Jakarta, IDN Times - Pemerintah Indonesia meminta kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar ada jaminan keselamatan dan keamanan bagi pasukan penjaga perdamaian. Pernyataan itu disampaikan usai kembali jatuh korban meninggal dari personel TNI yang bertugas di United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pada Jumat (24/4/2026).
Prajurit Kepala Rico Pramudia akhirnya mengembuskan napas terakhir usai dirawat hampir satu bulan di sebuah rumah sakit di Beirut. Ia termasuk personel TNI yang ikut terkena proyektil dari tank militer Israel pada Minggu (29/3/2026) malam. Selain Rico, Praka Farizal Rhomadhon juga menjadi korban di hari yang sama. Namun, ia meninggal di tempat.
"Indonesia kembali mengutuk keras serangan Israel yang menyebabkan gugurnya peacekeeper Indonesia. Serangan terhadap personel pemelihara perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," demikian tulis Kementerian Luar Negeri di dalam platform media sosial, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Dengan gugurnya Rico, maka total sudah ada empat prajurit TNI yang meninggal dalam misi UNIFIL. Ini merupakan korban jiwa terbesar dalam misi UNIFIL sejak Indonesia terlibat pada 2006 lalu. Kemlu menyebut, pemerintah menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan.
"Negara hadir untuk memberikan penghormatan terbaik bagi almarhum atas pengabdian dan pengorbannya menjaga perdamaian dunia," tutur Kemlu.
