Bagaimana Negara-negara Afrika Hadapi Krisis Selat Hormuz?

- Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga amonia dan urea hingga lebih dari 60 persen, membuat petani Afrika kesulitan mendapatkan pupuk untuk musim tanam yang sedang berlangsung.
- Sejumlah negara Afrika menerapkan langkah darurat seperti penghematan energi, subsidi BBM, dan usulan pembelian pupuk bersama guna menjaga pasokan serta menekan dampak krisis global.
- Krisis ini mendorong Afrika memperkuat produksi pupuk regional melalui ekspansi pabrik di Nigeria dan Ethiopia serta percepatan implementasi AfCFTA untuk membangun rantai pasok pertanian yang mandiri.
Jakarta, IDN Times – Penutupan jalur di Selat Hormuz kini tak hanya memicu ketegangan geopolitik, tetapi juga mengancam ketahanan pangan dunia. Perairan tersebut menjadi jalur utama distribusi bahan bakar dan komponen penting pupuk global karena negara-negara Teluk memanfaatkan gas alam untuk memproduksi amonia dan urea, sementara hampir separuh sulfur dunia untuk bahan baku pupuk fosfat dikirim melalui selat itu, dilansir News AZ.
Dampaknya langsung terasa di negara-negara Afrika yang bergantung pada pupuk impor. Data asosiasi produsen gandum Afrika Selatan, Grain SA, menunjukkan harga amonia melonjak lebih dari 75 persen dibandingkan tahun lalu, sedangkan harga urea ikut naik sekitar 60 persen sehingga tekanan terhadap petani makin berat.
1. Musim tanam Afrika terancam krisis pupuk

Gangguan pasokan ini muncul ketika banyak wilayah Afrika Sub-Sahara tengah memasuki musim tanam. Di saat bersamaan, penggunaan pupuk di kawasan tersebut memang sudah rendah, yakni rata-rata 20,5 kilogram per hektar, jauh tertinggal dari rata-rata global yang mencapai 144 kilogram per hektar.
Jika pemakaian pupuk kembali turun akibat harga yang terus naik, produksi tanaman pangan utama seperti padi, gandum, dan jagung diperkirakan ikut menyusut. Kondisi itu juga berpotensi memicu lonjakan harga pangan yang membebani masyarakat luas.
Duta Besar Uni Afrika (UA) untuk Burundi sekaligus Ketua Komite Tetap Duta Besar, Willy Nyamitwe, menyampaikan bahwa pihaknya terus mengawasi perkembangan di Selat Hormuz secara ketat. Menurutnya, situasi di jalur tersebut sangat memengaruhi berbagai komoditas strategis yang menopang perekonomian Afrika.
2. Pemerintah Afrika menyiapkan langkah darurat

Sejumlah negara Afrika mulai mengambil langkah penghematan energi untuk menjaga pasokan tetap tersedia. Ethiopia memprioritaskan solar bagi transportasi umum, sementara Sudan Selatan menerapkan pemadaman listrik bergilir di Juba guna mengurangi konsumsi bahan bakar pembangkit listrik.
Di wilayah lain, Gambia menggelontorkan pendapatan pajak sebesar 5,8 juta euro atau sekitar Rp118,7 miliar untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM). Sementara itu, Zimbabwe memilih mencampur bahan bakar fosil dengan etanol demi memperpanjang cadangan energi mereka, dilansir DW.
Pada level global, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengusulkan pembentukan jalur hijau untuk pengiriman pupuk. Usulan tersebut meminta pihak yang bertikai tetap membuka jalur aman distribusi pupuk ke negara berkembang dengan mencontoh Inisiatif Bijian Laut Hitam pada 2022-2023.
Selain itu, Direktur Program Ekonomi Afrika di Yayasan Konrad Adenauer, Nairobi, Anja Berretta, mendorong negara-negara Afrika melakukan pembelian bersama. Ia menilai langkah tersebut dapat memperkuat posisi tawar seperti pendekatan Uni Eropa (UE) saat membeli vaksin COVID-19, termasuk melalui kelompok regional seperti Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS) dan Komunitas Afrika Timur.
3. Negara Afrika memperkuat produksi pupuk regional

Krisis di Selat Hormuz mendorong Afrika mengurangi ketergantungan terhadap pasar global. Saat ini, Maroko dan Mesir memang telah menjadi produsen pupuk utama berkat cadangan fosfat besar, meski keduanya masih membutuhkan sulfur impor untuk produksi.
Sebagai bagian dari penguatan industri, Grup Dangote berencana menambah kapasitas melalui pembangunan pabrik urea baru di Nigeria dan Ethiopia. Berretta juga menyarankan agar Afrika membangun pusat produksi di lokasi strategis yang memiliki kondisi paling mendukung, lalu mendistribusikan kebutuhan kawasan melalui rantai pasok regional.
Peran Kawasan Perdagangan Bebas Kontinental Afrika (AfCFTA) turut dinilai penting dalam strategi jangka panjang. Nyamitwe menyebut percepatan implementasi AfCFTA dapat membantu negara-negara Afrika membangun rantai nilai regional yang lebih kuat di sektor pertanian, energi, dan manufaktur untuk menghadapi gangguan global.


















