Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apa Itu Armada Nyamuk Iran yang Bikin AS Waspada di Selat Hormuz?

Apa Itu Armada Nyamuk Iran yang Bikin AS Waspada di Selat Hormuz?
ilustrasi kapal kecil (pexels.com/belen Capello)
Intinya Sih
  • Iran mengandalkan ribuan kapal cepat kecil milik IRGCN yang disembunyikan di bunker dan gua laut, dipersenjatai rudal serta drone untuk menyerang kapal dagang besar di Selat Hormuz.
  • Strategi perang laut asimetris Iran membuatnya tak perlu berhadapan langsung dengan AS, melainkan menekan jalur perdagangan global lewat ancaman kapal cepat, ranjau, dan penyamaran kapal sipil.
  • Pakar menilai taktik armada nyamuk Iran membebani logistik AS karena pengamanan total jalur pelayaran sangat sulit, sementara serangan kecil Iran cukup untuk mengguncang biaya dan risiko pengiriman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Konflik yang masih berlangsung membuat sebagian besar kekuatan laut konvensional Iran melemah. Meski begitu, Teheran tetap dianggap berbahaya bagi jalur perdagangan di Selat Hormuz lewat “armada nyamuk” milik Pasukan Pengawal Revolusi Islam Angkatan Laut (IRGCN).

Strategi utama Iran bukan bertumpu pada kapal perang besar, melainkan kapal serang cepat berukuran kecil yang bergerak dalam jumlah besar. Armada inilah yang dipakai untuk mengganggu lalu lintas komersial di salah satu jalur energi tersibuk dunia.

1. IRGCN menyembunyikan ribuan kapal cepat

ilustrasi kapal kecil berkecepatan tinggi
ilustrasi kapal kecil berkecepatan tinggi (pexels.com/Julien Goettelmann)

IRGCN mengoperasikan ribuan kapal cepat berukuran kecil, bukan armada kapal tempur besar. Kapal-kapal itu ditempatkan di bunker pegunungan serta gua laut agar tak mudah terpantau dari udara sebelum diterjunkan.

Persenjataan yang dibawa meliputi rudal, senapan mesin, dan peluncur granat. Selain itu, operasi mereka juga didukung drone serta ranjau laut dengan pola serangan berkelompok dari berbagai arah secara bersamaan menggunakan teknik swarming. Sasaran utamanya adalah kapal dagang berukuran besar yang bergerak lambat dan minim perlindungan mandiri.

2. Iran mengandalkan perang laut asimetris

ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)
ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)

Langkah yang dijalankan IRGCN dikenal sebagai strategi perang laut asimetris. Iran tak memilih bentrok langsung melawan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), melainkan meningkatkan ancaman dan biaya pengiriman di jalur sempit yang tak memiliki banyak alternatif lintasan.

Dilansir Australian Broadcasting Corporation, pendekatan tersebut sudah diterapkan IRGCN sejak dekade 1980-an setelah kekuatan laut tradisional Iran dihancurkan AS pada 1988. Sejak periode itu, angkatan laut reguler Iran lebih sering dipakai untuk kegiatan seremonial, sedangkan IRGCN membangun armada murah yang mudah diganti dan mampu menghindari dampak sanksi internasional.

Kapal cepat berukuran kecil itu juga sulit dibaca radar karena berada sangat dekat dengan permukaan air. Mereka turut memanfaatkan kapal sipil modifikasi seperti perahu nelayan dhow untuk menyamarkan pergerakan saat menyebarkan ranjau di jalur maritim.

3. Kaushal menyoroti beban besar AS

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Peneliti senior kekuatan laut di Royal United Services Institute for Defence (RUSI), Sidharth Kaushal, menyebut penanganan taktik semacam ini membutuhkan sumber daya sangat besar. Kaushal menjelaskan bahwa pengamanan penuh terhadap setiap kapal komersial di kawasan tersebut menjadi tantangan logistik yang berat.

Secara strategi, Iran disebut tak perlu memenangkan perang besar untuk memberi tekanan.

“Mereka hanya perlu mencetak cukup pukulan pada pengiriman untuk meyakinkan perusahaan asuransi dan pemilik kapal agar tidak mempertaruhkan nyawa awak dan kargo,” ujar Kaushal, dikutip CNN.

Situasi itu membuat biaya dan beban operasi AS jauh lebih besar dibanding Iran. Laporan dari Hudson Institute juga menyebut strategi Teheran memang dirancang untuk menciptakan gesekan atau attrition yang terus menguras kekuatan lawan.

4. Pakar mengamati ancaman armada nyamuk

ilustrasi kapal berkecepatan tinggi
ilustrasi kapal kecil berkecepatan tinggi (pexels.com/Ahmet Arikaya)

Sejumlah pakar keamanan menilai armada ini menghadirkan tantangan rumit di lapangan. Peneliti senior keamanan maritim di International Institute for Strategic Studies (IISS), Nick Childs, mengatakan jumlah kapal yang sangat banyak membuat aparat keamanan sulit memastikan seluruh ancaman benar-benar terpantau.

Pengalaman langsung menghadapi kapal cepat Iran diungkap pakar keamanan maritim dari Australian National University National Security College, Jennifer Parker kepada ABC. Mantan perwira angkatan laut itu menceritakan insiden pada 2008 ketika kapal cepat Iran melaju mendekat dengan kecepatan tinggi sambil mengarahkan senjata dari jarak sangat dekat.

Data dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya (UKMTO) mencatat ada 26 kapal yang diserang di Selat Hormuz dan Teluk Persia sejak perang pecah. Mayoritas kerusakan dipicu rudal dan drone bunuh diri, sementara kapal cepat serta ranjau laut masih dianggap sebagai ancaman paling dikhawatirkan.

AS merespons situasi tersebut dengan memperbanyak patroli udara di kawasan. Helikopter Seahawk dilaporkan sudah menghancurkan sedikitnya enam kapal kecil Iran, sementara teknologi bawah air tanpa awak mulai digunakan untuk menghadapi ranjau dan kapal selam mini atau midget submarines, meski pengamanan total jalur pelayaran tetap membutuhkan waktu panjang.

Presiden Donald Trump menyebut kapal serang cepat Iran sebagai ancaman terbatas setelah kekuatan konvensional negara itu melemah. Trump juga sempat memperkenalkan Project Freedom untuk mengawal kapal yang tertahan di selat, walau program itu kini dihentikan sementara demi membuka peluang kesepakatan diplomatik, sedangkan blokade pelabuhan Iran tetap berjalan.

Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, menyatakan lewat media sosial bahwa armada IRGCN dan drone di Pulau Faror siap memenuhi pertahanan udara lawan. Di sisi lain, koresponden senior The Telegraph, Adrian Blomfield, menjuluki armada nyamuk Iran sebagai “senjata gangguan massal” di jalur laut yang membawa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More