ilustrasi bendera Palestina (pexels.com/Alfo Medeiros)
Di samping perjalanan laut, panitia juga merancang pelaksanaan Sumud land convoys Satu konvoi akan bergerak dari kawasan Afrika Utara, menembus wilayah Mesir, lalu menuju perbatasan Rafah dengan membawa bantuan berupa perlengkapan medis, bahan makanan, dan kebutuhan lain, didampingi dokter, insinyur, serta berbagai tenaga ahli. Rute konvoi kedua direncanakan berangkat dari Asia Selatan, tetapi detail pelaksanaannya akan diumumkan pada waktu berikutnya. Seorang aktivis mengungkapkan bahwa inisiatif tersebut dianggap penting karena akses melalui perbatasan Rafah masih sangat dibatasi.
“Jadi koridor-koridor bertenaga manusia ini adalah tanggung jawab kami, dan kami benar-benar harus mengambil tanggung jawab kami sebagai orang-orang dari seluruh dunia,” katanya, dikutip dari Saudi Gazzete.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim telah menegaskan pada 2026 bahwa pemerintah Malaysia akan berpartisipasi langsung dalam misi Sumud yang akan datang.
Pihak penyelenggara menyebut program ini sebagai pilihan lain dari gagasan Trump, dengan menempatkan rakyat Palestina sebagai pihak yang berhak menentukan proses pembangunan kembali wilayah mereka sendiri. Kegiatan itu dipaparkan sebagai langkah yang sejalan dengan ketentuan hukum maritim internasional serta bertujuan menentang pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap akses menuju Gaza dan menarik perhatian dunia pada situasi kemanusiaan di sana, meskipun kapal-kapal yang terlibat tidak benar-benar memasuki wilayah Gaza.
“Kami mungkin belum mencapai Gaza secara fisik (tetapi) kami telah mencapai … rakyat di Gaza. Mereka tahu bahwa kami peduli, bahwa kami tak akan berhenti pada apa pun sampai kami benar-benar mematahkan pengepungan,” kata Aktivis, Susan Abdallah.