Menlu Iran Bawa Isu Perang ke Forum BRICS di India

- Iran memanfaatkan forum BRICS di New Delhi untuk mencari dukungan diplomatik menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel, serta memperkuat posisinya di antara negara-negara berkembang.
- India sebagai tuan rumah berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan AS dan Iran, fokus pada deeskalasi konflik, keamanan maritim, serta menghindari retorika anti-Amerika dalam pertemuan BRICS.
- Konflik Iran-AS berdampak langsung pada kepentingan energi India melalui Selat Hormuz dan proyek Pelabuhan Chabahar, mendorong India memperkuat kerja sama ekonomi dengan Iran di tengah tekanan global.
Jakarta, IDN Times - Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di New Delhi, India, diperkirakan akan menjadi panggung penting bagi Iran untuk mencari dukungan diplomatik di tengah perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, disebut akan memanfaatkan forum tersebut untuk memperkuat posisi Teheran di hadapan negara-negara berkembang anggota BRICS.
Pertemuan dua hari yang berlangsung pada Kamis (14/5/2026) itu digelar di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang masih tegang meski gencatan senjata rapuh mulai berlaku. India, sebagai ketua BRICS tahun ini, menjadi tuan rumah forum yang kini juga diikuti Iran dan Uni Emirat Arab (UEA), dua negara yang memiliki posisi berbeda terkait konflik tersebut.
Selain Araghchi, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga dijadwalkan hadir. Isu keamanan jalur pelayaran Teluk dan situasi Selat Hormuz yang praktis mengalami blokade menjadi salah satu topik utama pembahasan.
Profesor ilmu politik Universitas Ashoka di Haryana, India, Uday Chandra, menilai Iran akan menggunakan forum BRICS untuk memperkuat dukungan terhadap posisinya menghadapi tekanan Amerika Serikat.
“Saya memperkirakan Araghchi akan menggunakan platform BRICS untuk tiga tujuan: mencari dukungan diplomatik untuk melawan tekanan militer AS, mendorong pernyataan kolektif yang lebih keras terhadap perang tersebut, dan meyakinkan India serta anggota BRICS lainnya bahwa Iran tetap terbuka terhadap diplomasi,” kata Chandra, dilansir dari Al Jazeera.
Namun, BRICS sendiri disebut belum memiliki posisi bersama terkait perang tersebut. Pada pertemuan pejabat BRICS bulan lalu di Delhi, negara-negara anggota gagal mencapai kesepakatan mengenai sikap kolektif terhadap konflik Iran-AS.
1. India berupaya jaga keseimbangan

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, India dinilai berusaha menjaga keseimbangan antara hubungannya dengan Amerika Serikat dan Iran. New Delhi saat ini juga sedang menyelesaikan negosiasi penting terkait perjanjian perdagangan bilateral dengan Washington.
Menurut Chandra, India kemungkinan akan mengarahkan pembicaraan BRICS pada isu deeskalasi konflik, keamanan maritim, dan perlindungan jalur perdagangan.
“Retorika anti-Amerika kemungkinan tidak akan mendominasi pertemuan di India,” ujarnya.
Ia mengatakan, China dan Rusia mungkin mendorong bahasa yang lebih keras terhadap Washington, tetapi India cenderung memilih pendekatan yang lebih moderat.
“China dan Rusia mungkin menginginkan bahasa yang lebih keras terhadap Washington, tetapi India lebih memilih pernyataan yang seimbang dan menghindari retorika anti-Amerika,” kata Chandra.
Meski demikian, ia menilai negara-negara BRICS masih mungkin mencapai kesepahaman terkait pentingnya deeskalasi konflik dan penyelesaian damai.
Kelompok BRICS yang awalnya beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan kini telah berkembang dengan masuknya Mesir, Ethiopia, Iran, Indonesia, dan UEA.
India sendiri dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT pemimpin BRICS akhir tahun ini. Para menteri luar negeri yang hadir juga akan bertemu Perdana Menteri Narendra Modi.
2. Iran gunakan BRICS untuk lawan isolasi Barat

Direktur Strategic Engagements and Partnerships Indic Researchers Forum di Delhi, Srinivaasan Balakrishnan, menilai kehadiran Araghchi di New Delhi menunjukkan upaya serius Iran memperdalam posisinya di BRICS sejak resmi bergabung dua tahun lalu.
“Ini adalah diplomasi multipolar klasik, Iran memanfaatkan BRICS untuk melawan isolasi Barat sementara India, sebagai ketua yang bertanggung jawab, menjaga fokus pada dialog daripada konfrontasi,” kata Balakrishnan.
Menurut dia, kondisi itu memperlihatkan bagaimana negara-negara Global South mencoba membangun ruang diplomasi alternatif di tengah ketegangan global.
“Ini adalah jenis pembangunan jembatan yang dibutuhkan Global South saat ini,” ujarnya.
Balakrishnan juga menilai BRICS kemungkinan tidak akan tampil seperti NATO dengan posisi yang sepenuhnya solid, tetapi tetap berpotensi memperkuat pengaruhnya sebagai penyeimbang kekuatan global.
“Kelompok ini tidak akan meniru persatuan ala NATO, tetapi akan secara perlahan memperkuat perannya sebagai penyeimbang terhadap unilateralisme,” katanya.
Ia menambahkan, negara-negara anggota kemungkinan akan tetap menekankan pentingnya multilateralisme, penyelesaian damai, dan keamanan energi.
3. Selat Hormuz dan kepentingan India

Bagi India, konflik Iran-AS bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga menyangkut kepentingan ekonomi dan keamanan energi nasional. Jalur pelayaran Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena merupakan salah satu rute penting distribusi minyak dunia.
Profesor hubungan internasional King’s College London, Harsh Pant, mengatakan India terdampak langsung oleh ketidakstabilan di kawasan tersebut.
“Posisi India sudah sangat jelas bahwa apa yang terjadi di Selat Hormuz memberikan dampak yang sangat merugikan terhadap ekonomi global dan India juga merasakan dampaknya,” ujar Pant.
Selain jalur energi, India juga memiliki kepentingan strategis melalui proyek Pelabuhan Chabahar di Iran yang selama ini dipandang sebagai pintu perdagangan menuju Afghanistan dan Asia Tengah.
India sebelumnya sempat memperoleh pengecualian dari sanksi AS untuk proyek tersebut karena dianggap penting bagi bantuan kemanusiaan ke Afghanistan dan jalur perdagangan alternatif selain Pakistan. Namun, pengecualian itu berakhir bulan lalu.
Balakrishnan menilai kunjungan Araghchi dapat memperkuat hubungan ekonomi dan konektivitas antara India dan Iran.
“Implikasinya positif, hubungan ekonomi dan konektivitas yang lebih dalam, koordinasi yang lebih kuat di dalam BRICS, dan sinyal bahwa India tidak akan membiarkan tekanan AS menentukan kebijakan Iran mereka,” katanya.
Ia menyebut langkah India itu sebagai bentuk diplomasi neighbourhood-plus yang dilakukan dengan tepat di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

















