Janji Presiden Iran Tak Lagi Serang Negara Tetangga

- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negara tetangga tidak lagi akan diserang, kecuali jika serangan berasal dari wilayah mereka, sambil menyampaikan permintaan maaf atas insiden sebelumnya.
- Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang telah menyebabkan kerusakan besar serta gangguan pada penerbangan dan produksi energi di kawasan Teluk.
- Lebih dari 1.000 orang tewas akibat serangan militer AS ke Iran, sementara ketegangan terus memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasar energi dan keamanan regional.
Jakarta, IDN Times - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, negara-negara tetangga tidak akan lagi menjadi sasaran, kecuali jika serangan berasal dari sana. Negara tetangga Iran terkena imbas serangan balasan, seiring perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak sepekan lalu.
Serangan AS dan Israel memicu pembalasan berkelanjutan dari Teheran di seluruh Teluk dan sekitarnya, dan kini memasuki minggu kedua.
“Dewan kepemimpinan sementara Iran menyetujui mosi tersebut pada Jumat (6/3/2026),”kata Pezeshkian dalam pernyataannya, Sabtu (7/3/2026).
Dalam pernyataan yang disiarkan oleh media Iran, presiden juga meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
1. De-eskalasi skala kecil dari Iran

Pernyataan presiden Iran tersebut merupakan deeskalasi, meskipun kecil, dalam situasi yang sangat meningkat karena ini adalah hari kedelapan dimulainya serangan AS dan Israel di seluruh Iran.
Komentar Pezeshkian disampaikan dalam pernyataan lima menit yang telah direkam sebelumnya.
Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman, semua negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), telah menjadi sasaran karena keberadaan aset AS di dalam dan sekitar perbatasan mereka. Irak, Yordania, Azerbaijan, dan Turki juga telah menjadi sasaran.
Di Teluk, telah terjadi kematian, kerusakan, dan gangguan besar pada penerbangan, penutupan wilayah udara, dan dampak besar pada produksi minyak dan gas yang bergema di seluruh dunia.
Namun, Qatar mengatakan telah menggagalkan serangan rudal beberapa menit setelah media Iran merilis pesan yang telah direkam sebelumnya dari Pezeshkian.
2. Perang Iran ancam kekacauan pasar energi global

Sementara itu, Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, mengatakan ekspor dari kawasan Teluk dapat terhenti dalam beberapa minggu, jika perang di Iran terus meningkat, yang akan menyebabkan kekacauan di pasar energi global.
Al-Kaabi mengatakan, kepada surat kabar The Financial Times (FT), jika perang berlanjut selama beberapa minggu, pertumbuhan PDB di seluruh dunia akan terpengaruh.
“Harga energi semua orang akan naik. Akan ada kekurangan beberapa produk, dan akan terjadi reaksi berantai di mana pabrik-pabrik tidak dapat memasok,” kata al-Kaabi.
3. Lebih dari 1.000 jiwa tewas di Iran

Komando Pusat militer AS mengatakan telah menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dan menghancurkan 43 kapal perang Iran sejak 28 Februari. Serangan tersebut menyebabkan jumlah korban tewas di Iran kini meningkat menjadi setidaknya 1.332 orang.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menuntut ‘penyerahan tanpa syarat’ dari Iran. Trump menyatakan bahwa tidak akan ada kesepakatan tanpa itu.
Di sisi lain, Iran menegaskan, mereka tidak akan menyerah. Meski demikian, militer Iran mengkonfirmasi bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi secara eksplisit menyatakan mereka akan menargetkan kapal AS atau Israel mana pun yang mencoba melewatinya.
Wakil menteri luar negeri Iran juga memperingatkan negara-negara Eropa, mereka akan menjadi ‘target yang sah’ untuk pembalasan Iran jika mereka bergabung dengan AS dan Israel dalam konflik tersebut.

















