Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Izinkan Kapal Irak Lewati Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Iran resmi mencabut pembatasan bagi kapal Irak di Selat Hormuz, namun tetap menutup akses bagi AS, Israel, dan sekutunya setelah serangan yang menewaskan lebih dari 1.300 orang.
  • Langkah ini membuka peluang pemulihan ekspor minyak Irak hingga tiga juta barel per hari, setelah produksi mereka anjlok drastis akibat perang dan blokade pelayaran.
  • Irak bergabung dengan China, India, Rusia, dan negara Asia lainnya yang telah diizinkan melintas aman di Selat Hormuz, meningkatkan aktivitas transit meski volume maritim masih jauh dari normal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Militer Iran mengumumkan pembebasan kapal-kapal Irak dari pembatasan pelayaran di Selat Hormuz pada hari Sabtu (4/4/2026). Keputusan ini diumumkan oleh juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ibrahim Zolfaqari.

Aturan pembatasan tetap berlaku bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat (AS), Israel, dan sekutu mereka. Blokade ini bermula usai serangan AS dan Israel pada 28 Februari yang telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

1. Produksi minyak Irak anjlok akibat perang

ilustrasi pengeboran minyak (unsplash.com/Zbynek Burival)

Pembebasan ini berpotensi melepaskan kembali hingga tiga juta barel kargo minyak Irak per hari ke pasar global. Produksi minyak negara tersebut sebelumnya anjlok dari 4,3 juta menjadi hanya 1,2 juta barel per hari akibat perang.

Volume ekspor minyak Irak juga menyusut 97 persen ke angka 99 ribu barel per hari sepanjang Maret lalu. Pembatasan pelayaran membuat mereka terpaksa memangkas kapasitas produksi karena tangki penyimpanan sudah penuh.

Demi menyiasati blokade, Baghdad sempat mengalihkan sebagian ekspor melalui jalur pipa menuju pelabuhan Ceyhan di pesisir Turki. Rute alternatif tersebut diklaim mampu menyalurkan minyak mentah hingga satu juta barel.

Analis kebijakan Timur Tengah, Kenneth Katzman, menyebut rute selatan sangat penting bagi perekonomian Irak.

"Irak benar-benar hanya memiliki sedikit alternatif untuk mengirimkan minyak dari selatan selain melalui selat tersebut," ujar Katzman, dilansir Türkiye Today.

2. Iran sebut Irak negara sahabat

ilustrasi bendera Irak. (unsplash.com/engin akyurt)

Pengecualian bagi Irak dinilai bukan hanya dilandasi alasan ekonomi, melainkan perhitungan geopolitik untuk mempertahankan pengaruh Teheran. Langkah ini diharapkan dapat membuat Baghdad tidak berpindah haluan ke kubu AS.

Zolfaqari secara terbuka mengapresiasi masyarakat Irak atas dukungan kuat mereka sejak konflik bersenjata pecah. Ia menyebut Irak sebagai negara sahabat Iran.

"Rakyat Irak dan Iran akan menang bersama dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel ini," tutur Zolfaqari, dilansir Anadolu Agency.

Ketegangan di Selat Hormuz semakin meningkat usai ancaman terbaru dari Presiden AS Donald Trump. Ia telah mengeluarkan ultimatum 48 jam yang menuntut Iran segera membuka akses selat.

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menolak tunduk pada ancaman AS. Mereka menilai tuntutan Trump sebagai tindakan yang bodoh, putus asa dan tidak seimbang.

3. Daftar negara lain yang diizinkan melintas

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)

Irak bukan negara pertama yang menerima lampu hijau untuk kembali melewati Selat Hormuz. China, India, Rusia, dan Pakistan telah lebih dulu masuk dalam daftar negara sahabat yang diizinkan melintas secara aman.

Izin serupa diberikan kepada Malaysia, Thailand, Sri Lanka, serta Bangladesh usai melakukan koordinasi diplomatik langsung. Kapal peti kemas Prancis dan kapal tanker Jepang juga berhasil menyeberang pada hari Kamis dan Jumat.

Kehadiran kapal-kapal ini mendongkrak aktivitas transit mingguan di selat menjadi 53 pelayaran, naik dari 36 kapal sebelumnya. Total 20 juta barel minyak mentah sempat mengalir setiap harinya melalui titik sempit ini sebelum perang berkecamuk.

Walau mulai ada pergerakan, volume lalu lintas maritim saat ini masih anjlok 90 persen dari kondisi normal. Perang di Iran telah memicu lonjakan harga bahan bakar global dan memaksa penerapan langkah konservasi energi darurat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team