Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
perbatasan Rafah. (أشرف العناني from alshekh zwaed, egypt, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)
perbatasan Rafah. (أشرف العناني from alshekh zwaed, egypt, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mencari sandera terakhir di Gaza

  • Pembukaan Rafah hanya untuk pejalan kaki, dengan pengawasan ketat dan tanpa lalu lintas barang

  • Keputusan Netanyahu mendapat kecaman dari menteri sayap kanan Israel dan analis memperingatkan potensi pengusiran warga Palestina

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan persetujuan Israel untuk membuka kembali penyeberangan Rafah yang berbatasan dengan Mesir. Namun, pembukaan jalur vital itu bersifat terbatas dan bergantung pada penyelesaian operasi militer untuk menemukan jasad sandera terakhir Israel di Gaza.

Otoritas Israel menegaskan gerbang hanya akan dibuka untuk pejalan kaki setelah pasukan berhasil mengevakuasi jasad Sersan Mayor Ran Gvili. Pengumuman pada Minggu (25/1/2026) ini muncul menyusul tekanan dari Amerika Serikat (AS) terkait implementasi fase kedua rencana perdamaian Presiden Donald Trump.

1. Penyeberangan Rafah dibuka jika sandera terakhir Israel ditemukan

Perbatasan Rafah. (Gigi Ibrahim, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) saat ini melancarkan operasi pencarian di sebuah pemakaman di Gaza utara. Wilayah pencarian terletak di dekat "garis kuning" yang menandai zona kendali Israel.

Ran Gvili adalah satu-satunya sandera dari total 251 orang yang diculik pada 7 Oktober 2023 yang statusnya belum terselesaikan hingga kini. Polisi berusia 24 tahun tersebut tewas saat mempertahankan Kibbutz Alumim dan jasadnya dibawa ke Gaza.

Kelompok Hamas menyatakan telah memberikan transparansi mengenai lokasi jasad Gvili. Juru bicara Brigade Al-Qassam, Abu Obeida, meminta mediator untuk menekan Israel agar mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

2. Rafah masih di bawah pengawasan ketat Israel

ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)

Pembukaan Rafah kali ini tidak mencakup lalu lintas barang atau bantuan logistik skala besar. Israel juga masih akan menerapkan pemeriksaan ketat terhadap lalu lintas di perbatasan tersebut.

Sebelumnya, Israel telah bertemu dengan utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Yerusalem. Washington mendesak transisi segera ke fase kedua gencatan senjata yang mencakup rekonstruksi Gaza.

Pejabat AS memperkirakan operasi pencarian jasad akan memakan waktu beberapa hari saja. Dengan demikian, gerbang Rafah diprediksi akan dibuka pada akhir minggu ini.

"Bagi warga Palestina di Gaza, Rafah lebih dari sekadar gerbang, itu adalah jalur kehidupan dan simbol peluang," ujar Ali Shaath, kepala komite transisi Palestina yang didukung AS, dalam Forum Ekonomi Dunia, dilansir Al-Monitor.

3. Sayap kanan Israel kecam pembukaan Rafah

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. (DedaSasha, CC BY-SA 4.0 , via Wikimedia Commons)

Keputusan Netanyahu memicu kemarahan dari menteri sayap kanan dalam kabinet keamanan Israel. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir menilai pembukaan Rafah sebagai kesalahan besar karena Hamas belum sepenuhnya dilucuti.

"Jika Penyeberangan Rafah dibuka, itu akan menjadi kesalahan besar dan pesan yang sangat buruk," tegas Ben Gvir, dikutip dari The Times of Israel.

Di sisi lain, para analis memperingatkan, pembukaan khusus pejalan kaki tanpa akses logistik dapat memicu pengusiran warga Palestina. Anthony Lowenstein, penulis buku The Palestine Laboratory, menyebut skema ini berpotensi memfasilitasi warga Gaza untuk keluar tapi sulit untuk kembali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team