Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Kasih Ancaman ke AS, Desak Setujui Proposal Perdamaian
potret bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)
  • Iran mendesak Amerika Serikat menyetujui proposal perdamaian berisi 14 tuntutan, termasuk penghentian perang dan pencabutan sanksi ekonomi, dengan ancaman konsekuensi jika ditolak.
  • Presiden AS Donald Trump menolak mentah-mentah proposal Iran yang disampaikan lewat Pakistan, menyebutnya tidak dapat diterima karena tidak membahas penghentian program senjata nuklir.
  • Kedua negara saling menolak proposal perdamaian satu sama lain, membuat negosiasi antara Iran dan AS berjalan alot tanpa tanda-tanda kesepakatan damai tercapai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran memberikan ancaman keras ke Amerika Serikat untuk mendesak mereka agar menyetujui proposal perdamaian. Desakan tersebut disampaikan langsung oleh salah satu negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Senin (11/5/2026).

Dalam pernyataannya, Ghalibaf mengatakan bahwa AS harus segera menyetujui proposal perdamaian terbaru yang diberikan Iran. Jika tidak, maka AS akan menanggung konsekuensinya. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci konsekuensi apa yang dimaksud. 

“Tidak ada alternatif lain selain menerima hak-hak rakyat Iran sebagaimana diuraikan dalam usulan 14 poin (yang ada dalam proposal perdamaian). Pendekatan lain apa pun akan sepenuhnya tidak membuahkan hasil. Hanya (akan ada) kegagalan demi kegagalan. Semakin lama mereka mengulur waktu, semakin banyak pembayar pajak AS yang akan menanggungnya,” tulis Ghalibaf dalam sebuah unggahan di X, seperti dilansir The Hill.

1. Iran memberikan proposal ke AS lewat Pakistan pada pekan lalu

potret bendera Pakistan (unsplash.com/Ali Khokhar)

Iran sendiri memberikan proposal perdamaian terbaru ke AS pada pekan lalu. Sama seperti sebelum-sebelumnya, proposal tersebut diberikan Iran ke AS lewat Pakistan. Sebab, negara itu berperan sebagai mediator antara Iran dan AS. 

Dalam proposal itu, Iran mengajukan 14 tuntutan yang harus dipatuhi oleh AS. Salah satunya adalah penghentian perang dalam waktu 30 hari. Selain itu, Iran juga meminta AS mencabut sanksi ekonomi yang diberikan terhadapnya.  

Menurut Ghalibaf, semua tuntutan tadi diajukan karena menyangkut nasib seluruh warga Iran. Oleh karena itu, Iran mendesak AS untuk segera menyetujui semua tuntutan tersebut agar perang bisa berakhir. 

2. Donald Trump menolak keras proposal dari Iran

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Michael Vadon)

Sayangnya, proposal perdamaian itu kembali ditolak mentah-mentah oleh Presiden AS, Donald Trump. Dalam pernyataannya, Trump menyebut proposal terbaru dari Iran sama sekali tidak dapat diterima. 

"Proposal itu sama sekali tidak dapat diterima. Saya baru saja membaca tanggapan dari Perwakilan Iran. Saya tidak menyukainya," ujar Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Minggu (10/5/2026) dilansir NBC

Pada 26 April lalu, Iran juga sudah mengirim proposal perdamaian baru ke AS. Proposal itu juga diberikan lewat perantara Pakistan. Menurut laporan Axios yang dikutip Jerusalem Post, proposal tersebut berisi kesediaan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, proposal itu juga ditolak oleh Trump. Sebab, proposal itu tidak berbicara soal penghentian program senjata nuklir milik Iran.

3. Iran juga kerap menolak proposal dari AS

ilustrasi penolakan (pexels.com/Monstera Production)

Sebetulnya, AS juga kerap mengirim proposal perdamaian ke Iran. Dalam proposal tersebut, Trump kerap meminta Iran untuk menghentikan program senjata nuklir dan memberikan cadangan uranium mereka ke AS. Itu merupakan syarat yang harus dipatuhi Iran jika ingin berdamai dengan AS.

Namun, semua proposal dari AS juga mendapat penolakan dari Iran. Sebab, mereka tidak mau menghentikan program senjata nuklir dan memberikan uraniumnya ke AS. Penolakan ini lantas membuat Trump geram. Ia mengancam akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar jika mereka tidak kunjung meneken proposal yang ia usulkan.

Aksi saling tolak menolak ini membuat upaya perdamaian AS dan Iran berjalan sangat alot. Padahal, jika keduanya sama-sama menurunkan ego, kesepakatan damai dapat segera diraih agar perang bisa berakhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team