Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

UNICEF: Serangan Israel di Lebanon Sudah Tewaskan 200 Anak

UNICEF: Serangan Israel di Lebanon Sudah Tewaskan 200 Anak
ilustrasi anak-anak (pexels.com/Hosny salah)
Intinya Sih
  • UNICEF melaporkan sejak 2 Maret, serangan Israel di Lebanon menewaskan sekitar 200 anak dan melukai lebih dari 800 lainnya, dengan rata-rata 14 anak menjadi korban setiap hari.
  • UNICEF mendesak Israel menghentikan serangan terhadap anak-anak dan warga sipil di Lebanon, menegaskan bahwa tindakan tersebut termasuk kejahatan perang serta menyerukan perlindungan dan akses kemanusiaan yang aman.
  • Gencatan senjata Israel-Lebanon diperpanjang 45 hari setelah negosiasi di Washington D.C., namun serangan masih terjadi meski kesepakatan damai telah disetujui.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - UNICEF menyebut serangan Israel di Lebanon yang dilakukan sejak 2 Maret lalu telah menewaskan setidaknya 200 anak. Sementara itu, 806 anak lainnya mengalami luka-luka.

Dilansir The New Arab, Sabtu (16/5/2026), serangan Israel di Lebanon membuat hampir 14 anak menjadi korban setiap harinya. Mereka ada yang tewas di tempat dan ada juga yang mengalami luka parah. 

1. Israel sudah membunuh 23 anak di Lebanon sejak gencatan senjata

Anak-anak sedang bermain.
ilustrasi anak-anak (pexels.com/mori dad)

UNICEF menambahkan, sejak gencatan senjata pada 17 April, serangan Israel sudah menewaskan sekitar 23 anak di Lebanon. Sementara itu, 93 anak lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.  

"Gencatan senjata ini, yang masih menyebabkan lebih dari empat anak tewas atau terluka setiap hari, bukanlah gencatan senjata untuk anak-anak," kata Perwakilan UNICEF di Lebanon, Marcoluigi Corsi.

"Serangan terhadap warga sipil masih belum berhenti. Serangan itu hanya berlanjut dengan nama lain. Rekan-rekan saya mengatakan bahwa serangan udara terasa lebih intens di beberapa daerah (di Lebanon) daripada sebelumnya," lanjut Corsi.

2. UNICEF mendesak Israel berhenti menyerang anak-anak di Lebanon

UNICEF
potret logo UNICEF (commons.wikimedia.org/Delehaye)

Oleh karena itu, UNICEF secara terbuka mendesak pasukan Israel untuk berhenti menyerang anak-anak dan warga sipil lainnya yang ada di Lebanon. Sebab, anak-anak merupakan pihak yang tidak bersalah. Sebagai warga sipil, anak-anak seharusnya mendapat perlindungan ketat. Oleh sebab itu, serangan terhadap mereka akan dianggap sebagai kejahatan perang. 

"Hal yang paling dibutuhkan anak-anak saat ini adalah keamanan. Gencatan senjata harus dipertahankan, warga sipil dan infrastruktur sipil harus dilindungi, dan organisasi kemanusiaan harus memiliki akses yang aman dan tanpa hambatan ke daerah yang terkena dampak untuk memberikan bantuan yang menyelamatkan jiwa," jelas Corsi.

"Pada saat yang sama, memulihkan pendidikan, layanan kesehatan, sistem air, dan layanan perlindungan sangat penting untuk membantu anak-anak pulih dan membangun kembali kehidupan mereka," tambahnya.

3. Gencatan senjata Israel dan Lebanon sudah diperpanjang 45 hari

Bendera Israel (kanan) dan Lebanon (kiri).
potret bendera Israel (kanan) dan Lebanon (kiri) (commons.wikimedia.org/Danielrosehill)

Saat ini, gencatan senjata Israel dan Lebanon sudah diperpanjang lagi selama 45 hari. Kesepakatan itu diraih usai Israel dan Lebanon melakukan negosiasi damai tahap ketiga di Gedung Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Amerika Serikat, Washington D.C., pada Kamis (14/5/2026) dan Jumat (15/5/2026).

"Gencatan senjata pada 16 April akan diperpanjang selama 45 hari untuk memungkinkan kemajuan lebih lanjut," kata Juru Bicara Kemlu AS, Tommy Pigott, dalam sebuah unggahan di laman X pada Jumat, seperti dikutip Reuters.  

Meski sudah ada gencatan senjata, Israel hingga kini masih menyerang Lebanon. Pada Jumat lalu, misalnya, Israel melakukan serangan ke sebuah kota di Lebanon selatan hingga menewaskan tujuh orang.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More