Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Presiden Iran Minta Maaf karena Negara Teluk Ikut Jadi Sasaran Serangan

Presiden Iran Minta Maaf karena Negara Teluk Ikut Jadi Sasaran Serangan
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada negara-negara Teluk yang terdampak serangan militer, dan menegaskan tidak akan lagi menyerang tetangga kecuali jika Iran diserang lebih dulu.
  • Iran menolak tawaran mediasi dan negosiasi dengan Amerika Serikat, menuding Washington kerap melanggar perjanjian serta menyatakan tidak percaya pada proses diplomasi dengan pihak musuh.
  • Pemerintah Iran menunda pemakaman Ayatullah Ali Khamenei yang gugur akibat serangan drone Israel-AS, dan belum menetapkan tanggal baru untuk prosesi penghormatan terakhirnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di kawasan Timur Tengah karena ikut terdampak serangan militer. Sejak diserang lebih dulu oleh Israel dan Amerika Serikat (AS), Iran menyasar sejumlah pangkalan militer milik Negeri Paman Sam yang berlokasi di sejumlah negara Timur Tengah.

"Saya harus meminta maaf atas nama pribadi dan Pemerintah Iran ke sejumlah negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran," ujar Pezeshkian dalam sebuah pernyataan yang direkam dan dikutip harian Inggris, The Guardian pada Sabtu (7/3/2026).

Ia juga menyebut dewan pemerintahan sementara Iran telah sepakat tidak ada lagi serangan atau rudal yang akan diarahkan ke negara tetangganya, kecuali serangan terhadap Iran datang dari negara-negara tetangga tersebut.

Sementara, dikutip dari laman Deutsche Welle, Pezeshkian mengatakan, Iran tidak akan pernah menyerah terhadap Israel maupun AS. Pernyataan tegas itu disampaikan ketika perang sudah memasuki pekan kedua. Pezeshkian menyebut, seruan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran agar menyerah tanpa perlawanan bak mimpi di siang bolong.

"Mimpi itu sebaiknya mereka bawa ke liang kubur," tutur dia.

1. Iran akan balas serangan AS lebih keras

Presiden Iran Minta Maaf karena Negara Teluk Ikut Jadi Sasaran Serangan
potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (whitehouse.gov)

Konflik militer antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Bahkan Trump mengancam akan menyerang Iran lebih keras.

Ia juga mengklaim Iran sudah menyerah dalam memberikan perlawanan terhadap negara tetangganya di Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan Trump usai Pezeshkian meminta maaf kepada negara tetangganya karena mereka ikut menjadi sasaran serangan militer.

Sementara itu, seorang pejabat berwenang di Iran mengatakan kepada stasiun berita CNN, Iran sedang membidik aset-aset baru milik AS untuk diserang. Sebelumnya, Pasukan Garda Revolusi Iran mengklaim telah menembak kapal tanker minyak milik AS dengan drone di Teluk Persia.

"Sebuah kapal tanker minyak dengan nama dagang 'Louise P' yang berbendera Kepulauan Marshall, salah satu aset teroris Amerika, telah diserang oleh drone di tengah Teluk Persia," demikian yang ditulis di situs berita Sepah News, dan stasiun berita Al Jazeera.

2. Iran menolak bernegosiasi dengan AS

Presiden Iran Minta Maaf karena Negara Teluk Ikut Jadi Sasaran Serangan
Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi melakukan konferensi terkait serangan Israel dan AS ke Iran di Jakarta, Senin (2/3/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan, Tehran menolak tawaran mediasi sejumlah negara dalam meredakan eskalasi konflik Timur Tengah. Hal itu lantaran Iran tidak akan berunding dengan AS.

Pernyataan itu disampaikan Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3), merujuk pada pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia yang menyatakan, Indonesia siap untuk memfasilitasi dialog agar kondisi keamanan dan kondusif dapat tercipta. Di dalam pernyataan itu, Kemlu menyebut, Presiden RI Prabowo Subianto untuk menjadi mediator.

“Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi,” ujar Boroujerdi.

Diplomat itu menegaskan, Iran pernah melewati negosiasi dengan AS sebanyak tiga kali, dan selalu berujung Washington yang melanggar perjanjian atau melancarkan serangan.

3. Belum ditentukan tanggal baru pemakaman Ayatullah Khamenei

Presiden Iran Minta Maaf karena Negara Teluk Ikut Jadi Sasaran Serangan
Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Pemerintah Iran belum menentukan tanggal baru kapan pemimpin tertinggi mereka, Ayatullah Ali Khamenei akan dimakamkan. Khamenei sebelumnya direncanakan dimakamkan pada Rabu (4/3/2026). Prosesi pemakaman semula dilakukan selama tiga hari, tetap, rencana itu kemudian ditunda.

"Upacara perpisahan untuk Imam yang syahid telah ditunda. Tanggal baru akan diumumkan kemudian," demikian dilaporkan stasiun berita milik Pemerintah Iran.

Khamenei gugur di usia 86 tahun pada Sabtu (28/2/2026) dalam serangan militer Israel dan AS di kediamannya. Khamenei terkena serangan drone ketika sedang berada di ruang kerjanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in News

See More