pengungsi Sudan di Chad. (Foreign, Commonwealth & Development Office, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Meski sebagian besar pembunuhan terjadi di Timur Tengah, ancaman terhadap keselamatan jurnalis juga meluas di wilayah konflik lainnya. Di luar Gaza dan Yaman, Sudan menjadi negara paling berbahaya bagi jurnalis dengan sembilan kematian tercatat pada 2025. Perang saudara yang brutal di negara Afrika tersebut telah memaksa jurnalis bekerja di bawah kondisi yang mengerikan.
Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) di Sudan disebut bertanggung jawab atas berbagai rentetan pelanggaran terhadap media. Mereka dilaporkan menculik jurnalis, mengubah kantor berita menjadi pusat penahanan, hingga melakukan serangan drone yang menewaskan wartawan. Pada bulan Maret 2025 saja, tiga jurnalis tewas seketika dalam satu serangan drone.
Beralih ke Eropa timur, empat jurnalis Ukraina dilaporkan tewas akibat serangan drone militer Rusia sepanjang tahun 2025. Angka ini merupakan jumlah kematian jurnalis tertinggi dalam eskalasi perang Rusia-Ukraina sejak tahun 2022. Kendati demikian, pemerintah Rusia selalu membantah tuduhan bahwa mereka sengaja menargetkan wartawan di medan perang.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah membantah seluruh klaim CPJ. Mereka bersikeras bahwa militer Israel tidak pernah secara sengaja menargetkan jurnalis beserta anggota keluarga mereka. IDF justru menilai laporan yang dikeluarkan oleh organisasi tersebut cacat dan bias.
"Laporan ini didasarkan pada tuduhan umum, data yang tidak diketahui sumbernya, dan kesimpulan yang telah ditentukan sebelumnya, tanpa mempertimbangkan kompleksitas pertempuran atau upaya IDF untuk mengurangi kerugian terhadap warga sipil," bunyi pernyataan IDF, dilansir The Jerusalem Post.