Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
tentara Nigeria
tentara Nigeria (Hussaina Muhammad (VOA), Public domain, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Serangan brutal di Kwara menewaskan 162 orang.

  • Penyerang membakar desa dan mengikat serta mengeksekusi warga tanpa ampun.

  • Serangan terpisah di Katsina dan Borno juga merenggut nyawa.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kelompok bersenjata melancarkan serangan mematikan di negara bagian Kwara, Nigeria bagian barat, yang menewaskan sedikitnya 162 orang. Insiden pada Selasa (3/2/2026) malam itu menjadi salah satu kekerasan paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir, di mana para pelaku menyerbu desa, membakar properti, dan menculik warga termasuk seorang raja lokal.

Palang Merah setempat mengonfirmasi lonjakan jumlah korban jiwa seiring berjalannya proses pencarian jenazah di desa Woro dan Nuku. Selain di Kwara, serangan terpisah juga terjadi di negara bagian Katsina yang menewaskan 21 orang, memperparah krisis keamanan di negara terpadat Afrika tersebut yang kini menghadapi pemberontakan ganda dari faksi Boko Haram dan kelompok Lakurawa.

1. Eksekusi brutal dan perusakan properti di Kwara

sekelompok warga mengibarkan bendera Nigeria (unsplash.com/Salem Ochidi)

Para saksi mata dan pejabat lokal melaporkan bahwa gerombolan penyerang mengepung desa sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Mereka tidak hanya menembak secara acak, tetapi juga mengumpulkan penduduk, mengikat tangan korban ke belakang, dan mengeksekusi warga tanpa ampun.

Anggota parlemen wilayah tersebut, Sa’idu Baba Ahmed, menyebutkan bahwa para pelaku membakar habis pertokoan serta istana raja setempat. Banyak penduduk desa melarikan diri ke semak-semak dengan luka tembak, sementara nasib Raja Alhaji Salihu Umar hingga kini belum diketahui.

Amnesty International mengkritik kegagalan aparat keamanan dalam mencegah tragedi yang menurut hitungan mereka telah merenggut lebih dari 170 nyawa. Organisasi hak asasi manusia itu mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa para pelaku sebenarnya telah mengirimkan surat peringatan kepada penduduk desa sejak lima bulan lalu.

2. Motif balas dendam atas operasi militer

bendera Nigeria (unsplash.com/Emmanuel Ikwuegbu)

Gubernur negara bagian Kwara, AbdulRahman AbdulRazaq, mengutuk insiden berdarah itu dan mengaitkannya dengan tekanan militer terhadap kelompok ekstremis. Pihak berwenang meyakini serangan brutal ini merupakan bentuk keputusasaan dan balasan dari sel-sel teroris yang terdesak oleh operasi kontraterorisme yang sedang berlangsung.

Militer Nigeria sebelumnya mengklaim telah melancarkan serangan terkoordinasi di wilayah itu bulan lalu dan berhasil menewaskan sekitar 150 anggota kelompok bandit dan teroris. Pasukan keamanan juga dilaporkan telah menghancurkan kamp-kamp logistik tersembunyi yang selama ini sulit dijangkau di dalam hutan.

Kekerasan di Kwara diduga kuat dilakukan oleh Lakurawa, sebuah faksi bersenjata yang memiliki afiliasi dengan ISIS dan beroperasi di perbatasan Nigeria-Niger. Kelompok itu diketahui semakin aktif melakukan teror di komunitas perbatasan setelah kudeta militer di negara tetangga Niger pada 2023.

“Serangan ini adalah ekspresi frustrasi yang pengecut dari sel-sel teroris menyusul kampanye kontraterorisme yang sedang berlangsung di beberapa bagian negara bagian,” tutur Gubernur AbdulRahman AbdulRazaq, dikutip The Guardian.

3. Pembantaian juga terjadi di negara bagian Katsina dan Borno

ilustrasi kerusuhan (unsplash.com/Alex McCarthy)

Gelombang kekerasan tidak hanya terjadi di Kwara, tetapi juga meluas ke desa Doma di negara bagian Katsina, di mana kelompok bersenjata menewaskan sedikitnya 21 orang. Insiden brutal yang dilakukan dengan metode penembakan dari rumah ke rumah ini merusak perjanjian damai yang sebelumnya telah disepakati antara komunitas lokal dan kelompok bersenjata selama enam bulan terakhir.

Teror serupa mengguncang negara bagian Borno di timur laut, di mana serangan terpisah oleh tersangka militan Boko Haram menewaskan 17 orang pada hari yang sama. Wilayah ini sebelumnya juga memanas setelah ekstremis membunuh 36 orang di lokasi konstruksi dan pangkalan militer pekan lalu.

Eskalasi konflik mendorong peningkatan kerja sama keamanan antara Abuja dan Washington. Komando Afrika AS (AFRICOM) mengonfirmasi pengiriman tim militer ke Nigeria untuk bantuan intelijen dan pelatihan, menyusul desakan Presiden AS Donald Trump yang menyoroti perlindungan umat Kristen di tengah krisis keamanan tersebut.

Namun, pengamat menilai pendekatan militeristis saja tidak cukup tanpa pembenahan sistem keamanan yang mendasar.

“Operasi militer memang efektif membunuh beberapa komandan bandit. Namun, belum ada komponen penegakan hukum yang seharusnya mencegah kelompok ini bergerak dan beroperasi,” ungkap analis keamanan Kabir Adamu, dilansir Al Jazeera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team