Gara-gara Konflik Timur Tengah, Filipina Pangkas Agenda KTT ASEAN

- Filipina memangkas sejumlah agenda dan mengalihkan sebagian pertemuan KTT ASEAN ke format virtual akibat dampak konflik Timur Tengah yang memicu ketidakpastian global.
- Presiden Ferdinand Marcos Jr. menegaskan semangat dan tujuan keketuaan Filipina tetap utuh, dengan tema 'Navigating Our Future Together' yang makin relevan di tengah tekanan kawasan.
- KTT ASEAN ke-48 tetap digelar di Cebu sebagai simbol komitmen negara-negara anggota untuk terus berdialog dan bekerja sama menghadapi tantangan keamanan, ekonomi, dan keberlanjutan.
Jakarta, IDN Times - Konflik yang terus membara di Timur Tengah tak hanya mengguncang kawasan itu sendiri. Perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina pun ikut terdampak, hingga memaksa negara tuan rumah mengambil keputusan sulit, yakni memangkas sejumlah agenda dan mengalihkan pertemuan fisik ke platform virtual.
Hal itu diakui langsung oleh Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. saat membuka KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Jumat (8/5/2025). Di hadapan para kepala negara dan delegasi dari seluruh kawasan, Marcos terus terang menyebut konflik Timur Tengah sebagai faktor yang memaksa Manila mengubah rencana penyelenggaraan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.
“Kami membuat keputusan sulit untuk merekalibrasi penyelenggaraan Keketuaan ASEAN kami sebagai respons atas konflik Timur Tengah, melalui pemotongan kegiatan-kegiatan yang tidak esensial dan pengalihan pertemuan yang berlaku dari platform fisik ke virtual,” kata Marcos dalam pidato pembukaannya.
Meski begitu, Marcos menegaskan, penyesuaian itu tidak berarti ASEAN berhenti bekerja. Ia justru menyerukan agar kawasan tetap bergerak maju — karena menurutnya, justru di tengah tantanganlah kerja ASEAN paling dibutuhkan.
1. Kawasan Asia Tenggara terhantam ketidakpastian

Marcos mengungkapkan, dalam beberapa bulan terakhir, masing-masing negara anggota terpaksa melakukan penyesuaian kebijakan akibat gejolak global yang kian kompleks. Konflik Timur Tengah disebut sebagai pemicu utama yang membuat kawasan harus bergerak cepat dan lincah dalam merespons situasi yang terus berubah.
“Situasi yang semakin tidak menentu di Timur Tengah berdampak pada kawasan kami, menantang kami untuk tetap lincah dalam menghadapi ketidakpastian yang mengancam gaya hidup, mata pencaharian, dan jiwa,” ujar Marcos.
Marcos menyebut banyak warga dari negara-negara anggota yang kini menggantungkan harapan kepada para pemimpinnya, bukan hanya untuk stabilitas, tetapi juga untuk ketenangan dan harapan. Tekanan itu, kata Marcos, justru menjadi alasan mengapa pertemuan seperti KTT ini tidak boleh berhenti, bahkan di tengah segala keterbatasan.
Para menteri luar negeri, ekonomi, pertanian, dan energi dari negara-negara ASEAN telah menggelar serangkaian pertemuan untuk menyusun respons terkoordinasi di sektor masing-masing. Pertemuan lintas pilar antara bidang politik-keamanan dan ekonomi pun digelar guna menyelaraskan langkah bersama menghadapi krisis.
2. Sejumlah agenda dipangkas, tapi semangat ASEAN membara

Meski sejumlah kegiatan terpaksa dipangkas dan dialihkan ke virtual, Marcos menegaskan semangat dan tujuan keketuaan Filipina tidak berubah. ASEAN, katanya, tetap harus hadir dan responsif terhadap kebutuhan kawasan apa pun tantangan yang menghadang.
Filipina memegang keketuaan ASEAN tahun ini dengan tema “Navigating Our Future Together” atau Mengarungi Masa Depan Bersama. Marcos menyebut tema itu kini terasa lebih relevan dari sebelumnya, justru karena kawasan tengah diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah sekaligus.
Ia juga mengapresiasi seluruh negara mitra ASEAN yang tetap hadir mendukung meski masing-masing juga tengah menghadapi tantangan berat di dalam negeri. Kehadiran itu, kata Marcos, adalah bukti kemitraan kawasan tidak hanya bermakna di saat mudah, tetapi justru paling diuji dan paling berharga di saat sulit.
“Kerja ASEAN harus terus berlanjut, bukan meski ada tantangan, tetapi justru karena zaman menuntut jawaban kita atas tantangan-tantangan itu untuk rakyat kita, untuk negara kita, untuk ASEAN,” kata Marcos.
3. KTT tetap jalan di tengah tekanan global

Keputusan untuk tetap menggelar KTT secara fisik di Cebu meski dalam format yang telah disesuaikan, dinilai Marcos sebagai pernyataan sikap tersendiri. Menurutnya, di tengah ketidakpastian global, ASEAN memilih untuk tetap hadir, tetap berdialog, dan tetap bekerja.
Marcos menyebut kehadiran seluruh delegasi di Cebu, meski dengan jadwal yang padat dan tanggung jawab besar di negara masing-masing, sebagai cerminan dari komitmen bersama yang tidak goyah. Baginya, itulah esensi dari ASEAN kawasan yang tidak lari dari tantangan, melainkan menghadapinya bersama-sama.
KTT ke-48 ini mencakup serangkaian pertemuan terkait yang membahas berbagai isu kawasan, mulai dari keamanan, ekonomi, hingga keberlanjutan. Seluruh agenda dirancang selaras dengan tiga prioritas keketuaan Filipina, ‘Jangkar Perdamaian dan Keamanan, Koridor Kemakmuran, serta Pemberdayaan Masyarakat’.

















