Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilmuwan Ungkap 7 Negara yang Mampu Selamat saat Dunia Kolaps
ilustrasi dystopia (unsplash.com/Patrick Perkins)
  • Penelitian dari Global Sustainability Institute dan jurnal Risk Analysis mengungkap tujuh negara yang dinilai paling mampu bertahan jika peradaban modern runtuh akibat krisis global ekstrem.
  • Negara seperti New Zealand, Iceland, dan Irlandia menonjol karena kemandirian energi, stabilitas iklim, serta kemampuan produksi pangan lokal yang tinggi untuk menopang kehidupan masyarakatnya.
  • Hasil studi menegaskan bahwa ketahanan pangan, energi terbarukan, dan lokasi geografis lebih menentukan daya tahan suatu negara dibanding kekuatan ekonomi atau teknologi canggih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bayangan tentang dunia kolaps mungkin terdengar seperti cerita film dystopia. Akan tetapi, sejumlah ilmuwan benar-benar pernah mencoba menghitung negara mana yang punya peluang paling besar untuk tetap bertahan jika peradaban modern runtuh.

Skenarionya cukup ekstrem, mulai dari perang nuklir, perubahan iklim besar-besaran, sampai bencana yang membuat sinar matahari tertutup selama bertahun-tahun. Para peneliti menilai banyak faktor penting seperti kemampuan memproduksi pangan, kemandirian energi, hingga lokasi geografis suatu negara.

Hasilnya cukup mengejutkan karena hanya ada tujuh negara yang dianggap memiliki peluang paling tinggi untuk mempertahankan kehidupan masyarakatnya. Daftar ini pun membuka mata bahwa negara maju belum tentu otomatis paling siap menghadapi krisis global.

1. New Zealand

ilustrasi New Zealand (pexels.com/Ketan Kumawat)

Dalam jurnal Sustainability, New Zealand disebut sebagai negara dengan peluang terbesar untuk bertahan saat dunia mengalami keruntuhan global. Nick King dan Profesor Aled Jones dari Global Sustainability Institute di Anglia Ruskin University menjelaskan bahwa negara ini punya kombinasi ideal berupa iklim stabil, sumber energi terbarukan kuat, serta lahan pertanian luas. Lokasinya yang cukup terisolasi di Pasifik Selatan juga dianggap memberi perlindungan alami dari kekacauan global.

New Zealand memiliki pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi yang bisa menopang kebutuhan energi nasional tanpa terlalu bergantung pada impor bahan bakar. Selain itu, jumlah penduduknya relatif kecil dibanding kapasitas lahan pertanian yang tersedia. Kondisi tersebut membuat negara ini dinilai lebih siap menjaga produksi pangan ketika rantai pasokan internasional berhenti total. Sistem infrastrukturnya juga dianggap cukup kuat untuk mempertahankan fungsi dasar masyarakat.

2. Iceland

ilustrasi Islandia (pexels.com/Koen Swiers)

Iceland menjadi salah satu negara paling menarik dalam daftar ini karena hampir sepenuhnya mandiri dalam urusan energi. Negara tersebut memanfaatkan tenaga panas bumi dan pembangkit listrik tenaga air untuk memenuhi kebutuhan nasionalnya. Kemandirian energi seperti ini dianggap sangat penting karena banyak negara modern masih bergantung pada pasokan bahan bakar dari luar negeri.

Selain energi, Iceland punya keuntungan lain berupa populasi kecil dengan tekanan sumber daya yang lebih rendah. Wilayahnya yang berbentuk pulau juga membantu pemerintah lebih mudah mengelola distribusi pangan dan kebutuhan dasar. Para ilmuwan menilai kondisi tersebut bisa membantu Iceland menjaga stabilitas sosial lebih lama dibanding negara besar dengan populasi padat.

3. Ireland

ilustrasi Irlandia (pexels.com/Anastasiia Lopushynska)

Irlandia masuk dalam daftar karena memiliki iklim laut sedang yang relatif stabil serta area pertanian yang luas. Faktor ini membuat negara tersebut punya kemampuan lebih baik dalam mempertahankan produksi pangan ketika kondisi global memburuk. Kemampuan memenuhi kebutuhan makanan sendiri dianggap menjadi salah satu syarat utama untuk bertahan dalam situasi krisis berkepanjangan.

Meski begitu, Irlandia masih memiliki tantangan dalam sektor energi. Infrastruktur energi terbarukan negara ini belum sekuat New Zealand maupun Iceland. Artinya, Irlandia masih cukup bergantung pada sistem global untuk beberapa kebutuhan penting. Walaupun demikian, kombinasi kondisi alam dan kapasitas pertanian tetap membuat negara ini dianggap lebih aman dibanding banyak wilayah lain di dunia.

4. Inggris

ilustrasi Inggris (pexels.com/Adrian Limani)

Inggris juga masuk dalam daftar negara dengan peluang bertahan paling tinggi, meski situasinya dinilai cukup rumit. Wilayah Kepulauan Inggris memiliki iklim laut yang membantu menjaga suhu tetap lebih stabil dibanding kawasan lain. Faktor tersebut penting karena perubahan suhu ekstrem diperkirakan menjadi salah satu ancaman terbesar jika dunia mengalami krisis besar.

Sayangnya, kepadatan penduduk Inggris menjadi tantangan serius. Jumlah penduduk yang tinggi bisa memicu tekanan besar terhadap pasokan pangan apabila perdagangan global lumpuh. Selain itu, negara ini masih bergantung pada impor berbagai komponen penting untuk listrik dan sistem produksi makanan. Kondisi tersebut membuat Inggris dinilai lebih rentan dibanding negara kepulauan lain dalam daftar ini.

5. Australia

ilustrasi Tasmania, Australia (unsplash.com/Michael Jerrard)

Australia dianggap punya posisi unik karena hasil penelitiannya berbeda tergantung jenis bencana global yang terjadi. Dalam jurnal Risk Analysis, Australia justru ditempatkan sebagai salah satu negara terbaik untuk bertahan dalam skenario musim dingin nuklir. Luas wilayah serta kapasitas produksi pangannya dinilai menjadi keunggulan besar.

Sebagian besar daratan Australia memang terkenal panas dan kering sehingga kurang ideal untuk menghadapi perubahan iklim ekstrem jangka panjang. Akan tetapi, wilayah Tasmania disebut memiliki kondisi yang jauh lebih mendukung. Iklimnya lebih sejuk dan sumber dayanya lebih stabil untuk menopang kehidupan masyarakat. Para peneliti juga menyebut Australia punya cadangan pangan sangat besar yang dapat membantu jutaan orang bertahan hidup.

6. Solomon Islands

ilustrasi Solomon Islands (unsplash.com/Vicki Garside)

Solomon Islands menjadi salah satu nama yang cukup mengejutkan dalam daftar ini. Negara kepulauan kecil tersebut ternyata dinilai memiliki sistem pertanian lokal yang mampu menopang kebutuhan masyarakatnya sendiri. Kemampuan bertahan tanpa terlalu bergantung pada rantai pasokan global menjadi poin penting dalam penilaian para ilmuwan.

Negara ini memang gak memiliki teknologi secanggih negara maju. Akan tetapi, pola hidup masyarakat yang masih dekat dengan pertanian tradisional justru dianggap sebagai keuntungan saat dunia mengalami krisis besar. Sistem sederhana seperti itu dinilai lebih fleksibel ketika infrastruktur modern mulai runtuh dan distribusi global berhenti berjalan.

7. Vanuatu

ilustrasi Vanuatu (unsplash.com/Seiji Seiji)

Vanuatu juga termasuk negara dengan peluang bertahan cukup tinggi dalam skenario dunia kolaps. Dalam jurnal Risk Analysis, negara ini disebut memiliki kemampuan produksi pangan lokal yang cukup baik untuk memenuhi kebutuhan penduduknya sendiri. Letaknya yang terpencil juga membantu mengurangi dampak langsung dari konflik global berskala besar.

Meski infrastrukturnya gak sebesar negara maju, Vanuatu dianggap memiliki ketahanan alami dari sisi sosial dan pangan. Ketergantungan yang lebih rendah terhadap perdagangan internasional membuat masyarakatnya diperkirakan lebih mudah beradaptasi saat krisis global terjadi. Para peneliti melihat bahwa kesederhanaan sistem ekonomi kadang justru bisa menjadi keunggulan dalam kondisi ekstrem.

Daftar tujuh negara ini menunjukkan bahwa kemampuan bertahan saat dunia kolaps ternyata gak selalu ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau teknologi canggih. Ketersediaan pangan, energi mandiri, serta kondisi geografis justru menjadi faktor utama dalam menentukan daya tahan suatu negara. Jurnal Sustainability dan Risk Analysis sama-sama menyoroti pentingnya kemampuan memenuhi kebutuhan dasar tanpa bergantung penuh pada sistem global.

Penelitian tersebut juga memberi gambaran bahwa banyak negara sebenarnya masih bisa meningkatkan ketahanan mereka sejak sekarang. Pengembangan energi terbarukan, penguatan produksi pangan lokal, dan pengurangan ketergantungan impor dianggap menjadi langkah penting menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Kalau suatu hari dunia benar-benar mengalami krisis besar, negara yang paling siap kemungkinan adalah negara yang mampu hidup mandiri dalam waktu lama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article