Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung. (x.com/대한민국 대통령실)
Di Seoul, Presiden Lee menegaskan kembali posisi strategis negaranya dalam konferensi pers memperingati satu tahun pelantikannya. Lee menolak opsi bagi Korsel untuk mengembangkan persenjataan nuklirnya sendiri.
Menurut Lee, mempersenjatai negaranya dengan nuklir bukanlah pilihan realistis karena dua alasan utama. Pertama, risiko geopolitik, di mana langkah tersebut dapat memicu perlombaan senjata nuklir yang berbahaya di kawasan Asia Timur. Kedua, sanksi internasional, yang mana konsekuensi sanksi ekonomi global akan sangat memukul Korsel yang ekonominya sangat bergantung pada perdagangan internasional.
"Jika Korsel memiliki senjata nuklir, apakah Jepang dan Taiwan akan tinggal diam? Seluruh kawasan bisa dipenuhi senjata nuklir," ujar Lee, pada 8 Juni 2026.
Lee juga mengungkapkan kekhawatirannya atas aktivitas nuklir Korea Utara (Korut) yang terus berjalan. Korut diperkirakan masih memproduksi bahan mentah yang cukup, guna menghasilkan 10 hingga 20 hulu ledak nuklir per tahun. Ini termasuk pengembangan teknologi rudal balistik antarbenua (ICBM) yang hampir mencapai tahap pengembangan akhir.
Sebagai langkah taktis, Lee mengusulkan pendekatan bertahap. Ia menekankan negosiasi jangka pendek harus difokuskan untuk menghentikan produksi bahan nuklir Korut terlebih dahulu. Sementara, denuklirisasi total Semenanjung Korea tetap menjadi tujuan jangka panjang. Menurutnya, ia memiliki pandangan yang sama dengan negara-negara, termasuk Amerika Serikat, China, dan Rusia.