Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dubes Iran di PBB: 1.332 Warga Tewas karena Serangan AS-Israel
potret bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)
  • Dubes Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, melaporkan 1.332 warga tewas dan ribuan luka akibat serangan Amerika Serikat dan Israel yang juga merusak berbagai fasilitas publik di Iran.
  • Konflik antara AS, Israel, dan Iran telah berlangsung selama sepekan serta meluas ke beberapa negara Timur Tengah lain seperti Lebanon, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.
  • Presiden AS Donald Trump mendesak Iran menyerah dan ingin ikut menentukan pemimpin baru pascakematian Ayatollah Khamenei, namun Iran menolak campur tangan asing dalam urusan internalnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, menyebut setidaknya 1.332 warga di negaranya tewas imbas serangan Amerika Serikat dan Israel. Sementara itu, ribuan warga lainnya mengalami luka. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sidang PBB di New York pada Jumat (6/3/2026). 

Dalam pernyataannya, Iravani mengatakan, korban tewas terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Menurutnya, sudah ada lebih dari 180 anak di Iran yang tewas imbas serangan AS dan Israel. 

Iravani juga menjelaskan bahwa banyak fasilitas publik di Iran yang telah rusak karena terkena serangan AS-Israel sejak 28 Februari 2026 lalu. Salah satu fasilitas publik yang menjadi korban adalah sekolah. Menurutnya, ada lebih dari 20 sekolah di Iran yang hancur usai terkena serangan AS-Israel.

1. Iravani menyayangkan serangan AS-Israel ke warga sipil dan fasilitas publik

ilustrasi warga sipil Iran (unsplash.com/Hadi Yazdi Aznaveh)

Di sidang PBB, Iravani menyayangkan tindakan Negeri Paman Sam dan Israel yang menyerang warga sipil dan fasilitas publik yang ada di Iran. Menurutnya, tindakan tersebut telah melanggar hukum internasional. Sebab, rakyat sipil dan fasilitas publik tidak boleh dijadikan objek serangan dalam peperangan. 

Dalam melakukan serangan balasan ke AS dan Israel, Iran juga tidak menyasar warga sipil dan fasilitas publik. Menurut Iravani, Iran hanya menyasar markas militer AS yang ada di negara sekutunya, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Oleh karena itu, di depan peserta sidang PBB, Iravani juga membantah keras tuduhan AS yang mengklaim Iran telah melancarkan serangan ke rakyat sipil yang ada di negara sekutunya.

"Penilaian awal kami menunjukkan bahwa beberapa insiden ini mungkin diakibatkan oleh pencegahan atau gangguan oleh sistem pertahanan Amerika Serikat yang dapat mengalihkan sasaran dari target militer yang dimaksud," kata Iravani dilansir CNA.

2. Perang AS-Israel dengan Iran sudah berjalan satu pekan

ilustrasi konflik Iran dan Amerika Serikat (pixabay.com/geralt)

Saat ini, perang antara AS, Israel, dan Iran sudah berjalan satu pekan. Namun, hingga saat ini, AS dan Israel masih terus menyerang Iran. Ini membuat situasi konflik di Timur Tengah semakin membara. 

Perang kini juga sudah menyebar ke negara-negara Timur Tengah lainnya, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Lebanon. Lebanon juga terseret konflik karena milisi Hizbullah diduga membantu Iran melawan AS dan Israel. Oleh karena itu, pasukan Israel juga melakukan serangan ke Lebanon.

Hingga saat ini, Israel masih menyerang Lebanon. Imbas serangan ini, korban jiwa terus berjatuhan. Kementerian Kesehatan Lebanon pada Jumat melaporkan, jumlah korban tewas imbas serangan Israel sudah mencapai 217 orang. Sementara itu, jumlah korban luka sudah mencapai 798 orang.

3. Donald Trump minta Iran segera menyerah

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Official White House photo)

Untuk mengakhiri serangan-serangan ini, Presiden AS, Donald Trump, mendesak Iran untuk segera menyerah. Jika tidak, Trump mengancam serangan ke Iran akan terus berlanjut.

Dalam pernyataannya, Trump juga mendesak Iran untuk segera mengangkat pemimpin baru usai kematian Ayatollah Ali Khamenei. Namun, Trump ingin ikut campur dalam pemilihan pemimpin Iran. Sebab, ia menganggap AS punya hak untuk ikut menentukan siapa pemimpin Iran selanjutnya.

Namun, permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Iran. Iravani menegaskan bahwa pemilihan pemimpin baru Iran sepenuhnya berada di tangan pemerintah dan rakyat, bukan di tangan pihak asing seperti AS.

"Pemilihan pemimpin Iran akan berlangsung sepenuhnya sesuai dengan prosedur konstitusional kami dan semata-mata atas kehendak rakyat Iran tanpa campur tangan asing," tegas Iravani dilansir The Strait Times

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team