Gedung Parlemen Inggris. (unsplash.com/Marcin Nowak)
Kompleks diplomatik yang dijuluki "super embassy" atau kedubes raksasa itu memicu kecemasan di kalangan kritikus karena lokasinya yang sangat strategis. Situs Royal Mint Court berada dekat dengan pusat keuangan City of London, sehingga memunculkan spekulasi bahwa gedung baru itu dapat difungsikan sebagai pusat penyadapan data sensitif. China membeli lahan tersebut seharga 255 juta poundsterling (sekitar Rp5,8 triliun) pada 2018, tetapi izin pembangunannya sempat ditolak oleh dewan lokal karena risiko keamanan.
Kekhawatiran meningkat setelah muncul laporan yang menyebutkan detail teknis bangunan yang mencurigakan. Rencana pembangunan yang bocor memperlihatkan adanya 208 ruangan bawah tanah dan beberapa kamar tersembunyi di dalam kompleks. Selain itu, terdapat jalur kabel internet serat optik vital yang tertanam di bawah lokasi proyek, yang dikhawatirkan dapat disadap oleh intelijen China jika akses ke bawah tanah dibuka.
Pihak oposisi dari Partai Konservatif mengecam lampu hijau yang diberikan pemerintahan Partai Buruh. Tokoh-tokoh senior seperti James Cleverly dan Priti Patel menuding keputusan itu sebagai bentuk penyerahan diri demi kepentingan ekonomi jangka pendek.
"Kewajiban utama pemerintah adalah menjaga keamanan negara. Namun Keir Starmer telah mengesampingkan prioritas paling kritis itu demi keinginan putus asanya mendapatkan persetujuan Beijing," ujar Menteri Bayangan Urusan Masyarakat, James Cleverly, dilansir BBC.