Ledakan dari drone bunuh diri tersebut merusak tiga bagian utama pesawat ATR-72-600, yaitu bagian hidung, bagian tengah badan pesawat, dan lampu navigasi di bagian ekor. Kerusakan ini disebabkan oleh hantaman serpihan bom serta kuatnya tekanan ledakan.
Meskipun tergolong ringan dan tidak menghancurkan struktur utama, kerusakan tersebut membuat pesawat tidak layak terbang seketika. Armada ini masih memerlukan pemeriksaan mendalam untuk mendeteksi potensi kebocoran sistem hidrolik atau kerusakan komponen penting lainnya yang membahayakan keselamatan penerbangan.
"Pasukan keamanan segera mengevakuasi mereka yang membutuhkan dan menyediakan layanan penyelamatan setelah serangan. Tidak ada penumpang atau kru pesawat yang terluka atau tewas dalam insiden tersebut," tulis rilis pers resmi pemerintah, dilansir The Straits Times.
Proses evakuasi dilakukan dengan cepat oleh personel keamanan bandara bersama unit militer setempat. Para penumpang segera dipindahkan ke area perlindungan yang aman guna menghindari potensi ledakan susulan atau serangan drone gelombang kedua.
Keberhasilan penyelamatan tanpa korban jiwa ini tidak lepas dari tingginya kesiapsiagaan tim tanggap darurat Bandara Myitkyina, yang telah meningkatkan kewaspadaan sejak percobaan serangan drone pada minggu sebelumnya. Otoritas bandara juga memastikan bahwa layanan medis dan dukungan psikologis telah diberikan kepada penumpang yang mengalami trauma ringan. Sementara itu, tim teknisi maskapai mulai menilai kerugian pada pesawat untuk segera memulai proses perbaikan.