Jakarta, IDN Times - Ketegangan di kawasan Timur Tengah makin memicu kekhawatiran global setelah Iran melalui Garda Revolusinya (IRGC) memberi peringatan kepada kapal-kapal bahwa mereka tidak boleh melewati Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi titik penting bagi pengiriman minyak dunia. Pernyataan ini dikabarkan disampaikan lewat radio VHF kepada kapal-kapal yang melintas, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran tentang penutupan formalnya.
Imbas Serangan AS-Israel, Iran Tutup Selat Hormuz

1. Garda Revolusi kirim peringatan, kapal dilarang melintas
Dilansir BBC, sejumlah kapal di kawasan Teluk menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Garda Revolusi Iran (IRGC) yang memperingatkan bahwa kapal-kapal tidak akan diizinkan melintasi Selat Hormuz. Laporan tersebut menyebut pesan itu disampaikan langsung kepada kapal komersial yang berada di sekitar jalur air strategis tersebut.
Pembatasan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Israel, serta keterlibatan Amerika Serikat. Al Jazeera menilai langkah Iran sebagai respons langsung terhadap serangan terbaru. Gangguan pelayaran mulai terasa, dengan sejumlah kapal memilih menunggu di luar jalur atau mengubah rute demi menghindari risiko keamanan.
2. Jalur vital energi dunia dalam tekanan
Selat Hormuz yang berada di Teluk Arab selama ini menjadi jalur vital bagi sekutu AS dan pasar energi global. Menurut analisis The Guardian, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut, menjadikannya titik kunci distribusi energi internasional.
Al Jazeera menambahkan bahwa bukan hanya minyak mentah, tetapi juga gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk dikirim melalui jalur ini. Jika penutupan berlangsung lama, dampaknya bisa memicu lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global.
Pasar minyak global sangat sensitif terhadap perkembangan di Selat Hormuz, mengingat riwayat ketegangan kawasan yang kerap berujung pada fluktuasi harga tajam.
3. Eskalasi konflik dan dampaknya setelah Khamenei wafat
Wafatnya Ali Khamenei terjadi saat konflik antara Iran dan Israel sudah berada dalam fase memanas, sehingga meningkatkan risiko eskalasi militer di kawasan Teluk. Dalam situasi tersebut, potensi konfrontasi di laut, termasuk di Selat Hormuz, ikut menjadi perhatian.
Sejumlah negara Barat dan pelaku industri pelayaran meningkatkan kewaspadaan dengan mengeluarkan peringatan keamanan bagi kapal-kapal mereka di sekitar Teluk Persia. Al Jazeera juga menilai ketidakpastian kepemimpinan Iran pascawafatnya Khamenei dapat memengaruhi arah keputusan strategis Teheran, termasuk kebijakan terkait akses dan keamanan di Selat Hormuz.