

1. Jejak kejahatan keluarga Ming di Myanmar

Keluarga Ming dipimpin oleh Ming Xuechang, tokoh yang lama dikaitkan dengan sebuah kompleks kejahatan bernama Crouching Tiger Villa di wilayah Kokang, daerah otonom di perbatasan Myanmar dan China.

Menurut laporan televisi pemerintah China CCTV, pada puncak operasinya sindikat ini mempekerjakan hingga 10.000 orang untuk melakukan penipuan daring dan aktivitas kriminal lainnya.

Ibu kota Kokang, Laukkaing, dikenal sebagai pusat industri penipuan bernilai miliaran dolar yang berkembang di wilayah Myanmar yang minim penegakan hukum. Banyak pekerja direkrut melalui perdagangan manusia dan dipaksa menipu korban di berbagai negara.

“Industri penipuan ini tumbuh subur di wilayah tanpa hukum, dengan memanfaatkan pekerja yang diperdagangkan,” tulis CCTV dalam laporannya.

2. Langsung dijatuhi vonis hukuman mati

Xinhua melaporkan, dua dari terdakwa sempat mengajukan banding, sehingga kasusnya ditangani Mahkamah Agung Rakyat China. Namun, pengadilan tertinggi tersebut memutuskan untuk menguatkan vonis hukuman mati.

“Para terdakwa terbukti melakukan pelanggaran serius terhadap hukum dan disiplin, termasuk pembunuhan dan penahanan ilegal,” tulis Xinhua.

Di antara mereka yang dieksekusi terdapat Ming Guoping, putra Ming Xuechang, yang juga merupakan pemimpin Pasukan Penjaga Perbatasan Kokang yang berafiliasi dengan junta Myanmar, serta Ming Zhenzhen, cucu perempuan Ming Xuechang.

Sebelum dieksekusi, para terpidana sempat bertemu dengan keluarga dekat mereka.

3. Dampak penipuan online di Asia Tenggara

Beijing mulai memperketat penindakan terhadap kompleks penipuan di Myanmar pada 2023, setelah meningkatnya keluhan keluarga korban dan sorotan media internasional.

Pada November 2023, China mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap anggota keluarga Ming, dengan tuduhan penipuan, pembunuhan, dan perdagangan manusia, serta menawarkan hadiah hingga 70.000 dolar AS bagi informasi penangkapan mereka.

Xinhua menyebutkan sindikat keluarga Ming juga bekerja sama dengan pemimpin sindikat lain, Wu Hongming, yang turut dieksekusi, dalam aksi pembunuhan dan penyiksaan pekerja. Tindakan tersebut menyebabkan sedikitnya 14 warga negara China tewas.

Menanggapi eksekusi tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan komitmen Beijing. “China akan terus mengintensifkan upaya untuk memberantas momok perjudian dan penipuan,” ujarnya.

Editorial Team