Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Serang Pabrik Aluminium Bahrain, 2 Orang Terluka
potret pabrik aluminium Bahrain, Alba (commons.wikimedia.org/Albasmelter)
  • Iran menyerang pabrik aluminium milik Bahrain dan Uni Emirat Arab menggunakan drone serta rudal, menyebabkan korban luka dan kerusakan besar di fasilitas industri tersebut.
  • Serangan Iran terjadi di tengah meningkatnya ketegangan perang dengan Amerika Serikat dan Israel, yang kini mempersiapkan operasi darat besar-besaran terhadap Iran.
  • Presiden AS Donald Trump menekan Iran untuk menyerah, namun penolakan Teheran membuat konflik berlanjut dengan ribuan korban jiwa termasuk anak-anak dan warga sipil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Iran dilaporkan menyerang pabrik aluminium milik Bahrain, Alba. Menurut keterangan pihak manajemen perusahaan pada Minggu (29/3/2026), serangan tersebut menyebabkan dua orang mengalami luka ringan. Selain itu, serangan juga menyebabkan beberapa area di sekitar pabrik mengalami kerusakan.  

Iran sendiri menyerang Alba pada Sabtu (28/3/2026). Dalam pernyataannya, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan, serangan terhadap pabrik aluminium Alba dilakukan sebagai balasan karena Amerika Serikat dan Israel telah menyerang pabrik baja milik Iran. Serangan juga dilakukan karena Alba dikabarkan bekerja sama dengan perusahaan militer dan penerbangan milik AS.

1. Iran juga menyerang pabrik aluminium Uni Emirat Arab

potret bendera Uni Arab Emirat (unsplash.com/Saj Shafique)

Selain menyerang pabrik aluminium Bahrain, Iran juga dilaporkan menyerang pabrik aluminium milik Uni Emirat Arab, Emirate Global Aluminium (EGA), pada hari yang sama. Dilansir Gulf News, Iran saat itu menyerang menggunakan drone dan rudal sehingga kerusakan yang ditimbulkan cukup masif.

Di sisi lain, sejumlah karyawan juga mengalami luka imbas serangan ini. Bahkan, salah satunya mengalami luka parah yang mengancam nyawa.

“Keselamatan dan keamanan karyawan kami adalah prioritas utama kami di EGA setiap saat. Kami sangat sedih dan sedang menilai kerusakan pada fasilitas kami,” ujar Direktur Utama EGA, Abdulnasser Bin Kalban.

2. Perang antara Iran dengan AS dan Israel makin panas

ilustrasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Semua serangan ini terjadi di saat perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlanjut. Bahkan, perang kini makin panas karena Negeri Paman Sam berencana untuk melakukan serangan darat besar-besaran terhadap Iran.

Saat ini, Kementerian Pertahanan AS juga sedang mempersiapkan ribuan pasukan untuk melakukan serangan tersebut. Menurut Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, persiapan ini membutuhkan waktu berminggu-minggu sehingga serangan tidak akan dilakukan dalam waktu dekat ini. 

“Merupakan tugas Pentagon untuk melakukan persiapan agar Panglima Tertinggi memiliki pilihan maksimal,” kata Leavitt, seperti dilansir Anadolu Agency.

3. Donald Trump sudah memaksa Iran untuk mengaku kalah

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Untuk mengakhiri perang, Presiden AS, Donald Trump, sebetulnya sudah memaksa Iran untuk menyerah. Sebab, menurutnya, Iran sudah kalah secara militer. Namun, Iran hingga kini masih menolak untuk menyerah. Oleh karena itu, AS kini berniat menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar. 

Sejauh ini, serangan AS dan Israel di Iran telah menewaskan setidaknya 1.443 orang. Dari jumlah tersebut, 217 di antaranya merupakan anak-anak. 

“Anak-anak dibunuh di sekolah. Laki-laki tewas di pos pemeriksaan saat mereka mencoba memindahkan keluarga mereka. Perempuan dibunuh saat mengantre untuk mendapatkan roti. Petugas medis dibunuh saat menanggapi keadaan darurat,” kata Wakil Direktur Human Rights Activists (HRA) di Iran, Skylar Thompson, kepada Washington Post.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team