Presiden terpilih Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. resmi menjabat sebagai presiden Filipina ke-17 setelah menjalani upacara pelantikan. Prosesi pengambilan sumpah dipimpin oleh Ketua Mahkamah Agung Alexander Gesmundo dan dihadiri oleh istrinya, Liza, bersama ketiga putra mereka. (Rey Baniquet for Presidential Communications Operations Office, Public domain, via Wikimedia Commons)
Walau DPR dikuasai sekutu Presiden Marcos, hasil sidang pemakzulan di Senat masih belum bisa dipastikan. Duterte hanya dapat divonis bersalah jika memperoleh dukungan dua pertiga dari total 24 senator.
Berbeda dengan anggota DPR, para senator dipilih melalui pemungutan suara nasional sehingga dinilai tak terlalu bergantung pada pengaruh presiden. Di sisi lain, Senat baru saja menunjuk Alan Peter Cayetano sebagai ketua baru, sosok yang dikenal dekat dengan keluarga Duterte.
Cayetano mengatakan pemilihannya sebagai ketua Senat tak berkaitan dengan proses pemakzulan terhadap Duterte. Pada saat yang sama, hubungan Duterte dan Marcos berubah tajam setelah aliansi Uniteam yang membawa mereka menang besar di Pemilu 2022 pecah akibat perbedaan agenda politik.
Situasi politik keduanya makin memanas setelah Marcos mengizinkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menangkap mantan Presiden Rodrigo Duterte atas dugaan kejahatan kemanusiaan. Sara Duterte juga sempat mengeluarkan pernyataan kontroversial mengenai perintah membunuh Marcos jika dirinya terbunuh, meski kemudian ia mengatakan ucapannya disalahartikan.
Di tengah persoalan hukum yang dihadapinya, Duterte tetap mencatat tingkat elektabilitas tinggi. Dalam survei terbaru, ia masih unggul 17 poin dibandingkan para pesaingnya.