Israel Sita 70 Kapal Aktivis Gaza, 175 Orang Ditahan di Laut

- Angkatan laut Israel menyita lebih dari 70 kapal Global Sumud Flotilla di dekat Crete dan menahan 175 aktivis yang berlayar menuju Gaza dalam misi kemanusiaan internasional.
- Pemerintah Israel menyebut penyitaan dilakukan demi menjaga blokade maritim dan mencegah penyelundupan, sementara para aktivis menilai tindakan itu sebagai penculikan warga sipil di perairan internasional.
- Sejumlah negara Eropa seperti Italia, Spanyol, dan Swedia melakukan langkah diplomatik untuk melindungi warganya yang ditahan, sementara Komisi Eropa menyerukan pentingnya kebebasan navigasi internasional.
Jakarta, IDN Times – Angkatan laut Israel menyita sejumlah kapal milik Global Sumud Flotilla di dekat Crete, Yunani, pada Rabu (29/4/2026). Operasi di perairan internasional itu berujung pada penahanan 175 aktivis yang sedang berlayar menuju Gaza.
Flotilla tersebut berangkat dari Barcelona pada awal bulan ini dengan lebih dari 70 kapal dan membawa sekitar 1.000 peserta dari berbagai negara. Penyelenggara menyebut pelayaran itu sebagai misi kemanusiaan terbesar yang pernah dilakukan untuk mencoba menembus blokade Gaza.
1. Israel menjelaskan alasan penyitaan kapal

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Israel menyatakan penyitaan dilakukan untuk menjaga blokade maritim sekaligus mencegah penyelundupan senjata. Dalam rekaman video yang dirilis pejabat Israel, terlihat temuan obat-obatan dalam jumlah kecil serta alat kontrasepsi dan kantong kecil yang diklaim berisi zat tertentu, dilansir Euro News.
Di sisi lain, para aktivis menggambarkan situasi tegang ketika kapal mereka dihentikan menggunakan kapal cepat dan drone. Tariq Ra’ouf, salah satu aktivis yang masih berada di laut, mengatakan kepada Euronews bahwa komunikasi mereka sempat diganggu sebelum armada dipaksa berhenti. Ia menambahkan bahwa sebagian besar kapal telah dirampas dan awaknya dipindahkan ke kapal Israel.
Ia juga menuding adanya sabotase pada mesin kapal yang membuat beberapa armada terdampar di tengah ancaman badai besar.
2. Aktivis mengecam operasi penyitaan Israel

Kelompok aktivis menyebut operasi tersebut sebagai “penculikan warga sipil” yang terjadi lebih dari 600 mil dari Gaza, lokasi yang mereka nilai jauh dari area konflik. Namun, Kemlu Israel menilai flotilla itu hanya aksi publisitas dan bukan misi bantuan yang tulus.
Israel juga menegaskan seluruh bantuan menuju Gaza wajib melewati prosedur resmi melalui Dewan Perdamaian dan Pusat Koordinasi Sipil-Militer Israel (CMCC).
Ketegangan diplomatik ikut muncul setelah Turki mengecam operasi itu dengan menyebutnya sebagai “pembajakan”. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dilaporkan menghubungi Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares Bueno untuk membahas situasi tersebut.
3. Negara Eropa mengurus warga yang ditahan

Komisi Eropa (KE) memilih sikap moderat dengan menegaskan pentingnya kebebasan navigasi internasional, tetapi tak mengeluarkan kecaman langsung. Sebelumnya, KE memang telah mengingatkan tingginya risiko bagi peserta yang mengikuti misi serupa.
Italia bergerak melalui Menteri Luar Negeri Antonio Tajani yang meminta kedutaan di Tel Aviv dan Athena mencari klarifikasi guna melindungi warga Italia yang menjadi mayoritas tahanan bersama warga Spanyol.
Swedia juga melakukan komunikasi dengan pihak Israel. Menteri Luar Negeri Maria Malmer Stenergard menyampaikan peringatan bagi warga negaranya.
“Jika kamu, sebagai orang Swedia, memilih untuk berpartisipasi dalam flotilla, kamu sedang mengambil risiko secara sadar,” kata Maria.
Dilansir NPR, di Athena, aksi protes mulai bermunculan setelah para aktivis berencana mengepung kementerian luar negeri Yunani. Mereka mempertanyakan sikap penjaga pantai Yunani yang dianggap tak bertindak saat penyitaan terjadi di zona pencarian dan penyelamatan maritim Yunani.


















