Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kasus Kebocoran Soal Ujian Kedokteran di India, Mahasiswa Demo
Bendera India (unsplash.com/Girish Dalvi)
  • Ratusan mahasiswa di New Delhi menggelar aksi protes menentang pembatalan ujian NEET-UG 2026 setelah terungkap dugaan kebocoran soal yang melibatkan sekitar 2,3 juta peserta di seluruh India.
  • Pemerintah India melalui NTA membatalkan ujian demi menjaga transparansi dan menyerahkan penyelidikan kasus kebocoran kepada CBI, sementara mahasiswa menilai keputusan itu sebagai hasil perjuangan mereka.
  • Tokoh oposisi seperti Rahul Gandhi dan Arvind Kejriwal mengkritik pembatalan NEET-UG karena dianggap mencerminkan lemahnya pengawasan sistem pendidikan serta merugikan jutaan pelajar dan orang tua.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi di India menggelar aksi protes di New Delhi pada Selasa (12/5/2026). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap pembatalan National Eligibility cum Entrance Test (NEET-UG) 2026 untuk program sarjana kedokteran, menyusul temuan dugaan kebocoran soal ujian yang telah berlangsung pada 3 Mei lalu dan diikuti sekitar 2,3 juta peserta di seluruh India.

Menanggapi temuan tersebut, Badan Penguji Nasional (NTA) bersama kementerian terkait memutuskan untuk membatalkan ujian demi menjaga transparansi dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem evaluasi pendidikan. Saat ini, pemerintah India telah menyerahkan penyelidikan kasus kebocoran soal tersebut kepada Biro Investigasi Pusat (CBI).

1. Ratusan mahasiswa protes di depan kantor Kementerian Pendidikan

Ratusan anggota National Students' Union of India (NSUI) berdemonstrasi di luar gedung Shastri Bhawan, yang merupakan kantor Kementerian Pendidikan India. Mereka membawa spanduk dengan tulisan bernada protes seperti "PM compromised, paper compromised", "paper leak, Modi sarkar weak", dan "doctor ki degree bikao hain".

Massa juga menyuarakan slogan "chaatro pe attyachar bandh karo" (hentikan tindakan sewenang-wenang terhadap mahasiswa) dengan pengawalan dari pihak kepolisian yang memasang barikade di lokasi. Aksi ini merupakan tanggapan langsung terhadap pengumuman pembatalan NEET-UG 2026 oleh NTA.

Organisasi mahasiswa lain, seperti Students' Federation of India (SFI) dan Akhil Bharatiya Vidyarthi Parishad (ABVP), juga melakukan aksi serupa. Mereka meminta pemerintah melakukan penyelidikan menyeluruh terkait dugaan kebocoran soal yang berdampak pada jutaan peserta ujian.

2. Mahasiswa anggap pembatalan ujian sebagai hasil tuntutan mereka

Presiden NSUI, Vinod Jakhar, menyambut keputusan pembatalan ujian ini dan menilainya sebagai hasil dari tuntutan para mahasiswa.

"Keputusan hari ini untuk membatalkan NEET adalah hasil perjuangan mahasiswa dan suara dari ratusan ribu peserta di seluruh negeri. NSUI adalah salah satu pihak pertama yang menyoroti masalah ini dan meminta keadilan bagi mahasiswa," kata Jakhar, dilansir The Hindu.

Jakhar menyatakan jika ujian berjalan dengan baik, pemerintah tidak perlu membatalkannya dan meminta CBI untuk turun tangan menyelidiki. Menurutnya, langkah pembatalan tersebut menunjukkan adanya kelemahan pengawasan dari kementerian pendidikan dan NTA dalam menjaga kelancaran ujian nasional.

Lebih lanjut, Jakhar menyarankan Menteri Pendidikan untuk mengevaluasi jabatannya dan meminta adanya perombakan pada tubuh NTA. Ia menilai lembaga tersebut perlu diperbaiki agar ujian selanjutnya dapat berjalan lebih baik dan mengembalikan kepercayaan peserta.

3. Kritik dari pihak oposisi terhadap kinerja penyelenggara ujian

Sejumlah tokoh oposisi turut memberikan kritik terkait insiden ini. Pemimpin Partai Kongres, Rahul Gandhi, menilai bahwa pembatalan NEET merugikan masyarakat dan menunjukkan adanya masalah dalam sistem pendidikan saat ini.

"Ujian NEET 2026 telah dibatalkan. Usaha dan harapan dari ratusan ribu mahasiswa terdampak oleh masalah ini. Banyak orang tua sudah berkorban biaya dan anak-anak belajar keras, tetapi yang terjadi justru kebocoran soal dan kurangnya pengawasan dalam sistem pendidikan kita," ujar Gandhi, dilansir The New Indian Express.

Anggota Parlemen dari Partai Kongres, Manickam Tagore, juga menyampaikan kritiknya melalui media sosial X. Ia menyoroti dampak kelalaian sistem terhadap para peserta ujian.

"Ratusan ribu mahasiswa yang sudah belajar siang dan malam harus menerima akibat dari kelemahan sistem ini," kata Tagore.

Pemimpin Aam Aadmi Party (AAP), Arvind Kejriwal, juga memberikan tanggapan. Ia berpendapat ada pengaruh dari pihak tertentu dalam kasus ini dan menyebutkan bahwa soal ujian kedokteran sudah beberapa kali mengalami kebocoran pada tahun-tahun sebelumnya tanpa ada penyelesaian yang tuntas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team