Presiden AS Donald Trump bersama Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe saat memantau operasi militer di Venezuela (Official White House Photo by Molly Riley, Public domain, via Wikimedia Commons)
Menurut laporan CNN, operasi penangkapan ini merupakan hasil perencanaan matang selama berbulan-bulan yang melibatkan penyusupan tim intelijen AS ke dalam Venezuela. Sejak Agustus, CIA telah menempatkan tim kecil di darat serta merekrut informan dari dalam pemerintahan Venezuela untuk memantau pergerakan Maduro.
CIA berhasil mengumpulkan berbagai detail pola hidup Maduro demi memuluskan penyergapan. Data yang dikumpulkan mencakup lokasi tidur, jenis makanan yang dikonsumsi, pakaian yang dikenakan, hingga detail mengenai hewan peliharaan sang presiden.
Pasukan khusus AS juga melakukan latihan simulasi menggunakan replika bangunan yang dibuat persis dengan kediaman Maduro di Caracas. Namun, pelaksanaan operasi sempat tertunda selama empat hari karena faktor cuaca yang dinilai kurang mendukung. Trump akhirnya memberikan lampu hijau pada Jumat malam (2/1/2026) pukul 22.46 waktu AS (EST) setelah awan di atas Caracas mulai menipis.
"Kami berpikir, kami mengembangkan, kami melatih, kami mengulangi, kami mengevaluasi, dan kami berlatih lagi dan lagi. Bukan untuk melakukannya dengan benar, tetapi untuk memastikan kami tidak bisa salah," tegas Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, dilansir PBS News.