Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bus terbakar (unsplash.com/Hans Eiskonen)
ilustrasi bus terbakar (unsplash.com/Hans Eiskonen)

Intinya sih...

  • Otoritas Ukraina tuduh Rusia sengaja targetkan warga sipil.

  • Drone Shahed menghantam bus pekerja tambang, menewaskan 12 orang dan melukai 7 lainnya.

  • Serangan Rusia juga menargetkan rumah sakit bersalin.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 12 orang tewas ketika serangan drone Rusia menghantam sebuah bus yang membawa pekerja tambang di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina, pada Minggu (1/2/2026). Serangan itu juga menyebabkan tujuh orang lainnya terluka.

Dalam sebuah pernyataan, perusahaan energi DTEK mengatakan bahwa seluruh korban merupakan karyawannya yang baru saja menyelesaikan shift mereka. Video yang diunggah oleh layanan darurat menunjukkan sebuah bus hangus terbakar dengan kaca jendela yang pecah keluar dari badan jalan.

“Hari ini, musuh melancarkan serangan yang sinis dan terarah terhadap para pekerja sektor energi di wilayah Dnipro. Akibat serangan teroris tersebut, 12 pekerja tambang tewas dan tujuh lainnya luka-luka,” tulis Menteri Energi Ukraina, Denys Shmyhal, di Telegram.

1. Otoritas Ukraina tuduh Rusia sengaja targetkan warga sipil

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, hadir di lokasi yang terdampak serangan Rusia (Oleksandr Ratushniak, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir dari CNN, penasihat Menteri Pertahanan Ukraina, Serhii Beskrestnov, mengatakan bahwa sebuah drone Shahed menghantam area di dekat bus, menyebabkan kendaraan itu oleng dan menabrak pagar. Ketika para penumpang yang terluka mulai keluar dari bus, drone kedua datang dan kembali menghantam kendaraan tersebut.

“Operator dari wilayah Rusia 100 persen melihat dan mengenali target tersebut sebagai warga sipil, melihat bahwa itu bukan sasaran militer, dan secara sadar mengambil keputusan untuk menyerang,” kata Beskrestnov.

Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyebut serangan itu sebagai kejahatan demonstratif, yang menunjukkan bahwa Rusia bertanggung jawab atas eskalasi perang.

2. Serangan Rusia juga menargetkan rumah sakit bersalin

dampak kerusakan serangan Rusia di Ukraina (rbc.ua, CC BY 4.0 GFDL, via Wikimedia Commons)

Sebelumnya, enam orang terluka akibat serangan drone Rusia yang menghantam rumah sakit bersalin di kota Zaporizhzhia. Dua di antaranya adalah perempuan yang sedang melahirkan saat serangan terjadi.

Dilansir dari BBC, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiha, mengatakan serangan terhadap rumah sakit tersebut menunjukkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah melancarkan perang terhadap warga sipil yang bertentangan dengan upaya perdamaian. Ia juga melaporkan bahwa tiga orang lainnya terluka akibat serangan terpisah di kawasan permukiman.

Di tempat lainnya, dua orang tewas akibat serangan drone di kota Dnipro, Ukraina bagian tengah. Seorang pria berusia 72 tahun juga dilaporkan terluka di Nikopol.

Secara terpisah, seorang perempuan berusia 59 tahun mengalami luka serius akibat tembakan artileri di Kherson, sementara tiga orang lainnya terluka dalam serangan di Kharkiv.

3. Rusia sebelumnya sepakat hentikan sementara serangan ke Ukraina selama musim dingin

Presiden Rusia Vladimir Putin (commons.wikimedia.org)

Serangan-serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan bahwa Putin telah menyetujui penghentian sementara serangan terhadap ibu kota Ukraina, Kiev, dan kota-kota lainnya, selama musim dingin. Kremlin kemudian mengonfirmasinya dengan mengatakan bahwa jeda tersebut akan berakhir pada Minggu (8/2/2026).

Rusia dan Ukraina telah mengadakan perundingan trilateral dengan AS di ibu kota Uni Emirat Arab (UEA), Abu Dhabi, bulan lalu. Zelenskyy mengatakan perundingan putaran kedua ‍akan berlangsung di kota yang sama pada Rabu dan Kamis (4-5/2/2026).

Meskipun pejabat Ukraina dan Rusia menyetujui tuntutan Washington untuk berkompromi, Moskow dan Kiev masih memiliki perbedaan mendasar terkait bentuk kesepakatan yang akan dicapai. Isu utamanya adalah apakah Rusia akan mempertahankan atau menarik pasukannya dari wilayah Ukraina yang telah diduduki, khususnya Donbas, dan apakah Rusia dapat memperoleh wilayah lain yang hingga kini belum berhasil direbut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team