Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Israel Serang Lebanon Usai Perpanjang Gencatan Senjata, 8 Orang Tewas
sudut kota Beirut, Lebanon. (unsplash.com/christellehayek)
  • Israel melancarkan serangan udara ke Lebanon hanya beberapa jam setelah perpanjangan gencatan senjata, menewaskan delapan orang termasuk anak-anak dan tiga paramedis.
  • Militer Israel meningkatkan operasi udara dan artileri untuk menghadapi taktik drone baru Hizbullah, sementara kelompok HAM menuding tindakan itu sebagai kejahatan perang.
  • Perpanjangan gencatan senjata 45 hari difasilitasi AS, namun Hizbullah menolak negosiasi langsung Lebanon-Israel karena dianggap menguntungkan pihak Israel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah selatan dan timur Lebanon pada Minggu (17/5/2026). Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah kedua belah pihak sepakat memperpanjang gencatan senjata.

Akibat serangan terbaru, sedikitnya delapan orang tewas dan 15 lainnya mengalami luka-luka. Tiga di antara korban tewas merupakan petugas paramedis yang sedang bertugas.

1. Korban tewas termasuk anak-anak dan paramedis

bendera Lebanon. (unsplash.com/Charbel Karam)

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan adanya tiga korban jiwa, termasuk satu anak, akibat serangan di kota Tayr Felsay. Sementara itu, gempuran di Tayr Debba merenggut dua nyawa yang salah satunya juga masih anak-anak.

Serangan lainnya turut menghantam kota Jouaiya dan menewaskan tiga orang. Pasukan Israel juga menembakkan rudal ke sebuah unit apartemen di pinggiran Baalbek pada tengah malam.

Serangan rudal di Baalbek menewaskan komandan Jihad Islam, Wael Abdel Halim, beserta putrinya yang berusia 17 tahun. Militer Israel mengklaim serangan ini bertujuan untuk membunuh anggota kelompok teroris.

Serangan udara di sebuah klinik juga menewaskan tiga paramedis dari Komite Kesehatan Islam. Satu petugas pertahanan sipil lainnya mengalami luka kritis akibat gempuran di wilayah Harouf.

2. Israel antisipasi taktik drone baru Hizbullah

tentara Hizbullah saat latihan militer (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Militer Israel meningkatkan serangan udara dan artileri di berbagai wilayah di Lebanon. Mereka juga terus mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi penduduk di berbagai desa selatan. Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan pihaknya kini sedang menghadapi strategi drone baru dari Hizbullah.

"Israel sedang mempertahankan wilayah, membersihkan wilayah, melindungi komunitas Israel, dan juga melawan musuh yang mencoba mengakali kita," ujar Netanyahu, dilansir The New Arab.

Menurut BBC, Hizbullah telah melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Israel di perbatasan. Sementara itu, kelompok hak asasi manusia mengecam taktik penghancuran desa yang dilakukan Israel di Lebanon sebagai kejahatan perang.

3. Lebanon-Israel sepakati perpanjangan gencatan senjata

pasukan Israel di Sungai Litani, Lebanon (wikimedia/ / IDF Spokesperson's Unit)

Serangan terbaru terjadi usai perundingan yang difasilitasi oleh pemerintah Amerika Serikat (AS). Israel dan Lebanon telah sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata selama 45 hari ke depan.

Kesepakatan ini memuat rencana peluncuran jalur keamanan militer di Pentagon pada 29 Mei mendatang. Putaran negosiasi tahap selanjutnya dijadwalkan akan digelar pada awal Juni.

Kelompok Hizbullah menentang negosiasi langsung yang dilakukan oleh pemerintah Lebanon dengan Israel. Mereka menganggap pembicaraan ini hanya akan menguntungkan Israel.

"Negosiasi langsung yang dilakukan otoritas di Lebanon dengan Israel telah membawa mereka ke jalan buntu. Kebijakan ini tidak akan menghasilkan apa-apa selain rentetan konsesi," tutur anggota parlemen Hizbullah, Hussein Hajj Hassan, dilansir Al Jazeera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team