Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

China Eksekusi Mati 4 Anggota Keluarga Mafia Penipuan Myanmar

bendera China
bendera China (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA)
Intinya sih...
  • Operasi penipuan telekomunikasi lintas negara.
  • Keluarga Bai terlibat dalam perdagangan manusia dan narkoba.
  • Beijing tindak tegas keluarga mafia di Myanmar.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pengadilan China mengumumkan telah mengeksekusi mati empat anggota sindikat kriminal keluarga Bai pada Senin (2/2/2026). Kelompok tersebut terbukti bersalah mengoperasikan pusat penipuan telekomunikasi lintas negara yang berbasis di wilayah perbatasan Myanmar.

Pengadilan Menengah Rakyat Shenzhen menyebut pelaksanaan hukuman mati itu sebagai bukti tindakan tegas Beijing memberantas kejahatan siber yang meresahkan. Vonis ini dijatuhkan atas serangkaian kejahatan berat termasuk pembunuhan yang menewaskan enam warga negara China serta penipuan finansial dalam skala masif.

Otoritas hukum memperkirakan sindikat yang beroperasi di wilayah Kokang ini telah merugikan korban hingga 4,2 miliar dolar AS (sekitar Rp70,4 triliun). Eksekusi empat orang ini menyusul hukuman mati terhadap 11 anggota mafia keluarga Ming pada pekan sebelumnya.

1. Terlibat kasus perdagangan manusia hingga narkoba

Ilustrasi pengadilan. (unsplash.com/Tingey Injury Law Firm)
Ilustrasi pengadilan. (unsplash.com/Tingey Injury Law Firm)

Pengadilan Shenzhen mengungkap fakta persidangan yang menunjukkan kebrutalan operasi kelompok Bai di Myanmar utara. Para terpidana terbukti melakukan penculikan, pemerasan, prostitusi paksa, hingga perdagangan manusia untuk menopang bisnis penipuan.

"Kejahatan mereka sangat keji, dengan keadaan dan konsekuensi yang sangat serius, serta menimbulkan ancaman besar bagi masyarakat," bunyi pernyataan Pengadilan Shenzhen, dilansir Al Jazeera.

Selain penipuan, salah satu anggota yang dieksekusi, Bai Yingcang, terlibat dalam perdagangan narkotika jenis sabu dalam jumlah besar. Bai Yingcang bersekongkol menjual dan memproduksi sekitar 11 ton metamfetamin.

Keluarga Bai membangun kompleks industri di Laukkaing untuk menampung aktivitas penipuan siber dan kasino ilegal. Kompleks-kompleks tersebut dijalankan dengan budaya kekerasan di mana penyiksaan dan pemukulan menjadi rutinitas sehari-hari terhadap para pekerja paksa.

2. Beijing mulai tindak tegas keluarga mafia di Myanmar

Kota Yangon, Myanma
Kota Yangon, Myanmar (unsplash.com/Zuyet Awarmatik)

BBC melansir, keluarga Bai dikenal sebagai klan nomor satu di antara empat keluarga mafia besar yang menguasai kota perbatasan Laukkaing selama bertahun-tahun. Kepala keluarga sekaligus pemimpin sindikat, Bai Suocheng, sebenarnya turut dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Namun, pemimpin klan itu meninggal dunia karena sakit sebelum eksekusi dilaksanakan.

Kekuasaan Bai Suocheng dimulai pada awal 2000-an setelah ia menjadi sekutu bagi pemimpin junta militer Myanmar saat ini, Min Aung Hlaing. Hubungan ini memungkinkan sindikat kriminal berkembang biak di bawah perlindungan implisit dari otoritas setempat selama lebih dari dua dekade. Klan Bai bahkan diketahui memiliki milisi bersenjata sendiri untuk mengamankan bisnis ilegalnya.

Kekebalan hukum dinasti Bai berakhir pada 2023 ketika Beijing mulai menekan junta Myanmar akibat maraknya korban penipuan asal China. Ketidakpuasan China terhadap lambatnya penanganan junta mendorong dukungan diam-diam terhadap serangan pemberontak etnis di wilayah tersebut. Operasi militer gabungan akhirnya berhasil menangkap para petinggi mafia di wilayah otonom Kokang.

3. Ratusan ribu orang jadi korban perdagangan manusia

Pusat-pusat penipuan di Asia Tenggara, khususnya di Myanmar, Kamboja, dan Laos, telah berkembang menjadi bisnis berskala industri yang melibatkan perputaran uang miliaran dolar AS. Sindikat kriminal memanfaatkan ketidakstabilan politik Myanmar setelah kudeta untuk memperluas operasi mereka bersama kelompok bersenjata lokal.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan ratusan ribu orang telah menjadi korban perdagangan manusia untuk bekerja sebagai penipu online di wilayah konflik tersebut. Para pekerja yang direkrut, baik secara sukarela maupun paksa, ditugaskan menjerat korban global melalui skema investasi kripto bodong dan penipuan asmara.

Pemerintah China meningkatkan kerja sama dengan negara tetangga seperti Thailand dan Myanmar untuk membongkar jaringan ini menyusul tekanan publik. Beijing menggunakan eksekusi anggota keluarga Bai dan Ming sebagai peringatan keras bagi pelaku lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Kelakar Arief Hidayat Soal Anaknya Jadi Dosen: Saya Pengin Dia Jadi Wapres

04 Feb 2026, 13:03 WIBNews