Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
CIA Sebut Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei Seorang Gay
potret Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei (commons.wikimedia.org/Mostafa Tehrani)
  • CIA melaporkan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, disebut memiliki orientasi seksual gay, dan Trump membenarkan laporan tersebut di hadapan media.
  • Laporan CIA menyoroti kebijakan keras Iran terhadap komunitas LGBTQ+ yang bisa berujung hukuman mati, memicu kritik tajam dari organisasi HAM seperti Hengaw Organization for Human Rights.
  • Isu ini muncul di tengah konflik berkelanjutan antara Iran dengan AS dan Israel, saat Trump menegaskan ancaman serangan lebih besar jika Iran tidak mengakui kekalahan militernya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) menyebut Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, memiliki orientasi seksual yang melenceng. Dalam laporannya kepada Presiden AS, Donald Trump, CIA menyebut Mojtaba adalah seorang gay.  

Saat ditanya oleh awak media, Trump membenarkan laporan CIA soal Mojtaba yang disebut gay. Bahkan, ia mengatakan semua orang telah mengetahui hal tersebut sejak lama. 

“Ya, mereka (CIA) mengatakan itu. Semua orang juga mengatakan hal yang sama,” jelas Trump dalam wawancara bersama Fox News pada Kamis (26/3/2026), seperti dikutip Jerusalem Post.

1. Kaum LGBTQ+ di Iran bisa dihukum mati

ilustrasi eksekusi mati (unsplash.com/Johannes Blenke)

Dalam laporannya, CIA juga menyoroti kebijakan anti-LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, dan Queer) plus yang ada di Iran. Mereka menyebut kebijakan tersebut bertentangan dengan Mojtaba jika dirinya benar-benar seorang gay. 

Iran sendiri punya kebijakan yang terkenal keras soal kaum LGBTQ+, di mana mereka bisa menerima hukuman mati. Selain itu, kaum LGBTQ+ di Iran juga akan menerima sanksi sosial dari masyarakat berupa diskriminasi dan penganiayaan. Sebab, mereka dianggap menjadi sumber aib keluarga dan negara. Terlebih, Iran juga merupakan negara Islam yang sangat menentang keberadaan kaum LGBTQ+.

Namun, kebijakan Iran terhadap LGBTQ+ tadi mendapat kritik tajam dari organisasi HAM. Salah satunya dari Hengaw Organization for Human Rights. Sebab, kebijakan tersebut dinilai terlalu radikal. Bahkan, dalam sebuah laporan yang dirilis pada Mei 2025, organisasi tersebut menyebut Iran telah melakukan Gender Apartheid akibat kebijakan yang keras terhadap LGBTQ plus+. 

2. Komunitas LGBTQ+ di Iran merasa didiskriminasi oleh negara

potret bendera LGBTQ+ (pexels.com/Gotta Be Worth It)

Kebijakan terkait LGBTQ+ ini juga menuai kritik dari beberapa aktivis komunitas LGBTQ+ yang ada di Iran. Mereka merasa didiskriminasi oleh negara karena kebijakan tersebut. Selain itu, kaumLGBTQ+ di Iran juga merasa negara kerap memperlakukan mereka seperti seorang pelaku kriminal. Padahal, mereka tidak pernah melakukan tindakan kriminal apa pun. 

“Mereka mengolok-olok saya, mengejek saya, dan memperlakukan saya seperti penjahat. Bahkan, tentara yang seharusnya netral ikut serta dalam pelecehan itu,” kata seorang aktivis LGBTQ+ yang enggan disebut namanya.

“Rezim secara aktif memicu permusuhan terhadap kami. Mereka bahkan membakar bendera kami dalam pawai pemerintah dan menggunakan bahasa yang menghina untuk melanggengkan stereotip negatif tentang kami,” ujar aktivis LGBTQ+ lainnya.

3. Perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlanjut

ilustrasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Laporan CIA soal Mojtaba adalah gay dan sorotan terhadap kebijakan Iran terhadap kaum LGBTQ+ ini mencuat di saat perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlangsung. 

Beberapa waktu lalu, Trump sudah memaksa Iran untuk menyerah. Sebab, menurutnya, Iran sudah kalah secara militer. Trump juga mengancam akan menyerang dengan kekuatan yang lebih besar jika Iran tidak kunjung mengaku kalah. 

“Presiden (Donald) Trump tidak main-main dan dia siap untuk melepaskan malapetaka. Iran tidak boleh salah perhitungan lagi. Jika Iran gagal menerima realitas situasi saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer, dan akan terus dikalahkan, Presiden Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya,” kata Leavitt, seperti dilansir The Strait Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team