Kamboja memeriksa sekitar dua ribu SPBU yang tiba-tiba tutup dengan alasan kehabisan stok. Penyelidikan ini dilakukan setelah muncul laporan masyarakat yang kesulitan mendapatkan bensin di berbagai daerah, tepat setelah harga minyak dunia melonjak tajam. Juru bicara Kementerian Perdagangan, Penn Sovicheat, menjelaskan bahwa pemeriksaan ini mencakup hampir sepertiga dari total SPBU yang terdaftar secara resmi di seluruh negeri.
Pemerintah ingin memastikan apakah penutupan ini memang karena masalah pengiriman bensin atau hanya taktik pedagang untuk menahan stok sampai harga naik lebih tinggi. Tim ahli dari kementerian diturunkan langsung ke lapangan untuk mengecek tangki penyimpanan bawah tanah di SPBU yang tutup. Jika ditemukan bukti bahwa stok sebenarnya masih ada namun layanan dihentikan, pemilik usaha tersebut akan langsung dianggap melanggar hukum perdagangan dan keamanan energi nasional.
"Otoritas sedang menyelidiki apakah mereka benar-benar kehabisan stok atau mereka sengaja menahan bahan bakar untuk dijual nanti ketika harga naik," kata Sovicheat, dilansir Bangkok Post.
Ia juga menegaskan bahwa setiap tindakan yang sengaja merusak pasokan energi akan ditindak tegas demi melindungi kepentingan masyarakat luas.
Dampak penutupan SPBU ini sudah mulai dirasakan oleh para sopir truk dan petani yang sangat membutuhkan solar untuk bekerja. Mereka terpaksa menempuh jarak jauh hanya untuk mencari SPBU yang masih buka, sehingga biaya operasional mereka menjadi membengkak. Meskipun ada gangguan di tingkat pengecer, pemerintah meyakinkan masyarakat bahwa stok bensin nasional sebenarnya masih cukup dan meminta warga untuk tidak panik.