Eropa dan China Sukses Luncurkan Satelit SMILE untuk Pantau Cuaca Antariksa

- Satelit SMILE hasil kolaborasi ESA dan CAS sukses diluncurkan dari Guyana Prancis menggunakan roket Vega-C untuk memantau interaksi angin matahari dengan medan magnet bumi.
- Wahana ini membawa empat instrumen utama, termasuk kamera sinar-X dan pencitraan ultraviolet, guna mengamati lapisan pelindung magnetosfer bumi secara menyeluruh dari luar angkasa.
- Misi SMILE diharapkan membantu mitigasi dampak badai matahari dengan meningkatkan akurasi prakiraan cuaca antariksa; pengumpulan data resmi dimulai Juli setelah kalibrasi selesai.
Jakarta, IDN Times - Wahana antariksa bernama SMILE (Solar wind Magnetosphere Ionosphere Link Explorer), hasil kerja sama antara European Space Agency (ESA) dan Chinese Academy of Sciences (CAS), sukses diluncurkan dari Pelabuhan Antariksa Eropa di Kourou, Guyana Prancis, pada Selasa (19/5/2026). Wahana ini diangkut menggunakan roket Vega-C untuk menjalankan misi pengamatan cuaca antariksa, khususnya memantau interaksi antara angin matahari dan medan magnet bumi.
Peluncuran ini menjadi langkah krusial bagi para ilmuwan untuk mengamati perisai magnetik bumi secara menyeluruh menggunakan teknologi pencitraan sinar-X. Data yang dikumpulkan oleh satelit SMILE nantinya akan dianalisis untuk memahami dinamika cuaca antariksa, sehingga para ahli dapat membuat prakiraan kondisi di luar angkasa secara lebih akurat pada masa mendatang.
1. Satelit berhasil masuk ke orbit elips
Sinyal pertama dari wahana SMILE berhasil diterima oleh stasiun bumi New Norcia milik ESA di Australia pada pukul 06.48 CEST, yang langsung diikuti dengan pembukaan panel surya. Setelah mengudara sekitar 55 menit, wahana sebesar mobil van ini berpisah dari roket pada ketinggian 700 kilometer di atas permukaan Bumi.
Satelit tersebut kini bergerak di lintasan elips, dengan titik tertinggi mencapai 121 ribu kilometer di atas Kutub Utara dan titik terendah 5.000 kilometer di atas Kutub Selatan.
"Kami sangat bersyukur dengan hasil peluncuran ini," kata Direktur Sains ESA, Carole Mundell, dilansir China Daily.
Mundell menambahkan bahwa kondisi di luar angkasa selalu memiliki risiko, sehingga keberhasilan fase peluncuran ini merupakan capaian penting.
2. Mengamati lapisan pelindung bumi secara langsung
Wahana SMILE dibekali dengan empat instrumen utama, termasuk di antaranya kamera sinar-X lunak buatan Inggris dan alat pencitraan ultraviolet buatan China. Instrumen tersebut dirancang khusus untuk memantau bagaimana aliran partikel bermuatan dari matahari berbenturan dengan lapisan magnetosfer bumi.
"Tujuan kami dengan SMILE adalah mempelajari hubungan antara bumi dan matahari," kata Ilmuwan ESA, Philippe Escoubet, dilansir The Brussels Times.
Sebelumnya, pengamatan terhadap medan magnet bumi hanya bisa dilakukan dari dalam lapisan pelindung itu sendiri dengan cakupan yang terbatas. Melalui teknologi pada misi ini, para peneliti akhirnya dapat mengamati pergerakan perisai magnetik secara utuh.
"Kami akan melihat sesuatu yang baru, yaitu cara kerja lapisan pelindung bumi yang tidak terlihat," kata Direktur Jenderal ESA, Josef Aschbacher.
3. Mitigasi ancaman badai matahari di masa depan
Pengamatan berkelanjutan dari satelit ini memiliki peran penting untuk memitigasi dampak cuaca antariksa yang ekstrem. Badai matahari berskala besar diketahui berpotensi merusak infrastruktur satelit, membahayakan keselamatan astronaut, hingga memicu fenomena aurora di wilayah kutub.
Sebagai catatan sejarah, badai geomagnetik terkuat yang pernah terekam adalah Peristiwa Carrington pada tahun 1859. Peristiwa tersebut memicu kemunculan aurora yang dapat terlihat hingga ke Panama dan menyebabkan lonjakan arus listrik yang mengganggu jaringan telegraf di berbagai belahan dunia.
"Saya yakin misi ini akan memberikan hasil temuan yang penting," kata Fisikawan Antariksa Johns Hopkins University, Simon Wing.
Data dari SMILE diharapkan mampu meningkatkan akurasi prakiraan waktu dan intensitas badai matahari, terutama badai yang berisiko merusak sistem kelistrikan dan peralatan elektronik di bumi. Misi ini dijadwalkan beroperasi selama tiga tahun dan dapat diperpanjang. Pengumpulan data penelitian secara resmi akan dimulai pada bulan Juli mendatang, setelah seluruh proses kalibrasi instrumen dan pemeriksaan sistem dinyatakan selesai.
















