Kapal berbendera Belanda tersebut bertolak dari Ushuaia, Argentina, pada 20 Maret 2026 membawa sekitar 150 penumpang dan awak. Rute pelayarannya mencakup Antartika dan sejumlah kepulauan di Samudra Atlantik, sebelum dijadwalkan tiba di Cape Verde pada 4 Mei 2026.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Nasional Afrika Selatan, Foster Mohale, menjelaskan bahwa kasus bermula dari seorang penumpang pria berusia 70 tahun yang mengalami gejala demam, sakit kepala, nyeri perut, dan diare. Ia meninggal dunia saat kapal berlabuh di Pulau St. Helena.
Istri korban yang berusia 69 tahun kemudian menunjukkan gejala serupa. Ia sempat dievakuasi secara medis, namun kehilangan kesadaran di Bandara O.R. Tambo dan dinyatakan meninggal di fasilitas kesehatan di Johannesburg.
"Para penumpang kapal pesiar tersebut dirujuk ke fasilitas kesehatan di Afrika Selatan karena mengalami gangguan kesehatan serius akibat infeksi saluran pernapasan akut," jelas Mohale, dilansir The New York Times.
Korban ketiga adalah warga negara Inggris berusia 69 tahun yang dilaporkan sakit saat kapal melanjutkan pelayaran dari St. Helena ke Pulau Ascension. Pasien tersebut dievakuasi ke rumah sakit swasta di Sandton, Afrika Selatan, dan hasil laboratoriumnya mengonfirmasi positif hantavirus. Saat ini, satu penumpang lain masih dirawat di unit perawatan intensif (ICU) di Johannesburg, sementara dua awak kapal tengah dalam pengawasan medis ketat di atas kapal.