Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Peringatkan Inggris-Prancis Tak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Kapal perusak Tipe 45 HMS Dragon milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris. (POA(Phot) Tam Mcdonald, OGL v1.0, via Wikimedia Commons)
  • Iran memperingatkan Inggris dan Prancis agar tidak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, menegaskan keamanan kawasan sepenuhnya di bawah kendali Teheran.
  • Inggris dan Prancis merencanakan misi armada multinasional untuk melindungi jalur pelayaran dagang, dengan dukungan sekitar 40 negara setelah pertemuan militer di London.
  • Amerika Serikat bersama Bahrain menyiapkan resolusi PBB agar Iran membuka akses pelayaran bebas, sambil menjatuhkan sanksi tambahan dan memperingatkan perusahaan pelayaran terkait izin melintas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran pada Minggu (10/5/2026) memperingatkan Inggris dan Prancis agar tak mengirim kapal perang ke jalur perairan strategis tersebut. Teheran menyatakan akan memberi respons militer cepat dan keras bila kapal asing tetap memasuki kawasan itu.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyebut keamanan di Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Republik Islam Iran melalui unggahan di platform X.

“Oleh karena itu mereka sangat disarankan untuk tak mempersulit situasi lebih lanjut,” ujarnya, dikutip The Independent.

1. Inggris menyiapkan misi armada multinasional

Kapal perusak Tipe 45 HMS Dragon milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris. (LA(Phot) Nicky Wilson, OGL v1.0, via Wikimedia Commons)

Pemicunya datang dari keputusan Kementerian Pertahanan Inggris yang mengirim kapal perusak HMS Dragon ke kawasan Timur Tengah. Pemerintah Inggris menyatakan pengerahan itu disiapkan untuk misi gabungan internasional demi melindungi jalur pelayaran dagang serta operasi pembersihan ranjau setelah konflik.

Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, mengatakan operasi tersebut disusun bersama Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan baru akan dijalankan setelah perang benar-benar berhenti. Sementara itu, Macron menegaskan Prancis tak berencana mengerahkan kekuatan secara sepihak di Selat Hormuz dan hanya mendukung sistem keamanan yang nantinya dikoordinasikan bersama Iran.

Sekitar 40 negara disebut telah menyatakan persetujuan awal untuk bergabung dalam koalisi Inggris-Prancis tersebut. Kesepakatan prinsip itu muncul setelah pertemuan militer di London pada April lalu.

2. Iran memperketat aturan pelayaran Selat Hormuz

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selat Hormuz menjadi jalur penting energi dunia karena menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak global. Namun situasinya berubah sejak perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pecah pada 28 Februari 2026, meski gencatan senjata telah berlangsung sejak April.

Iran kemudian menerapkan kebijakan baru terhadap kapal yang melintasi kawasan itu. Pejabat militer Mohammad Akraminia mengatakan kepada kantor berita IRNA bahwa seluruh kapal kini wajib berkoordinasi dengan otoritas Iran sebelum melintas.

"Negara-negara yang mematuhi Amerika Serikat dengan memberlakukan sanksi terhadap Republik Islam Iran pasti akan menghadapi kesulitan menyeberangi selat,” ujarnya, dikutip Euractiv.

Iran menyebut sistem keamanan dan aturan hukum baru tersebut dibuat untuk melindungi kepentingan ekonomi serta politik mereka.

3. AS menyiapkan resolusi PBB untuk Iran

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Amerika Serikat bersama Bahrain mulai menyusun rancangan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar Iran kembali membuka akses pelayaran internasional secara bebas. Washington juga menjatuhkan sanksi tambahan dan memperingatkan perusahaan pelayaran supaya tak memberikan pembayaran kepada Teheran demi memperoleh izin melintas.

Di tengah situasi itu, Presiden AS Donald Trump ikut menanggapi proposal damai Iran yang meminta penghentian perang di seluruh front, termasuk Lebanon, serta kompensasi kerusakan konflik. Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan tuntutan tersebut tak bisa diterima.

Kondisi di kawasan Teluk masih dinilai rapuh setelah drone tak dikenal terdeteksi terbang di wilayah tersebut. Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, mengatakan penggunaan Selat Hormuz sebagai alat tawar politik hanya akan memperburuk krisis dan meminta seluruh pihak kembali ke meja mediasi sebelum keadaan lepas kendali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team