Ruang sidang Parlemen Jepang. (Wikimedia.org/Kimtaro)
Saat ini, di tubuh parlemen Jepang yang memiliki anggota sebanyak 465 politisi, sebanyak 46 adalah perempuan. Jumlah itu hanya sekitar 9,9 persen dari total komposisi. Jika dibandingkan dengan rata-rata internasional, jumlah tersebut terpaut jauh. Rata-rata anggota parlemen internasional memiliki komposisi sebanyak sekitar 25,1 persen.
Melansir dari laman The Guardian, mantan Menteri Pertahanan Jepang yang bernama Tomomi Inada menyarakan agar lebih banyak perempuan diizinkan hadir dalam pertemuan penting partai. Tahun lalu ia menyebut bahwa Jepang adalah “demokrasi tanpa perempuan,” ketika Yoshihide Suga jadi Perdana Menteri dan hanya menunjuk dua perempuan dalam kabinetnya.
Inada juga mengatakan bahwa jumlah populasi di Jepang, separuhnya adalah perempuan. “Jika perempuan tidak memiliki tempat untuk membahas kebijakan yang ingin mereka berlakukan, demokrasi Jepang tidak bisa tidak bias,” katanya.
Rencana usulah Sekjen LDP yang melibatkan lima perempuan untuk hadir dan menyaksikan tapi tidak untuk mengeluarkan pendapat mendapatkan ejekan dari anggota parlemen oposisi. Mereka menyebut bahwa rencana itu menempatkan perempuan hanya dalam posisi “praktek kerja lapangan” saja.
Seorang sosiolog budaya dari Waikato University di Selandia Baru yang bernama Belinda Wheaton mengatakan “Saya pikir mungkin sudah waktunya untuk mengajukan pertanyaan tentang mengapa kita merasa bahwa laki-laki berusia 70an atau 80an mampu memenuhi peran ini dengan lebih baik dibandingkan laki-laki berusia 40an atau 50an, atau perempuan,” katanya.
Di Jepang masih banyak politisi penting laki-laki dan mereka berusia sepuh. Mereka tetap memiliki pengaruh kuat dalam politik. Sebut saja misalnya Yoshihiro Mori yang mengundurkan diri dari Ketua Panitia Olimpiade Tokyo berusia 83 tahun. Sekjen LDP Toshihiro Nakai berusia 82 tahun. Perdana Menteri Yoshihide Suga berusia 73 tahun. Mereka adalah orang-orang kelahiran 1930an dan 1940an dan aktif serta memiliki posisi kunci di politik Jepang.