Potret kota Shanghai di China. (pexels.com/JC Terry)
Saat musim panas, China kerap dilanda cuaca ekstrem di berbagai wilayah. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa frekuensi dan intensitas bencana seperti ini akan terus meningkat akibat terus memanasnya planet ini akibat emisi bahan bakar fosil.
China adalah negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. Negara ini juga bertanggung jawab atas lebih dari seperempat emisi yang menyebabkan pemanasan global pada 2023, yakni hampir 14 miliar ton setara karbon dioksida.
Di sisi lain, China juga merupakan kekuatan energi terbarukan global yang saat ini tengah menargetkan ambisi netralitas karbon pada tahun 2060. Target tersebut dipandang sebagai langkah signifikan dalam perjuangan melawan perubahan iklim, yang menurut Presiden Xi Jinping mewakili upaya terbaik China berdasarkan persyaratan Perjanjian Paris.
Target tersebut juga mencakup semua gas rumah kaca, bukan hanya karbon dioksida, dan akan diukur dari tingkat puncak emisi, yang waktunya tidak ditentukan oleh Presiden Xi. Nantinya, China akan memperluas kapasitas tenaga angin dan surya hingga lebih dari enam kali lipat dari level pada 2020, dan meningkatkan stok hutan menjadi lebih dari 24 miliar meter kubik. Serta, menjadikan kendaraan energi baru sebagai arus utama dalam penjualan kendaraan, dilansir BBC.