Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ini Perjuangan Hidup dan Mati Ibu Hamil di Gaza
Ilustrasi kelahiran bayi. (unsplash/Christian Bowen)
  • Duha Abu Yousef melahirkan lewat operasi sesar akibat anemia dan kekurangan gizi parah di tengah kehancuran Gaza, mencerminkan penderitaan ibu hamil di wilayah konflik.
  • Jumlah operasi sesar meningkat karena keterlambatan pasien, minimnya alat medis, serta tekanan perang yang membuat tenaga kesehatan memilih tindakan cepat demi keselamatan ibu dan bayi.
  • Krisis kemanusiaan makin parah saat Israel menduduki 59 persen wilayah Gaza, dengan ribuan korban jiwa dan infrastruktur sipil hancur meski gencatan senjata masih berlaku.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Di sebuah apartemen yang hancur di Gaza, Duha Abu Yousef (24 tahun), duduk di atas kasur tipis sambil menggendong bayi yang baru dilahirkannya melalui prosedur Sectio Caesarea (SC) atau operasi sesar. Tindakan itu dilakukan setelah ia tiba di rumah sakit malam sebelumnya dalam kondisi anemia parah.

Awalnya, Abu Yousef berharap dapat menjalani persalinan normal. Namun, kekurangan gizi selama kehamilan akibat kelaparan berkepanjangan, membuat kondisinya memburuk.

"Selama hamil, saya tidak pernah makan daging, ayam, atau telur. Bahkan, suplemen nutrisi tidak ada," ujarnya kepada Al Jazeera.

Ia mengaku kerap mengalami pusing dan kelelahan ekstrem. Kondisi fisiknya yang lemah juga diperparah oleh trauma psikologis setelah kehilangan saudara laki-laki dan iparnya akibat serangan tank Israel. Alhasil, memaksa dokter mengambil tindakan bedah demi keselamatan bayi.

1. Jumlah operasi sesar yang semakin bertambah di Gaza

Ilustrasi dokter di ruang operasi. (pexels.com/Pixabay)

Di tengah runtuhnya sistem kesehatan Gaza, jumlah operasi sesar dilaporkan meningkat dan kini mencapai seperempat dari total persalinan.

Fathi al-Dahdouh, dokter dan kepala bagian kebidanan di Rumah Sakit Internasional Al Helou di Kota Gaza, menyebut keterlambatan pasien tiba di rumah sakit akibat kondisi perang sebagai salah satu penyebab utama meningkatnya operasi darurat. Selain itu, muncul tren kehamilan sebagai bentuk kompensasi atas kehilangan, terutama di kalangan perempuan yang kehilangan anggota keluarga.

"Kami melihat kasus perempuan di usia akhir 30-an, bahkan di atas 40 tahun, yang memutuskan untuk hamil meskipun ada risikonya dengan alasan karena mereka kehilangan anak selama perang," kata al-Dahdouh.

Tenaga medis juga menghadapi tantangan besar, termasuk pasien dengan cedera akibat pemboman dan komplikasi serius, seperti abrupsi plasenta. Keterbatasan peralatan dan perlengkapan medis telah memicu peningkatan ketergantungan pada operasi sesar. Ini termasuk kurangnya alat pemantau janin berkelanjutan dan tidak adanya obat-obatan pemicu persalinan (induksi).

Tekanan berat pada bangsal rumah sakit dan kekurangan staf juga membuat persalinan sesar sering menjadi pilihan paling cepat dan aman yang tersedia.

2. Risiko infeksi meningkat: kekurangan nutrisi, sanitasi buruk, dan krisis obat

Musim dingin di Gaza tidak hanya memperparah krisis kemanusiaan, tetapi juga lebih banyak orang yang akan mati kedinginan terutama mereka yang rentan, orang tua dan anak-anak. (x.com/UNRWA)

Risiko terbesar justru muncul setelah operasi. Kondisi pengungsian, kekurangan nutrisi, air yang terkontaminasi, serta tempat tinggal yang padat meningkatkan risiko infeksi luka secara signifikan. Rumah sakit juga kekurangan antibiotik dan fasilitas laboratorium, yang memperburuk penanganan infeksi.

Sanaa al-Shukri (35 tahun), yang tinggal di tenda darurat di lingkungan Tuffah, Kota Gaza, mengalami infeksi serius 10 hari setelah SC. Ia harus menjalani pembersihan luka tanpa anestesi. Al-Shukri mengatakan bahwa tindakan tersebut rasanya seperti jiwanya keluar dari tubuh.

Ia tinggal di tenda pengungsian dengan kondisi sanitasi buruk, tanpa tempat tidur, air bersih, atau fasilitas dasar. Lingkungan panas dan penuh serangga membuat proses pemulihannya semakin sulit. Meski telah mencoba merawat lukanya, infeksi tetap terjadi.

"Kamar mandinya mengerikan dan kotor. Itu hanya lubang di pasir, penuh lalat dan serangga, letaknya jauh. Tidak ada dinding di tenda untuk bersandar, tidak ada tempat tidur. Saya tidur di tanah. Saya tidak akan pernah melahirkan di tenda lagi. Ini adalah penderitaan," ungkapnya.

Di tengah reruntuhan, kelahiran yang seharusnya menjadi simbol harapan kini berubah menjadi perjuangan hidup dan mati untuk para ibu hamil di Gaza melawan infeksi kelaparan, dan trauma yang tak berkesudahan.

3. Pendudukan Israel di Gaza meluas hingga 59 persen di tengah ancaman eskalasi

Potret situasi di Gaza, dampak dari operasi militer Israel yang semakin intensif sejak pihaknya melancarkan serangan di wilayah kantong tersebut pada 7 Oktober 2023. (x.com/antonioguterres)

Pada Minggu (3/5/2026), Radio Angkatan Darat Israel melaporkan bahwa militer Israel kini menduduki 59 persen wilayah Jalur Gaza. Angka tersebut meningkat dari 53 persen sebelum gencatan senjata pada Oktober 2025. Di sisi lain, Hamas mengklaim kendali Israel atas wilayah kantong tersebut sebenarnya telah melampaui 60 persen.

Meski gencatan senjata secara teknis masih berlaku, sinyal dimulainya kembali pertempuran semakin menguat. Militer Israel melakukan mobilisasi dengan mulai menarik pasukannya dari Lebanon Selatan untuk dikerahkan kembali ke Gaza dan Tepi Barat. Komando Selatan Israel melaporkan telah merampungkan rencana serangan baru, dan hanya menunggu instruksi politik.

"Para pejabat militer senior Israel mendesak dimulainya kembali pertempuran di Gaza dan percaya bahwa waktu terbaik untuk mengalahkan Hamas adalah sekarang," demikian pernyataan radio tersebut, dikutip dari Anadolu Agency.

Laporan ekspansi wilayah ini muncul di tengah tuduhan pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan Tel Aviv. Perang yang telah berlangsung selama lebih tahun ini telah meninggalkan jejak kehancuran yang masif.

Genosida Israel di Gaza telah membunuh lebih dari 72 ribu warga Palestina dan melukai 172 ribu lainnya sejak perang Israel-Hamas meletus pada Oktober 2023. Serta, menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team