Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kasus Pertama di Eropa, Beruang Kutub Mati Akibat Flu Burung H5N5
Beruang (Unsplash.com/Hans-Jurgen Mager)
  • Norwegia mengonfirmasi kasus pertama flu burung H5N5 pada beruang kutub di Eropa setelah bangkai ditemukan di Svalbard bersama seekor walrus yang juga terinfeksi.
  • Penemuan ini menunjukkan penyebaran virus flu burung ke mamalia Arktik seperti walrus dan rubah, menimbulkan kekhawatiran terhadap kelestarian satwa liar di kawasan tersebut.
  • Otoritas menegaskan risiko penularan ke manusia masih rendah, namun warga diminta waspada dan melapor jika menemukan hewan mati untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Otoritas Norwegia mengumumkan penemuan kasus pertama flu burung pada beruang kutub di Eropa, pada Selasa (19/5/2026). Beruang kutub tersebut ditemukan mati bersama seekor walrus di Kepulauan Svalbard, sebuah kawasan Arktik yang berjarak sekitar 1.000 kilometer dari Kutub Utara.

Institut Veteriner Norwegia memastikan sampel dari kedua satwa liar tersebut positif terinfeksi virus Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) subtipe H5N5. Kasus ini menjadi yang pertama kali tercatat pada beruang kutub di Eropa, menyusul temuan serupa pada spesies yang sama di Alaska, Amerika Serikat, pada 2023 lalu.

1. Kronologi penemuan bangkai dan hasil pemeriksaan

Pemandu wisata pertama kali menemukan kedua bangkai tersebut di daerah Raudfjorden, bagian utara Spitsbergen, dan langsung melaporkannya ke pihak berwenang. Karena ada dugaan infeksi rabies atau flu burung, tim dari Institut Veteriner Norwegia segera terbang mengambil sampel menggunakan helikopter dari kota Longyearbyen pada Kamis pekan lalu.

Tim juga menerima laporan tentang dua beruang kutub lain di sekitar lokasi yang mengalami kelumpuhan pada kaki belakang. Namun, tim tidak melihat kedua beruang yang sakit tersebut saat melakukan pemantauan dari udara.

"Bangkai hewan dengan cepat ditemukan setelah tim terbang menggunakan helikopter, dan sampel berhasil diambil. Kami tidak melihat ada beruang kutub lain yang sakit dari pantauan udara," kata pakar kesehatan satwa liar di Institut Veteriner Norwegia, Dr. Knut Madslien, dilansir The Brussels Times.

Hasil uji laboratorium memastikan adanya virus HPAI H5N5 di jaringan otak kedua hewan yang mati tersebut, sekaligus menyingkirkan dugaan infeksi virus rabies. Petugas memperkirakan kedua hewan sudah mati cukup lama sebelum ditemukan, dan meyakini bahwa infeksi virus di otak ini menjadi penyebab utama kematian mereka.

2. Penyebaran virus ke mamalia di Kutub Utara

Penemuan ini menambah catatan kasus penyebaran virus flu burung pada mamalia di kawasan Arktik. Sebelumnya, virus H5N5 telah ditemukan pada burung laut liar di Svalbard pada 2022, walrus pada 2023, dan rubah Arktik pada 2025. Pola ini menunjukkan bahwa virus terus menyebar ke hewan selain burung di daerah yang dulunya minim risiko penyebaran penyakit lintas spesies.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa virus flu burung semakin sering ditemukan pada hewan menyusui di Eropa. Virus ini telah menyebar ke tempat baru seperti Arktik, yang bisa berdampak pada kelestarian satwa liar dan keseimbangan lingkungan hidup di sana," kata koordinator penanganan flu burung di Institut Veteriner Norwegia, Ragnhild Tønnessen, dilansir The Independent.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan ahli, terutama terhadap kelestarian beruang kutub yang jumlah populasinya saat ini sudah tergolong rentan dan terancam punah.

3. Risiko penularan ke manusia dan tindakan pencegahan

Meskipun virus flu burung pada dasarnya hanya menular antarburung, mutasi dan penemuan virus ini pada mamalia membuat banyak pihak lebih waspada. Institut Veteriner Norwegia menegaskan bahwa risiko penularan ke manusia saat ini masih sangat kecil. Namun, sebagai langkah pencegahan, warga diminta untuk tidak menyentuh langsung hewan yang tampak sakit atau sudah mati.

Menurut data Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), dari Januari 2025 hingga Maret 2026, sekitar 140 juta hewan tercatat mati atau dimusnahkan karena flu burung di hampir 70 negara. Guna mengantisipasi risiko yang lebih luas, Institut Veteriner Norwegia akan terus meneliti jenis virus HPAI ini untuk melihat apakah virus tersebut mulai terbiasa berkembang biak di dalam tubuh mamalia.

"Kita perlu memantau kondisi ini dengan teliti agar paham bagaimana perkembangan virusnya serta mencegah risiko yang mungkin terjadi," tambah Dr. Knut Madslien.

Pemerintah setempat kini telah menyediakan layanan pelaporan daring untuk memudahkan warga. Siapa saja yang menemukan hewan atau burung mati di wilayah Svalbard diimbau untuk segera melapor kepada petugas berwenang melalui sistem tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team