Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Imbas Serangan AS-Israel, Iran Tutup Selat Hormuz
Pada tanggal 2 Desember 2020, Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang terpasang pada satelit Terra milik NASA memperoleh citra warna asli Selat Hormuz. (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Iran melalui Garda Revolusi memperingatkan kapal agar tidak melintas di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran global atas potensi penutupan jalur laut strategis tersebut.
  • Selat Hormuz menjadi jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia; gangguan di wilayah ini berpotensi mengguncang pasar energi serta rantai pasok internasional.
  • Ketegangan meningkat setelah wafatnya Ali Khamenei, dengan risiko eskalasi konflik Iran-Israel yang membuat negara Barat dan industri pelayaran meningkatkan kewaspadaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketegangan di kawasan Timur Tengah makin memicu kekhawatiran global setelah Iran melalui Garda Revolusinya (IRGC) memberi peringatan kepada kapal-kapal bahwa mereka tidak boleh melewati Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi titik penting bagi pengiriman minyak dunia. Pernyataan ini dikabarkan disampaikan lewat radio VHF kepada kapal-kapal yang melintas, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran tentang penutupan formalnya.

1. Garda Revolusi kirim peringatan, kapal dilarang melintas

Dilansir BBC, sejumlah kapal di kawasan Teluk menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Garda Revolusi Iran (IRGC) yang memperingatkan bahwa kapal-kapal tidak akan diizinkan melintasi Selat Hormuz. Laporan tersebut menyebut pesan itu disampaikan langsung kepada kapal komersial yang berada di sekitar jalur air strategis tersebut.

Pembatasan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Israel, serta keterlibatan Amerika Serikat. Al Jazeera menilai langkah Iran sebagai respons langsung terhadap serangan terbaru. Gangguan pelayaran mulai terasa, dengan sejumlah kapal memilih menunggu di luar jalur atau mengubah rute demi menghindari risiko keamanan.

2. Jalur vital energi dunia dalam tekanan

Selat Hormuz yang berada di Teluk Arab selama ini menjadi jalur vital bagi sekutu AS dan pasar energi global. Menurut analisis The Guardian, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut, menjadikannya titik kunci distribusi energi internasional.

Al Jazeera menambahkan bahwa bukan hanya minyak mentah, tetapi juga gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk dikirim melalui jalur ini. Jika penutupan berlangsung lama, dampaknya bisa memicu lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global.

Pasar minyak global sangat sensitif terhadap perkembangan di Selat Hormuz, mengingat riwayat ketegangan kawasan yang kerap berujung pada fluktuasi harga tajam.

3. Eskalasi konflik dan dampaknya setelah Khamenei wafat

Wafatnya Ali Khamenei terjadi saat konflik antara Iran dan Israel sudah berada dalam fase memanas, sehingga meningkatkan risiko eskalasi militer di kawasan Teluk. Dalam situasi tersebut, potensi konfrontasi di laut, termasuk di Selat Hormuz, ikut menjadi perhatian.

Sejumlah negara Barat dan pelaku industri pelayaran meningkatkan kewaspadaan dengan mengeluarkan peringatan keamanan bagi kapal-kapal mereka di sekitar Teluk Persia. Al Jazeera juga menilai ketidakpastian kepemimpinan Iran pascawafatnya Khamenei dapat memengaruhi arah keputusan strategis Teheran, termasuk kebijakan terkait akses dan keamanan di Selat Hormuz.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team