Ilustrasi Rokok (unsplash.com/Mathew MacQuarrie)
Konsumsi tembakau menyebabkan sekitar 64 ribu hingga 75 ribu kematian setiap tahun di Inggris dan menjadi faktor utama bagi sekitar 400 ribu pasien yang dirawat di Layanan Kesehatan Nasional (NHS). Dengan adanya larangan ini, pemerintah memperkirakan penghematan biaya perawatan kesehatan hingga miliaran poundsterling setiap tahun.
Biaya pengobatan penyakit akibat rokok saat ini mencapai 3 miliar poundsterling (Rp69,69 triliun) per tahun, belum termasuk kerugian ekonomi dari hilangnya produktivitas kerja yang diperkirakan mencapai 21,3 miliar hingga 27,6 miliar poundsterling (Rp494,82 triliun-Rp641,17 triliun).
"Mencegah lebih baik daripada mengobati. Aturan ini diharapkan menekan angka kematian, mengurangi beban perawatan rumah sakit, dan menciptakan masyarakat yang lebih sehat, karena masalah kesehatan publik dapat membebani perekonomian negara," kata Menteri Kesehatan Wes Streeting.
Analisis dari University of Nottingham memperkirakan kebijakan ini akan menurunkan jumlah perokok pada usia 12 hingga 30 tahun menjadi di bawah 5 persen pada tahun 2040-an. Meski ada kekhawatiran tentang munculnya pasar gelap dan potensi penurunan pendapatan bagi penjual kecil, pemerintah berkomitmen mengalokasikan dana sebesar 70 juta poundsterling (Rp1,62 triliun) untuk program edukasi dan pendampingan bagi perokok dewasa yang ingin berhenti merokok.