Bendera Yunani (pexels.com/Efrem Efre)
Kontroversi bermula dari dugaan permintaan pelunasan utang pribadi sebelum Guilfoyle resmi menjabat sebagai duta besar. Seorang donatur politik asal Kentucky mengaku diminta mengirim uang sebesar 100 ribu dolar AS (Rp1,78 miliar) ke rekening kartu kredit American Express milik calon diplomat tersebut dengan janji imbalan akses politik. Donatur itu juga menunjukkan bukti pesan yang memuat rasa kecewanya karena tidak memperoleh bantuan yang dijanjikan setelah menyetorkan sejumlah dana.
"Saya bukan orang yang mudah dibodohi, saya menginginkan hasil nyata," kata pengusaha Eric Deters.
Keterangan tersebut memperkuat desakan di Kongres AS untuk memeriksa rekam jejak keuangan pejabat terkait. Persoalan ini kian rumit menyusul laporan mengenai ketidakharmonisan hubungan kerja antara Guilfoyle dan staf kedutaan di Athena.
Pengacara Guilfoyle membantah adanya pelanggaran hukum, sementara kantor inspektorat jenderal kementerian mulai memeriksa berkas kasus tersebut.