Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Virus.
ilustrasi virus campak (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Intinya sih...

  • Kasus campak menyerang beberapa negara bagian di Amerika Serikat, termasuk Carolina Utara dan wilayah perbatasan Negara Bagian Arizona dan Utah.

  • Kasus campak meningkat karena kepercayaan publik terhadap vaksin menurun akibat kampanye anti-vaksin dari Menteri Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr.

  • Wabah campak bisa kembali merebak di Amerika Serikat jika warga tidak mau divaksin, setelah kasus campak meningkat pesat sepanjang 2025.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat mendesak semua warganya untuk segera disuntik vaksin campak. Sebab, kasus campak di AS saat ini makin meningkat. Desakan ini disampaikan langsung oleh Kepala Pusat Layanan Kesehatan AS, Mehmet Oz, dalam pernyataannya kepada CNN pada Minggu (8/2/2026).

“Tolong segera divaksin. Kami punya solusi untuk masalah kita. Tidak semua penyakit sama berbahayanya dan tidak semua orang sama rentannya terhadap penyakit tersebut. Namun, campak adalah salah satu penyakit yang sebaiknya Anda dapatkan vaksinnya,” kata Oz.

1. Kasus campak menyerang beberapa negara bagian di Amerika Serikat

peta negara bagian di Amerika Serikat (pexels.com/Arturo Añez)

Kasus campak saat ini menyerang beberapa negara bagian di Amerika Serikat. Salah satunya Carolina Utara. Menurut Mehmet Oz, sudah ada lebih dari 900 kasus campak yang menyerang para warga di negara bagian tersebut. Itu merupakan kasus campak tertinggi dalam sejarah Negeri Paman Sam.

Selain Carolina Utara, kasus campak juga terjadi di wilayah perbatasan Negara Bagian Arizona dan Utah. Namun, kasus campak di wilayah tersebut tidak sebesar di Carolina Utara. Sebab, hanya ada satu warga di sana yang dilaporkan terinfeksi virus campak. 

Meski begitu, Oz tetap mewanti-wanti semua warga AS untuk segera mendapatkan vaksin. Ia juga berjanji akan membuka akses vaksin campak seluas-luasnya untuk warga AS. Sebab, jika dibiarkan, kasus campak di AS bisa makin meningkat dan berpotensi menjadi wabah.   

2. Kasus campak meningkat karena kepercayaan publik terhadap vaksin menurun

ilustrasi vaksin (pexels.com/Chokniti Khongchum)

Menurut para ahli, kasus campak di Amerika Serikat kini kembali merebak karena kepercayaan masyarakat terhadap vaksin menurun. Hal ini terjadi karena Menteri Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr., sangat anti terhadap vaksin. 

Kennedy yang juga merupakan aktivis antivaksin kerap mengampanyekan kepada warga AS bahwa vaksin hanya akal-akalan pengusaha farmasi dan tidak bisa menyembuhkan penyakit. Asumsi inilah yang membuat warga Negeri Paman Sam terhasut dan menghindari vaksinasi untuk penyakit-penyakit menular.

Para ahli berpendapat, jika hal tersebut dibiarkan, warga AS bisa makin anti terhadap vaksin sehingga akan rentan terkena penyakit menular. Selain itu, ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin juga berpotensi menimbulkan wabah baru di Amerika Serikat.

3. Wabah campak bisa kembali merebak di Amerika Serikat jika warga tidak mau divaksin

ilustrasi warga yang sedang divaksin (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Wabah campak di Amerika Serikat sebetulnya sudah diberantas pada 2000. Sejak saat itu, tidak ada lagi kasus campak dalam jumlah tinggi yang menyerang warga AS. Namun, kekhawatiran akan wabah campak kini kembali muncul karena masyarakat banyak yang tidak percaya vaksin.

Data terbaru yang dirilis pada Januari 2026 lalu menunjukkan bahwa kasus campak di Negeri Paman Sam meningkat pesat sepanjang 2025. Namun, Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump memilih bungkam soal masalah tersebut. 

Alih-alih mengampanyekan vaksin, Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr. malah merekomendasikan pengobatan lain untuk mengatasi wabah campak. Padahal, menurut para ahli, pengobatan tersebut belum teruji keamanan dan manfaatnya. 

“Kita tidak mengetahui risiko dari banyak produk ini karena produk-produk tersebut belum diuji keamanannya,” kata seorang pakar penyakit menular dari Universitas Minnesota, Professor Michael Osterholm, dilansir The Strait Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team