China-AS Sepakat Gelar Dialog soal Tata Kelola dan Keamanan AI

- China dan AS sepakat meluncurkan dialog antar pemerintah untuk membahas tata kelola serta keamanan AI, hasil dari pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump di Beijing.
- Dialog ini bertujuan merumuskan regulasi global guna mencegah penyalahgunaan AI dan ancaman siber, di tengah rivalitas teknologi yang makin memanas antara kedua negara.
- Pakar menilai pembahasan akan meluas ke dampak sosial dan lapangan kerja akibat AI, dengan harapan menciptakan diskusi lebih kondusif tanpa isu sensitif ekspor chip.
Jakarta, IDN Times - China dan Amerika Serikat (AS) sepakat untuk untuk meluncurkan dialog antar pemerintah guna membahas tata kelola dan langkah keamanan kecerdasan buatan (AI). Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan puncak antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump di Beijing pekan lalu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin negara telah melakukan pertukaran pandangan yang konstruktif untuk mengelola risiko dari teknologi yang berkembang saat ini.
"Sebagai dua kekuatan utama di bidang AI, China dan AS perlu bekerja sama mendorong pengembangan dan meningkatkan tata kelola AI. Hal ini penting untuk memastikan teknologi tersebut berkontribusi bagi kemajuan peradaban manusia dan kesejahteraan global," kata Guo dalam konferensi pers di Beijing, pada Selasa (19/5/2026), dilansir SCMP.
1. AS-China jajaki regulasi global AI demi cegah ancaman siber
Di tengah persaingan teknologi yang kian sensitif, dialog ini diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah konkret. Sebab, langkah ini untuk mencegah penyalahgunaan AI, termasuk potensi ancaman dari aktor non-negara. Saat penerbangan pulang menggunakan Air Force One, Trump membenarkan adanya pembahasan terkait pembuatan safeguards standar untuk industri AI.
Serupa dengan pernyataan Trump tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancaranya dengan CNBC menegaskan bahwa komunikasi kedua kekuatan super ini penting untuk mulai menyusun regulasi global yang mendesak.
2. Rivalitas teknologi China-AS memanas

Para analis menyebut ancaman senjata biologis berbasis AI, senjata otonom, dan keamanan siber sebagai fokus utama dalam pertemuan antara Trump dan Xi. Sebelumnya pada 2024, Xi dan Joe Biden telah menyepakati perlunya kontrol penuh manusia atas keputusan senjata nuklir. Namun, ambisi Beijing untuk mengejar dominasi teknologi AS membuat kerja sama lanjutan berjalan lambat.
Tensi kedua negara juga tetap tinggi. Baru-baru ini, Gedung Putih menuduh entitas China melakukan pencurian teknologi AS berskala industri. Sebaliknya, Beijing memblokir akuisisi agen AI lokal oleh raksasa teknologi Meta. Di tengah rivalitas ini, risiko siber semakin nyata. Startup asal AS, Anthropic, bahkan terpaksa merahasiakan model AI terbaru mereka, Mythos, guna mencegah eksploitasi oleh peretas internasional.
3. Pakar: Dialog China-AS bakal lebih luas dan membahas dampak sosial

Peneliti senior Pusat Keamanan dan Strategi Internasional di Tsinghua University, Sun Chenghao, menilai agenda pertemuan kali ini akan lebih luas dibanding tahun sebelumnya. Ia menyebut diskusi tersebut mencakup pertukaran pengalaman terkait dampak AI terhadap masyarakat dan lapangan kerja bagi generasi muda.
"Meskipun China dan AS bersaing di bidang AI, dampak teknologi ini sangat signifikan bagi dunia," ujar Sun.
Ia menambahkan bahwa memisahkan isu sensitif seperti pembatasan ekspor chip canggih AS ke pertemuan berbeda justru membantu menciptakan atmosfer diskusi yang lebih kondusif, dilansir France24.
















