Angkatan Laut Israel menyambut kedatangan kapal perang China di Pelabuhan Haifa pada 13 Agustus 2012. Kehadiran kapal ini menandai 20 tahun kerja sama antara Angkatan Laut Israel dan China. Komandan Pangkalan Haifa, Brigjen Eli Sharvit, menyambut kedatangan Laksamana Muda Yang Jun-Fei. (https://www.flickr.com/people/45644610@N03, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
Pemimpin pemberontak Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, pada Minggu (28/12/2025) menyatakan bahwa keputusan Israel berisiko menimbulkan dampak serius. Ia menyebut pengakuan tersebut sebagai tindakan bermusuhan yang tak hanya mengancam Somalia, tetapi juga kawasan Afrika di sekitarnya, Yaman, Laut Merah, hingga negara-negara di sepanjang kedua pesisir laut itu.
“Kami menganggap kehadiran Israel apa pun di Somaliland sebagai target militer bagi angkatan bersenjata kami, karena itu merupakan agresi terhadap Somalia dan Yemen, serta ancaman terhadap keamanan kawasan,” ujar Abdul-Malik al-Houthi, sebagaimana tertuang dalam pernyataan yang disebarkan media kelompok tersebut secara daring, dikutip dari Al Jazeera.
Sejalan dengan itu, para analis kawasan menilai kerja sama Israel dengan Somaliland membuka peluang akses yang lebih luas ke Laut Merah. Akses tersebut dinilai memungkinkan Israel bergerak lebih leluasa dalam melancarkan operasi militer terhadap kelompok Houthi di Yaman.