Sebetulnya, warga Palestina yang tinggal di Gaza sudah ingin jenazah keluarganya yang masih tertimbun reruntuhan untuk segera ditemukan. Sebab, mereka ingin jenazah keluarganya dikuburkan dengan layak. Namun, masalah tadi menjadi penghambat proses evakuasi jenazah yang akan dilakukan.
PBB: 8 Ribu Jenazah Warga Palestina Masih Tertimbun Reruntuhan di Gaza

- PBB melaporkan sekitar 8.000 jenazah warga Palestina masih tertimbun reruntuhan di Gaza akibat serangan Israel, dengan proses evakuasi diperkirakan memakan waktu hingga tujuh tahun.
- Serangan Israel sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 72 ribu warga dan melukai 172 ribu lainnya, serta menghancurkan 90 persen infrastruktur publik di Gaza.
- Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas sudah disepakati sejak 2025, pasukan Israel dilaporkan masih melakukan serangan ke wilayah Gaza hingga April 2026.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut sekitar 8.000 jenazah warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel kini masih tertimbun reruntuhan bangunan di Jalur Gaza. Dilansir Anadolu Agency pada Minggu (3/5/2026), ribuan jenazah itu belum bisa dievakuasi karena medan yang berat.
Menurut seorang pejabat PBB, Alexander De Croo, untuk mengevakuasi 8.000 jenazah tersebut, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membersihkan reruntuhan yang tersebar di seluruh Gaza. Masalahnya, proses pembersihan tersebut membutuhkan waktu yang lama, yakni hingga tujuh tahun.
1. Kendala logistik jadi salah satu penghambat

De Croo menambahkan, kendala pasokan logistik juga menjadi salah satu penghambat proses evakuasi jenazah warga Palestina di Gaza. Ini terjadi karena pasukan militer Israel (IDF) kerap menyerang konvoi mobil truk yang ingin mengirim pasokan logistik ke wilayah tersebut.
"Setiap orang berhak agar namanya dikenal, dimakamkan, dan ditangisi," keluh seorang warga Palestina yang tinggal di Gaza, seperti dilansir TRT World.
2. Serangan Israel di Gaza sudah menewaskan puluhan ribu jiwa

Banyaknya jenazah yang masih tertimbun reruntuhan di Gaza ini menunjukkan bahwa serangan Israel di Palestina telah menewaskan banyak jiwa. Ini membuktikan bahwa serangan Israel ke Palestina, khususnya di jalur Gaza, berlangsung sangat masif.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, sudah ada lebih dari 72 ribu warga yang tewas sejak Israel menyerang pada 7 Oktober 2023 lalu. Sementara itu, 172 ribu orang lainnya mengalami luka-luka.
Selain menewaskan puluhan ribu jiwa, serangan Israel juga membuat 90 persen infrastruktur publik di Gaza hancur. Menurut otoritas setempat, butuh sekitar 70 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp1,2 kuadriliun untuk merekonstruksi semua bangunan di Gaza yang rusak karena serangan Israel.
3. Israel masih menyerang Gaza meski sudah ada gencatan senjata

Saat ini, Israel dan Hamas sudah menyepakati gencatan senjata. Kesepakatan ini diraih pada Oktober 2025. Saat itu, Hamas dan Israel yang dimediasi Turki, Qatar, dan Mesir sepakat menandatangani gencatan senjata fase pertama.
Pada Januari 2026 lalu, gencatan senjata fase kedua di Gaza juga sudah dimulai. Langkah ini diambil untuk memperpanjang penghentian sementara perang yang terjadi antara Hamas dan Israel di sana.
Kendati sudah ada gencatan senjata, Israel masih tetap menyerang sejumlah Gaza hingga saat ini. Pada 23 April lalu, misalnya, IDF kembali melakukan dua serangan besar-besaran di Gaza. Menurut petugas penyelamat setempat, serangan tersebut menewaskan delapan orang.


















