Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Daftar Negara yang Kapalnya Lolos Selat Hormuz per Awal April 2026
Foto yang dirilis oleh situs web resmi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Sepanews, pada 17 Februari 2026 ini menunjukkan perahu-perahu yang bermanuver di sekitar kapal tanker selama latihan militer oleh anggota IRGC dan angkatan laut di Selat Hormuz. (Foto oleh SEPAH NEWS / AFP)
  • Iran menerapkan sistem 'Selective Access' di Selat Hormuz sejak Februari 2026, hanya mengizinkan kapal dari negara sahabat atau netral untuk melintas melalui jalur diplomasi tertutup.
  • Negara seperti Rusia, China, Irak, dan Malaysia mendapat akses prioritas penuh, sementara Jepang, Prancis, Filipina, dan Turki baru berhasil menembus blokade pada awal April 2026.
  • Dua kapal Pertamina masih tertahan di Teluk Persia meski sudah dapat sinyal positif dari Iran; pemerintah memastikan stok energi nasional aman lewat diversifikasi sumber pasokan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Krisis Selat Hormuz yang pecah sejak akhir Februari 2026 telah mengubah peta pelayaran dunia menjadi sistem "Selective Access." Iran secara ketat menyaring kapal yang melintas, hanya memberikan lampu hijau bagi negara-negara yang dianggap "sahabat" atau netral melalui jalur diplomasi backdoor.

Per 7 April 2026, lalu lintas harian memang merosot tajam hingga 93 persen, namun jumlah kapal yang berhasil melintas mulai merangkak naik berkat lobi diplomatik intensif. Berikut adalah daftar negara yang mendapatkan izin melintas di jalur perdagangan energi paling krusial di dunia tersebut.

1. Jalur prioritas (VVIP dan bebas biaya)

Bendera China (Reinhold Möller, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Negara-negara ini memiliki kedekatan strategis yang membuat Iran memberikan akses penuh, bahkan membebaskan biaya transit (toll fee).

  • Rusia dan China: Sebagai mitra strategis dan pembeli minyak terbesar, kapal-kapal kedua negara ini mendapat prioritas utama dan koordinasi militer yang paling lancar.

  • Irak: Per 5 April 2026, Iran resmi membebaskan Irak dari segala pembatasan. Juru bicara militer Iran menyebut Irak sebagai "negara saudara" yang berhak atas navigasi penuh.

  • Malaysia: Menteri Transportasi Anthony Loke mengonfirmasi bahwa kapal tanker Malaysia diizinkan lewat dan dibebaskan dari biaya transit sebagai bentuk persahabatan diplomatik.

2. Negara yang berhasil "pecah telur" di April 2026

Bendera negara Filipina (patrickroque01, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Berbeda dengan kondisi Maret yang masih tertahan atau mengantre, negara-negara ini sukses mengamankan izin melintas di awal April:

  • Jepang: Setelah negosiasi panjang, kapal LNG Sohar LNG milik Mitsui O.S.K. Lines berhasil keluar dari teluk pada 3 April. Ini adalah kapal Jepang pertama yang lolos sejak perang dimulai, dilansir The Japan Times.

  • Filipina: Melansi Al Jazeera, Manila mengamankan jaminan keamanan pada 2 April bagi kapal berbendera Filipina dan pelautnya setelah pembicaraan antara Menlu Filipina dan Iran.

  • Prancis: Kapal kontainer Kribi (CMA CGM) berhasil melintas pada 2 April dengan taktik mengubah data AIS menjadi "Owner France" untuk menegaskan identitas non-aliansi AS-Israel.

  • Turki: Kapal ketiga milik Turki (Ocean Thunder) terkonfirmasi melintas minggu ini seiring lancarnya proses verifikasi kargo.

3. Oman dan peran sebagai "Koridor Pesisir"

Bendera negara Oman (edward stojakovic from Portland, OR, United States, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Oman memegang posisi unik sebagai mediator sekaligus penguasa sisi lain selat. Per 4 April 2026, pertemuan teknis tingkat wakil menteri antara Oman dan Iran menyepakati opsi transit yang lebih aman.

Melansir Kementerian Luar Negeri Oman, nanti mekanismenya, kapal-kapal Oman mulai menggunakan rute yang lebih mepet ke pesisir Oman (Koridor Omani) untuk menghindari zona konflik utama.

4. Daftar negara lain yang diperbolehkan lewat

Bendera negara Thailand (KrebsLovesFiesh, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Beberapa negara yang sudah mendapatkan izin sejak Maret tetap mempertahankan status aman mereka:

  • India: Aktif melintas dengan sedikitnya 17 kapal terpantau aman di bawah koordinasi diplomatik.

  • Thailand: Sukses meloloskan tanker Bangchak Jewel melalui diplomasi tingkat tinggi sejak akhir Maret.

  • Pakistan: Hubungan regional yang stabil menjamin kelancaran tanker seperti Karachi.

  • Bangladesh: Tetap masuk dalam daftar negara sahabat yang diizinkan melintas.

Berdasarkan laporan Lloyd’s List Intelligence, setiap kapal yang diizinkan wajib mematuhi protokol ketat:

  1. Aktivasi AIS: Sistem identifikasi harus selalu menyala.

  2. Koordinasi IRGC: Wajib melapor ke otoritas Garda Revolusi sebelum masuk.

  3. Identitas Non-Aliansi: Penegasan bahwa kapal tidak terafiliasi dengan Amerika Serikat atau Israel.

5. Status kapal Indonesia: Lampu hijau operasional

Bahlil Lahadalia pada acara peluncuran buku Indonesia Naik Kelas pada 21 November 2025 (Jeromi Mikhael, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Kementerian Luar Negeri dan Pertamina terus berkoordinasi dengan otoritas Iran untuk memastikan dua kapal tanker, Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Data pelacakan menunjukkan kedua kapal tersebut masih tertahan di Teluk Persia meski sudah mendapat sinyal positif dari Iran, sementara jadwal kedatangan ke Indonesia belum bisa dipastikan.

Pertamina International Shipping menegaskan kapal PIS Paragon dan PIS Rinjani tidak melewati Selat Hormuz karena telah lebih dulu keluar dari Timur Tengah melalui Teluk Oman.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat menyebut bahwa meski kapal kita tertahan, stok energi nasional tetap aman karena Indonesia sudah mulai mencari alternatif sumber energi lain (seperti dari AS dan Rusia) untuk memitigasi risiko jika Hormuz ditutup total.

Situasi di Selat Hormuz saat ini bukan lagi sekadar krisis militer, melainkan pergeseran permanen dalam hukum laut internasional menjadi "Diplomasi Transaksional." Keberhasilan negara-negara seperti Jepang, Prancis, dan Malaysia dalam menembus blokade membuktikan bahwa akses terhadap jalur energi paling vital di dunia kini sangat bergantung pada kekuatan negosiasi bilateral dengan Teheran.

Bagi ekonomi global, keberadaan "jalur hijau" ini menjadi napas buatan di tengah ancaman krisis energi yang lebih dalam. Namun, selama ketegangan antara Iran dan aliansi Barat belum mereda, Selat Hormuz akan tetap menjadi wilayah yang sangat selektif, di mana bendera dan identitas kapal kini jauh lebih berharga daripada hukum navigasi bebas yang pernah kita kenal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team