Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rusia Peringatkan AS dan Israel: Serangan ke Iran Bisa Jadi Bumerang!

Rusia Peringatkan AS dan Israel: Serangan ke Iran Bisa Jadi Bumerang!
Para pengunjuk rasa berkumpul dengan bendera nasional Iran selama demonstrasi untuk mendukung pemerintah dan menentang serangan AS dan Israel di luar sebuah masjid di Teheran pada 28 Februari 2026. (ATTA KENARE/AFP)
Intinya Sih
  • Rusia memperingatkan Amerika Serikat dan Israel serangan militer ke Iran bisa menjadi bumerang dan memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah.

  • Sergei Lavrov menilai serangan tersebut dapat memicu dorongan baru di Iran untuk mengembangkan senjata nuklir, meski belum ada bukti nyata program semacam itu.

  • Presiden Vladimir Putin mendesak agar eskalasi konflik segera diredam dan berkomunikasi dengan para pemimpin Arab Teluk untuk mencari jalan meredakan ketegangan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Rusia memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terkait serangan militer ke Iran yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026). Moskow menilai operasi tersebut berisiko menjadi bumerang dan memperburuk stabilitas kawasan.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut ambisi nuklir Iran sebagai alasan utama serangan dilancarkan. Operasi militer itu dilaporkan menewaskan puluhan pejabat Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Serangan tersebut memicu eskalasi konflik di kawasan. Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara Arab yang memiliki pangkalan militer AS, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Arab Saudi.

Di tengah situasi yang memanas, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menilai langkah Washington dan Tel Aviv justru berpotensi menimbulkan konsekuensi yang tak diinginkan.

1. Bisa picu keinginan memiliki bom nuklir

Ilustrasi pembangunan di fasilitas nuklir Iran di Fordo. Sumber:unplash.com/Etienne Girardet
Ilustrasi pembangunan di fasilitas nuklir Iran di Fordo. Sumber:unplash.com/Etienne Girardet

Lavrov menegaskan, serangan terhadap Iran dapat memunculkan kekuatan baru di dalam negeri yang terdorong mengembangkan senjata nuklir.

“Kekuatan bisa muncul di Iran, kekuatan yang mendukung untuk melakukan persis apa yang ingin dihindari Amerika, yakni memperoleh bom nuklir. Karena AS tidak menyerang mereka yang memiliki bom nuklir,” ucap Lavrov, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (4/3/2026).

Menurut dia, pendekatan militer untuk mencegah proliferasi nuklir justru berpotensi menghasilkan dampak sebaliknya.

“Masalah proliferasi nuklir akan mulai lepas kendali. Tujuan mulia yang tampaknya paradoks, yaitu memulai perang untuk mencegah proliferasi senjata nuklir, justru dapat memicu tren yang sepenuhnya berlawanan,” ujar Lavrov.

2. Iran belum ada senjata nuklir

Ilustrasi digital yang menampilkan bendera Israel dan Iran di tengah medan perang, dengan bola dunia yang retak dan terbakar di bagian tengah, serta timbangan keadilan yang terjatuh di latar depan.
Ilustrasi eskalasi konflik Israel-Iran yang berpotensi berdampak pada stabilitas global dan tatanan internasional. Source. Ilustrasi digital (Al-generated)

Lavrov juga menyebut Rusia belum melihat bukti Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Di sisi lain, Israel secara luas diyakini sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir, meski tidak pernah secara resmi mengakuinya.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) turut menegaskan belum menemukan bukti program senjata nuklir Iran.

“Para inspektur IAEA belum menemukan bukti program Iran yang terkoordinasi untuk membangun senjata nuklir,” kata Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi, mematahkan klaim Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Grossi membenarkan Teheran telah memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen. Angka tersebut jauh melampaui kebutuhan energi sipil dan umumnya dimiliki negara dengan senjata nuklir.

Ia menegaskan, para inspektur belum dapat menyimpulkan adanya niat Iran membangun bom, tetapi mengatakan penimbunan tersebut menimbulkan pertanyaan serius.

“Tetapi apakah mereka memilikinya? Tidak,” ujarnya menegaskan.

3. Putin desak eskalasi harus diredam

Presiden Rusia Vladimir Putin.
Presiden Rusia Vladimir Putin (commons.wikimedia.org/Пресс-служба Президента России, www.kremlin.ru)

Rusia memiliki hubungan strategis dengan Iran dan memandang Teheran sebagai mitra penting dalam menjaga pengaruh Moskow di Timur Tengah. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan menyebut pembunuhan Khamenei sebagai tindakan yang sinis.

Kremlin mendesak agar eskalasi segera dihentikan. Pemerintah Rusia menyatakan Putin telah berbicara dengan para pemimpin Arab Teluk pada Senin (2/3/2026) guna membahas situasi yang berkembang.

Putin juga berjanji akan menyampaikan kepada Iran kekhawatiran para pemimpin Teluk terkait serangan militer yang terus berlanjut.

“Putin tentu akan melakukan segala upaya untuk berkontribusi setidaknya pada sedikit pengurangan ketegangan,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Peringatan Rusia muncul di tengah kekhawatiran global bahwa konflik Iran–AS–Israel dapat meluas dan mengubah peta keamanan Timur Tengah secara signifikan. Jika tidak diredam, krisis ini berpotensi memicu instabilitas jangka panjang di kawasan strategis tersebut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Latest in News

See More