RI dan 17 Negara Tolak Kedubes Somaliland untuk Israel di Yerusalem

- Indonesia dan 17 negara mayoritas Muslim mengecam rencana Somaliland membuka kedutaan di Yerusalem, menilai langkah itu melanggar hukum internasional dan mengancam status Yerusalem Timur sebagai wilayah Palestina.
- Somaliland berencana membuka kedutaan untuk Israel di Yerusalem, sementara Israel akan mendirikan perwakilan diplomatik di Hargeisa, menandai penguatan hubungan kedua pihak sejak pengakuan Israel atas Somaliland pada 2025.
- Negara-negara Muslim menegaskan dukungan penuh terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Somalia serta menolak tindakan apa pun yang dapat merusak persatuan nasional negara tersebut.
Jakarta, IDN Times - Indonesia bersama 17 negara mayoritas Muslim mengecam keras langkah Somaliland yang berencana membuka kedutaan di Yerusalem yang diduduki. Pemerintah Indonesia menilai langkah tersebut melanggar hukum internasional dan mengancam status hukum Yerusalem Timur sebagai wilayah Palestina yang diduduki.
Kecaman itu disampaikan melalui pernyataan bersama para menteri luar negeri dari Indonesia, Mesir, Arab Saudi, Qatar, Yordania, Turki, Pakistan, Palestina, hingga Somalia. Pernyataan tersebut muncul setelah Somaliland mengumumkan rencana pembukaan kedutaan besar untuk Israel di Yerusalem.
Dalam pernyataan bersama, para menteri menilai pembukaan kedutaan Somaliland di Yerusalem merupakan tindakan ilegal dan tidak dapat diterima.
“Mengutuk keras langkah ilegal dan tidak dapat diterima yang diambil oleh wilayah yang disebut Somaliland dalam membuka kedutaan di Yerusalem yang diduduki,” demikian bunyi pernyataan yang diunggah Kemlu RI di X, Minggu (24/5/2026).
Para menteri menyebut, langkah itu sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan resolusi internasional yang releva, serta dianggap melanggar status hukum dan sejarah Yerusalem yang diduduki.
1. RI dan negara Muslim tegaskan status Yerusalem Timur

Dalam pernyataan bersama itu, negara-negara peserta juga menegaskan penolakan terhadap segala bentuk tindakan sepihak yang dinilai berupaya mengubah status Yerusalem. Para menlu menegaskan, Yerusalem Timur tetap merupakan wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967, dan tidak bisa diubah secara sepihak.
“Mereka menegaskan kembali bahwa Yerusalem Timur telah menjadi wilayah Palestina yang diduduki sejak tahun 1967, dan bahwa setiap tindakan yang dimaksudkan untuk mengubah status hukum dan historisnya adalah batal, dan tidak sah serta tanpa efek hukum,” tulis pernyataan tersebut.
Negara-negara tersebut juga menolak segala bentuk legitimasi terhadap pengaturan atau entitas yang bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Mereka menegaskan kembali penolakan kategoris mereka terhadap setiap tindakan sepihak yang bertujuan untuk memperkuat realitas ilegal di Yerusalem yang diduduki,” lanjut isi pernyataan.
Pernyataan itu menjadi respons diplomatik terbaru dari negara-negara Muslim terhadap penguatan hubungan antara Israel dan Somaliland dalam beberapa bulan terakhir.
2. Somaliland dan Israel perkuat hubungan diplomatik

Pemerintah Somaliland sebelumnya mengumumkan rencana membuka kedutaan besar untuk Israel di Yerusalem. Sebagai balasan, Israel juga disebut akan mendirikan perwakilan diplomatik di Hargeisa, ibu kota Somaliland.
Pengumuman itu disampaikan Duta Besar Somaliland untuk Israel, Mohamed Hagi pada Selasa (19/5/2026).
“Kedutaan akan segera dibuka, sementara Israel juga bakal mendirikan kedutaannya di Hargeisa. Hal ini mencerminkan persahabatan yang berkembang, rasa saling menghormati, dan kerja sama strategis antara kedua bangsa kita,” ujar Hagi seperti dikutip The Jerusalem Post.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar turut menyambut keputusan Somaliland memilih Yerusalem sebagai lokasi kedutaan. Israel sendiri menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui kemerdekaan Somaliland pada Desember 2025. Pada April lalu, Israel juga menunjuk Michael Lotem sebagai duta besar pertama untuk wilayah tersebut.
Somaliland merupakan wilayah yang memproklamasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991, namun hingga kini belum diakui secara luas oleh komunitas internasional.
3. Negara Muslim tegaskan dukungan untuk Somalia
Selain menyoroti Yerusalem, pernyataan bersama tersebut juga menegaskan dukungan penuh terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Somalia. Para menteri luar negeri menolak tindakan apa pun yang dinilai dapat merusak persatuan wilayah Somalia.
“Mereka selanjutnya menekankan dukungan penuh mereka terhadap persatuan, kedaulatan, dan integritas wilayah Republik Federal Somalia,” demikian isi pernyataan itu.
Negara-negara tersebut juga menyampaikan penolakan tegas terhadap setiap tindakan sepihak yang merusak persatuan wilayah Somalia atau melanggar kedaulatannya. Sikap bersama itu memperlihatkan kekhawatiran negara-negara Muslim terhadap dampak diplomatik dan politik dari hubungan Israel-Somaliland, terutama terkait status Yerusalem dan isu pengakuan wilayah Somaliland.

















