Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Diduga Timbun BBM, Dua Ribu SPBU di Kamboja Diperiksa
Bendera Kamboja (unsplash.com/aboodi vesakaran)
  • Pemerintah Kamboja menyelidiki sekitar dua ribu SPBU yang tutup mendadak untuk memastikan tidak ada praktik penimbunan bensin di tengah lonjakan harga minyak dunia.
  • Harga bensin dan solar di Kamboja melonjak tajam hingga lebih dari 35 persen akibat ketegangan di Timur Tengah, memicu kepanikan warga dan tekanan ekonomi nasional.
  • Kementerian Perdagangan mengancam mencabut izin SPBU yang terbukti menimbun bensin serta menyiapkan subsidi bersama importir guna menjaga stabilitas harga dan pasokan energi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kamboja resmi menyelidiki ribuan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berhenti beroperasi secara mendadak, pada Jumat (13/3/2026). Langkah hukum ini diambil setelah muncul laporan mengenai kelangkaan pasokan bensin. Situasi ini terjadi tepat setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat, yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam.

Kementerian Perdagangan Kamboja mengonfirmasi bahwa penutupan massal tersebut telah mengganggu aktivitas warga di berbagai daerah. Saat ini, petugas sedang memeriksa jumlah stok bensin di lapangan untuk memastikan apakah ada pelaku usaha yang sengaja menimbun barang demi mencari keuntungan pribadi.

1. Kamboja periksa dua ribu SPBU yang tutup mendadak

Kamboja memeriksa sekitar dua ribu SPBU yang tiba-tiba tutup dengan alasan kehabisan stok. Penyelidikan ini dilakukan setelah muncul laporan masyarakat yang kesulitan mendapatkan bensin di berbagai daerah, tepat setelah harga minyak dunia melonjak tajam. Juru bicara Kementerian Perdagangan, Penn Sovicheat, menjelaskan bahwa pemeriksaan ini mencakup hampir sepertiga dari total SPBU yang terdaftar secara resmi di seluruh negeri.

Pemerintah ingin memastikan apakah penutupan ini memang karena masalah pengiriman bensin atau hanya taktik pedagang untuk menahan stok sampai harga naik lebih tinggi. Tim ahli dari kementerian diturunkan langsung ke lapangan untuk mengecek tangki penyimpanan bawah tanah di SPBU yang tutup. Jika ditemukan bukti bahwa stok sebenarnya masih ada namun layanan dihentikan, pemilik usaha tersebut akan langsung dianggap melanggar hukum perdagangan dan keamanan energi nasional.

"Otoritas sedang menyelidiki apakah mereka benar-benar kehabisan stok atau mereka sengaja menahan bahan bakar untuk dijual nanti ketika harga naik," kata Sovicheat, dilansir Bangkok Post.

Ia juga menegaskan bahwa setiap tindakan yang sengaja merusak pasokan energi akan ditindak tegas demi melindungi kepentingan masyarakat luas.

Dampak penutupan SPBU ini sudah mulai dirasakan oleh para sopir truk dan petani yang sangat membutuhkan solar untuk bekerja. Mereka terpaksa menempuh jarak jauh hanya untuk mencari SPBU yang masih buka, sehingga biaya operasional mereka menjadi membengkak. Meskipun ada gangguan di tingkat pengecer, pemerintah meyakinkan masyarakat bahwa stok bensin nasional sebenarnya masih cukup dan meminta warga untuk tidak panik.

2. Harga bensin di Kamboja melonjak tajam hingga 35 persen

Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan di Timur Tengah berdampak langsung pada harga bensin di Kamboja. Sejak Rabu (11/3/2026), harga bensin naik drastis menjadi 5.200 riel (Rp21,93 ribu) per liter dari sebelumnya hanya 3.850 riel (Rp16,24 ribu). Kenaikan harga sekitar 35 persen dalam waktu singkat ini mulai memberikan tekanan ekonomi bagi warga dan pelaku usaha di seluruh negeri.

Kondisi lebih sulit dialami oleh pengguna solar yang harganya kini melonjak lebih dari 50 persen menjadi 6.050 riel (Rp25,52 ribu) per liter. Karena solar merupakan bahan bakar utama untuk angkutan barang dan industri, kenaikan ini dikhawatirkan akan memicu naiknya harga bahan pangan. Menteri Perdagangan Kamboja, Cham Nimul, menjelaskan bahwa situasi ini terjadi karena negara sangat bergantung pada pasokan energi dari luar negeri yang saat ini sedang tidak stabil.

Lonjakan harga tersebut memicu kepanikan warga yang mulai menyetok bensin di rumah karena takut kehabisan di masa depan. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak menimbun bensin sendiri karena berbahaya dan bisa memicu kebakaran. Selain itu, aksi borong bensin ini justru membuat stok di SPBU lebih cepat habis dan memberi kesempatan bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk bermain di pasar gelap.

3. Kamboja ancam cabut izin SPBU yang nekat timbun bensin

Kementerian Perdagangan Kamboja mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh pemilik SPBU agar tidak bermain curang dengan menyembunyikan stok bensin. Pemerintah menegaskan bahwa setiap pengusaha yang terbukti berbohong mengenai kekosongan pasokan demi mencari keuntungan pribadi akan menghadapi hukuman berat. Sanksi yang disiapkan mulai dari denda dalam jumlah besar hingga pencabutan izin usaha secara permanen.

Menteri Perdagangan Cham Nimul menjelaskan bahwa tim ahli telah dikerahkan ke lapangan untuk memantau perilaku pasar selama krisis energi akibat konflik di Timur Tengah ini berlangsung. Pemerintah berkomitmen penuh untuk melindungi masyarakat dari praktik penimbunan yang tidak jujur.

Selain memberikan sanksi tegas, pemerintah juga menyiapkan langkah bantuan agar harga bensin tidak terlalu mencekik kantong masyarakat. Jika harga minyak dunia menembus angka 90 dolar AS (Rp1,52 juta) per barel, pemerintah dan perusahaan pengimpor telah sepakat untuk berbagi beban kerugian. Dalam skema ini, negara akan menanggung biaya sebesar 0,065 dolar AS (Rp1,18 ribu) per liter, sementara perusahaan pengimpor menanggung 0,01 dolar AS (Rp169,27) per liter guna menjaga stabilitas harga di pasar dalam negeri.

Fokus utama saat ini adalah memastikan sektor-sektor penting seperti rumah sakit dan angkutan logistik pangan tetap bisa berjalan normal. Perdana Menteri Hun Manet juga meminta para pemilik usaha untuk menunjukkan rasa kesetiakawanan nasional dan tidak mengambil keuntungan di atas kesulitan rakyat saat kondisi dunia sedang tidak menentu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team