Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kanada Minta Bantuan Oman untuk Evakuasi Warganya dari Timur Tengah
potret Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand (audiovisual.ec.europa.eu/Jennifer Jacquemart via commons.wikimedia.org/Jennifer Jacquemart)
  • Pemerintah Kanada meminta bantuan Oman untuk mengevakuasi sekitar 100 ribu warganya dari Timur Tengah akibat meningkatnya konflik antara AS, Israel, dan Iran.
  • Serangan udara saling balas antara AS-Israel dan Iran terus berlangsung, menyebabkan kerusakan besar di kawasan serta lonjakan harga minyak global.
  • Israel memperluas serangan ke Lebanon dengan target kelompok Hizbullah, sementara korban tewas di Iran akibat konflik ini telah mencapai sekitar 1.000 orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Kanada meminta bantuan Oman untuk mengevakuasi warganya dari kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil karena situasi konflik di kawasan tersebut makin panas setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 lalu.

Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, dalam pernyataannya mengatakan, jika memang diperlukan, pihaknya akan menggunakan wilayah udara Oman untuk mengevakuasi 100 ribu warga Kanada dari Timur Tengah. Wilayah udara Oman dipilih karena dinilai aman dari serangan udara AS, Israel, dan Iran.

"Prioritas utama kami saat ini adalah 100 ribu warga Kanada yang berada di wilayah ini (Timur Tengah)," kata Anand usai menghadiri acara yang dihelat Dewan Perdagangan Kanada di Toronto, Selasa (3/3/2026), seperti dilansir Anadolu Agency.

1. Serangan udara AS-Israel ke Iran masih berlanjut

ilustrasi serangan udara menggunakan drone militer (pexels.com/Yunus KARA)

Hingga saat ini, AS dan Israel masih melakukan serangan udara ke Iran. Begitu pula sebaliknya. Iran juga makin gencar melancarkan serangan balasan ke Negeri Paman Sam dan sekutunya tersebut. 

Iran kini sudah melakukan serangan balasan ke markas-markas militer AS yang ada di Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Tidak hanya itu, pada Selasa lalu, Iran bahkan menyerang Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan dan kebakaran di komplek Kedutaan Besar AS yang ada di sana. Konsulat Jenderal AS di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, juga sudah terkena serangan dari Iran 

Sebelumnya, Iran menyerang perusahaan energi yang ada di Arab Saudi dan Qatar, yakni Aramco dan QatarEnergy pada Senin (2/3/2026). Serangan ini membuat harga minyak global melambung hingga mencapai harga tertinggi. Mereka juga sudah melancarkan serangan ke Tel Aviv dan beberapa kota lainnya yang ada di Israel.

2. Israel mulai menyerang Lebanon

Bendera Israel (pexels/Thắng-Nhật Trần)

Di sisi lain, Israel juga sudah mulai melancarkan serangan ke Kota Beirut, Lebanon sejak Senin lalu. Serangan tersebut ditargetkan kepada kelompok milisi Hizbullah yang diduga membantu Iran menyerang AS dan Israel.

Menurut keterangan Kementerian Kesehatan Lebanon, saat ini, sudah ada enam orang yang dilaporkan tewas imbas serangan Israel di Beirut. Sementara itu, delapan orang lainnya dilaporkan hanya mengalami luka-luka.  

Terbaru, Israel melakukan serangan udara ke Kota Baalbek pada Rabu (4/3/2026) pagi waktu setempat. Berdasarkan laporan media nasional Lebanon, NNA, serangan ini menewaskan 4 orang dan melukai 6 lainnya. 

3. Korban tewas imbas serangan AS-Israel di Iran sudah mencapai 1.000 orang

ilustrasi korban jiwa (pexels.com/Armin Forster)

Saat ini, korban tewas imbas serangan AS-Israel di Iran sudah mencapai 1.000 orang. Sebelumnya, Palang Merah Iran melaporkan korban tewas masih berjumlah 555 orang. 

Meski masih melakukan serangan, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, perang dengan Iran tidak akan berjalan lama. Bahkan, Trump memprediksi perang dengan negara mayoritas Islam Syiah itu hanya akan berlangsung sekitar empat sampai lima pekan saja. 

Namun, Trump menegaskan, dalam kondisi tertentu, perang melawan Iran bisa jadi lebih lama. Ia menegaskan AS juga sudah siap jika hal itu terjadi di kemudian hari. “Kami memperkirakan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu,” ujar Trump dilansir The Guardian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team