Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dino Patti Djalal dalam penghargaan Inspiring Newsmaker 2025 pada acara SAT 2026.
Dino Patti Djalal dalam penghargaan Inspiring Newsmaker 2025 pada acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Intinya sih...

  • Dino menilai tiga wamenlu sudah cukup tak perlu ditambah

  • Posisi Sugino yang merangkap Sekjen Gerindra menjadi penyebab jarang ada di kantor

  • Dino yakin Sugiono bisa menerima kritik secara terbuka

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal turut hadir di acara Pernyataan Pers Tahunan Menlu (PPTM) pada Rabu (14/1/2026) di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat. Di acara itu, Dino sempat berjabat tangan dengan Menteri Luar Negeri Sugiono.

Momen tersebut menjadi sorotan media lantaran peristiwa itu terjadi tak lama usai diplomat senior tersebut menyampaikan empat kritik dan masukan secara terbuka kepada Sugiono. Salah satu poin krusial di dalam kritiknya yakni Sugiono yang jarang berada di kantor Kemlu.

Kepada IDN Times, Dino mengaku hadir di acara PPTM sebagai bentuk penghormatan kepada Sugiono yang sudah mengundangnya. Meski sempat berjabat tangan, tetapi Dino tidak sempat berbincang dengan pria yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Gerindra itu.

"Saya hadir dalam PPTM untuk menghormati Kemlu karena saya ingin mendengarkan pandangan Menlu mengenai world view dan langkah-langkah politik luar negeri, dan alhamdulillah yang saya dengar adalah suatu foreign policy speech. Menurut saya, itu baru pertama kali disampaikan," ujar Dino di sela-sela acara Awarding Session, yang merupakan rangkaian acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang digelar IDN Times di IDN HQ, Jakarta Selatan pada Kamis (16/1/2026).

Ia pun berharap, pidato yang disampaikan oleh Sugiono bisa dijadikan pegangan oleh para kepala perwakilan Indonesia di luar negeri dalam menerjemahkan kebijakan luar negeri dalam satu tahun ke depan.

1. Dino menilai tiga wamenlu sudah cukup tak perlu ditambah

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal usai menerima penghargaan dari IDN Times di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan. (IDN Times/Santi Dewi)

Diplomat senior itu juga menanggapi kelakar yang disampaikan oleh Sugiono mengenai wacana penambahan posisi wakil menteri luar negeri. Dalam pandangannya, Kemlu tak membutuhkan lagi satu wamenlu. Keberadaan tiga wamenlu yang ada saat ini dinilainya sudah cukup.

"Saya harap itu hanya kelakar karena ketika Beliau menyampaikan itu, Beliau kan sambil tertawa. Fenomena wakil menteri luar negeri itu kan baru sekali. Posisi itu baru diangkat di zaman Presiden SBY, saya termasuk wakil menteri luar negeri terakhir di era SBY. Waktu itu hanya satu (wamenlu)," kata Dino.

"Sekarang kan ada tiga (wamenlu). Untuk ukuran kita di Indonesia, itu sudah terlalu banyak. Menurut saya tidak perlu ditambah lagi," imbuhnya.

Alih-alih jumlah wamenlu ditambah, berdasarkan pengakuan Sugiono di forum PPTM, ia jarang bisa bertemu dengan ketiga wamenlu tersebut. Sebab, ketiga wamenlu itu sama-sama sibuk. Dalam pandangannya, pengakuan Sugiono justru membenarkan kritik yang pernah ia sampaikan sebelumnya di ruang publik.

2. Posisi Sugino yang merangkap Sekjen Gerindra menjadi penyebab jarang ada di kantor

Menlu Sugiono memberikan Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri RI (PPTM) 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Dino pun menilai jarangnya Sugiono berada di kantor Kemlu secara fisik lantaran ia juga menjabat sebagai Sekjen Partai Gerindra. Sekjen merupakan salah satu posisi penting di dalam sebuah partai politik.

"Salah satu tugas utama sekjen itu adalah untuk memenangkan Pemilu 2029. Hal itu termasuk mengurus ranting dan cabang parpol. Belum lagi mengurus anggota parpol. Kalau ada anggota yang menelepon harus diladeni. Tugas sebagai sekjen menurut saya harus dilakukan full time," kata Dino.

Sebab, bila tugas sebagai sekjen tidak dikerjakan secara penuh, maka itu berpengaruh ke performa partai. Di sisi lain, peran sebagai Menlu pun, kata Dino, juga tidak bisa dikerjakan paruh waktu.

"Berbagai masalah internasional, baik di kawasan dan global, Kemlu memiliki 2.000 diplomat, Indonesia memiliki sekitar 100 kantor perwakilan di luar negeri, isunya sekarang pun semakin kompleks, itu kan juga menuntut perhatian yang full time," tutur dia.

Itu sebabnya menjadi suatu tantangan yang besar bagi Sugiono untuk bisa membagi waktu. Meskipun di sisi lain, bila keduanya dijalankan maka saling berbenturan dan tak menghasilkan hal yang optimal.

3. Dino yakin Sugiono bisa menerima kritik secara terbuka

Menlu Sugiono memberikan Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri RI (PPTM) 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Dino pun meyakini dengan tetap diundang ke acara PPTM, menandakan Sugiono merupakan sosok yang terbuka terhadap kritik. Meskipun kritik dan sarannya itu tidak pernah direspons oleh Sugiono atau tiga wamenlu secara langsung. Meski begitu, Dino melihat kritik itu direspons dengan cara berbeda.

"Misalnya, akun media sosialnya di Instagram ada suaranya dan tidak hanya sekedar menampilkan video. Lalu, PPTM menjadi ajang penyampaian policy speech, Beliau juga mengatakan bahwa dia ingin Kemlu menjadi rumah bersama. PPTM pun juga disiarkan di kampus-kampus walaupun tidak ada tanya jawab," kata pria yang juga merupakan pendiri organisasi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu.

Ia pun berharap, penyampaian kebijakan luar negeri semacam PPTM dapat disampaikan secara rutin. Bukan sekedar ajang tahunan.

"Karena tugas Menlu kan itu. Apalagi Beliau juga menyampaikan poin yang sudah saya sampaikan di video bahwa foreign policy begins at home. Mudah-mudahan bisa lebih sering (dilakukan) karena itu yang dikehendaki oleh publik," tutur dia.

Editorial Team