Bahlil Lahadalia pada acara peluncuran buku Indonesia Naik Kelas pada 21 November 2025 (Jeromi Mikhael, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Kementerian Luar Negeri dan Pertamina terus berkoordinasi dengan otoritas Iran untuk memastikan dua kapal tanker, Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Data pelacakan menunjukkan kedua kapal tersebut masih tertahan di Teluk Persia meski sudah mendapat sinyal positif dari Iran, sementara jadwal kedatangan ke Indonesia belum bisa dipastikan.
Pertamina International Shipping menegaskan kapal PIS Paragon dan PIS Rinjani tidak melewati Selat Hormuz karena telah lebih dulu keluar dari Timur Tengah melalui Teluk Oman.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat menyebut bahwa meski kapal kita tertahan, stok energi nasional tetap aman karena Indonesia sudah mulai mencari alternatif sumber energi lain (seperti dari AS dan Rusia) untuk memitigasi risiko jika Hormuz ditutup total.
Situasi di Selat Hormuz saat ini bukan lagi sekadar krisis militer, melainkan pergeseran permanen dalam hukum laut internasional menjadi "Diplomasi Transaksional." Keberhasilan negara-negara seperti Jepang, Prancis, dan Malaysia dalam menembus blokade membuktikan bahwa akses terhadap jalur energi paling vital di dunia kini sangat bergantung pada kekuatan negosiasi bilateral dengan Teheran.
Bagi ekonomi global, keberadaan "jalur hijau" ini menjadi napas buatan di tengah ancaman krisis energi yang lebih dalam. Namun, selama ketegangan antara Iran dan aliansi Barat belum mereda, Selat Hormuz akan tetap menjadi wilayah yang sangat selektif, di mana bendera dan identitas kapal kini jauh lebih berharga daripada hukum navigasi bebas yang pernah kita kenal.