Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Drone Hantam Pesawat Sipil di Bandara Myanmar
Bendera Myanmar (unsplash.com/aboodi vesakaran)
  • Serangan drone mengguncang Bandara Myitkyina, Myanmar, menargetkan pesawat ATR-72-600 milik Myanmar National Airlines yang sedang bersiap lepas landas menuju Mandalay pada Jumat malam.
  • Ledakan menyebabkan kerusakan di tiga bagian pesawat tanpa menimbulkan korban jiwa, sementara tim keamanan berhasil mengevakuasi penumpang dan mengamankan area bandara dengan cepat.
  • Pemerintah Myanmar mengecam keras serangan tersebut sebagai kejahatan perang dan meningkatkan operasi militer untuk mencari pelaku serta memastikan keamanan penerbangan sipil di wilayah Kachin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Serangan udara menggunakan pesawat tanpa awak atau drone mengguncang Bandar Udara Myitkyina di Negara Bagian Kachin, Myanmar, pada Jumat (20/2/2026) malam. Insiden di salah satu pusat transportasi udara paling vital di wilayah utara tersebut menyasar sebuah pesawat penumpang milik maskapai nasional yang sedang bersiap untuk melakukan penerbangan rutin.

Akibat ledakan, armada penerbangan sipil ini dilaporkan mengalami kerusakan fisik. Merespons situasi ini, pihak berwenang segera mengaktifkan protokol darurat untuk mengamankan lokasi bandara, serta memastikan keselamatan seluruh individu yang berada di sekitar area landasan pacu.

1. Pihak yang dituduh terlibat dalam serangan drone

Serangan yang menargetkan infrastruktur penerbangan sipil ini terjadi pada pukul 20.12 waktu setempat. Saat kejadian berlangsung, pesawat jenis ATR-72-600 milik Myanmar National Airlines (MNA) sedang bersiap lepas landas dari Myitkyina menuju Mandalay dengan membawa sejumlah penumpang sipil.

Kelompok Kachin Independence Organisation (KIA) dan People's Defence Force (PDF) diduga kuat menjadi pihak yang bertanggung jawab atas serangan ini. Mereka diduga meluncurkan drone bunuh diri jenis First Person View (FPV) yang meledak tepat di dekat badan pesawat. Serangan ini diyakini bertujuan untuk melumpuhkan transportasi non-militer dan mengganggu rantai logistik di Negara Bagian Kachin, yang sangat bergantung pada jalur udara akibat kondisi keamanan darat yang tidak stabil.

Menanggapi tuduhan serius tersebut, juru bicara resmi KIA, Kolonel Naw Bu, segera memberikan klarifikasi.

"KIA tidak memiliki kebijakan untuk menyerang maskapai yang membawa warga sipil dan kelompok kami tidak melakukan tindakan apa pun terkait insiden tersebut," ujarnya, dilansir The Star.

Pola serangan menggunakan drone FPV ini menandai peningkatan eskalasi yang signifikan di wilayah Myitkyina. Sebelumnya, fasilitas bandara yang sama juga sempat menjadi sasaran serangan serupa pada Kamis (12/2/2026). Namun, serangan terdahulu berhasil digagalkan oleh sistem pertahanan udara militer sebelum drone tersebut meledak di area bandara.

2. Ledakan drone rusak tiga bagian pesawat

Ledakan dari drone bunuh diri tersebut merusak tiga bagian utama pesawat ATR-72-600, yaitu bagian hidung, bagian tengah badan pesawat, dan lampu navigasi di bagian ekor. Kerusakan ini disebabkan oleh hantaman serpihan bom serta kuatnya tekanan ledakan.

Meskipun tergolong ringan dan tidak menghancurkan struktur utama, kerusakan tersebut membuat pesawat tidak layak terbang seketika. Armada ini masih memerlukan pemeriksaan mendalam untuk mendeteksi potensi kebocoran sistem hidrolik atau kerusakan komponen penting lainnya yang membahayakan keselamatan penerbangan.

"Pasukan keamanan segera mengevakuasi mereka yang membutuhkan dan menyediakan layanan penyelamatan setelah serangan. Tidak ada penumpang atau kru pesawat yang terluka atau tewas dalam insiden tersebut," tulis rilis pers resmi pemerintah, dilansir The Straits Times.

Proses evakuasi dilakukan dengan cepat oleh personel keamanan bandara bersama unit militer setempat. Para penumpang segera dipindahkan ke area perlindungan yang aman guna menghindari potensi ledakan susulan atau serangan drone gelombang kedua.

Keberhasilan penyelamatan tanpa korban jiwa ini tidak lepas dari tingginya kesiapsiagaan tim tanggap darurat Bandara Myitkyina, yang telah meningkatkan kewaspadaan sejak percobaan serangan drone pada minggu sebelumnya. Otoritas bandara juga memastikan bahwa layanan medis dan dukungan psikologis telah diberikan kepada penumpang yang mengalami trauma ringan. Sementara itu, tim teknisi maskapai mulai menilai kerugian pada pesawat untuk segera memulai proses perbaikan.

3. Pemerintah mengutuk serangan drone ke maskapai sipil sebagai kejahatan perang

Pemerintah Myanmar melalui Kementerian Informasi mengutuk keras serangan drone tersebut. Mereka secara resmi menetapkan penargetan maskapai penerbangan sipil ini sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa.

Tindakan yang menyasar fasilitas publik ini dipandang sebagai kejahatan perang, mengingat bandara dan maskapai penerbangan sipil merupakan aset penting untuk mobilitas warga dan distribusi barang kebutuhan pokok.

Sebagai langkah tindak lanjut, pasukan keamanan militer Myanmar terus mengintensifkan operasi penyisiran di sekitar bandara. Operasi ini bertujuan untuk mencari lokasi peluncuran drone, serta mengejar kelompok bersenjata yang beroperasi di pinggiran wilayah Myitkyina.

Operasi keamanan tersebut melibatkan penggunaan teknologi deteksi udara dan peningkatan patroli darat. Upaya ini dilakukan agar Bandara Myitkyina, sebagai pusat penghubung udara utama antara wilayah utara dengan kota besar seperti Yangon, dapat kembali beroperasi secara normal tanpa ancaman gangguan.

Pihak berwenang juga mengimbau masyarakat untuk melapor jika melihat aktivitas pengoperasian drone yang mencurigakan di zona larangan terbang. Sementara itu, investigasi forensik terhadap serpihan drone terus dilakukan guna mencari bukti keterlibatan pihak asing atau kelompok teroris dalam insiden ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team