Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jurnalis AS Diculik di Irak, Diduga oleh Proksi Iran
Kota Baghdad Irak (unsplash.com/Tatiana Mokhova)
  • Shelly Kittleson, jurnalis AS-Italia, diculik di Baghdad oleh empat pria bersenjata sipil; satu tersangka ditangkap setelah pengejaran polisi.
  • Otoritas Irak menduga kelompok milisi pro-Iran Kataib Hizbullah berada di balik penculikan, sementara AS dan FBI berkoordinasi untuk upaya pembebasan.
  • Penculikan terjadi di tengah meningkatnya kekacauan keamanan Irak akibat konflik Iran-AS-Israel, yang juga memperburuk situasi kebebasan pers di negara tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Seorang jurnalis lepas berkewarganegaraan Amerika Serikat (AS)-Italia, Shelly Kittleson, diculik di Baghdad, Irak, pada Selasa malam (31/3/2026). Insiden ini terekam kamera keamanan saat korban didorong masuk ke dalam sebuah mobil berwarna perak di Jalan Saadoun.

Pemerintah Irak segera meluncurkan operasi pencarian di ibu kota. Pihak keamanan berhasil menangkap satu tersangka setelah mobil yang digunakan para penculik terbalik dalam pengejaran.

1. Kittleson diduga telah dipindahkan ke Babil

ilustrasi bendera Irak. (unsplash.com/engin akyurt)

Kittleson disergap oleh empat pria berpakaian sipil di dekat Hotel Baghdad. Terdapat dua mobil yang terlibat dalam aksi penculikan terencana ini. Salah satu mobil berhasil kabur membawa jurnalis tersebut ke arah selatan Baghdad. Sumber keamanan menyebutkan korban kemungkinan telah dipindahkan ke wilayah Kegubernuran Babil.

Kittleson adalah jurnalis yang berbasis di Roma dan sering meliput konflik di Timur Tengah dan Afghanistan. Karyanya rutin dipublikasikan di berbagai media internasional seperti Al-Monitor, The New Arab, dan BBC.

"Kami sangat khawatir dengan penculikan kontributor Al-Monitor Shelly Kittleson di Irak pada hari Selasa. Kami mendukung liputannya dari wilayah tersebut dan menyerukan kepulangannya secepat mungkin untuk melanjutkan pekerjaannya yang penting," ungkap perwakilan Al-Monitor, dilansir ABC News.

2. Proksi Iran dituding sebagai dalang penculikan

ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Tersangka yang ditahan oleh otoritas Irak diyakini memiliki hubungan dengan kelompok milisi Kataib Hizbullah. Kelompok bersenjata yang didukung Iran ini sebelumnya dilaporkan merencanakan penculikan terhadap jurnalis perempuan.

Nama Kittleson dikabarkan masuk dalam daftar target yang dimiliki oleh milisi tersebut. Pemerintah AS sebenarnya telah berulang kali memperingatkan korban mengenai ancaman ini, termasuk pada Senin malam sebelum kejadian.

"Departemen Luar Negeri sebelumnya telah memenuhi kewajibannya untuk memperingatkan individu ini tentang ancaman terhadap dirinya dan kami akan terus berkoordinasi dengan FBI untuk memastikan pembebasannya secepat mungkin," tutur Asisten Menteri Luar Negeri AS Dylan Johnson, dilansir Al Jazeera.

3. Situasi keamanan di Irak memburuk akibat perang di Iran

ilustrasi baku tembak (unsplash.com/Taiwangun)

Insiden penculikan terjadi di tengah memburuknya situasi keamanan regional akibat serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari. Konflik tersebut memicu peningkatan gelombang kekerasan di berbagai wilayah Irak.

Pasukan keamanan Irak telah menjadi target serangan berulang kali. Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) juga mencatat serangkaian pelanggaran kebebasan pers sejak perang meletus.

Sebuah kru televisi di Kirkuk sebelumnya diserang oleh anggota Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) pada pertengahan Maret. Organisasi tersebut merupakan cabang angkatan bersenjata Irak yang mencakup milisi pro-Iran.

Kedutaan AS kembali memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Irak dengan alasan apa pun. Mereka juga mengimbau warga AS yang berada di Irak untuk segera meninggalkan negara tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team